Senyum Lurah Matasan

Haris del Hakim

Sudah setahun Lurah Matasan menjabat kepala desa Berbeku. Ia seorang kepala desa yang baik bagi penduduk desanya. Hanya akhir-akhir ini saja punya kebiasaan aneh. Hampir seluruh waktunya habis untuk memancing di telaga desa.

Penduduk tidak tahu bagaimana kepala desa yang dipilih karena senyumnya yang indah dan berwibawa itu berubah mempunyai kebiasaan aneh. Memancing memang bukan pekerjaan aneh, tetapi tidak pantas seorang kepala desa yang harus bertanggungjawab atas nasib penduduk hanya ke telaga dan menunggu mata kail disambar ikan. Kalau penduduk sudah menikmati keadilan, kemakmuran, sentosa, atau gemah ripah loh jinawi tanpa keluh kesah, tentu tidak ada yang mempersoalkan apa kesenangan kepala desa. Sementara penduduk desa Berbeku masih jauh dari semua itu.

Ada yang tidak diketahui oleh penduduk. Bukan hanya mereka yang tidak tahu. Lurah Matasan sendiri juga tidak tahu apa tujuan dia mempunyai kebiasaan memancing. Setiap kali hendak berangkat mancing dia merasa bukan dirinya yang mempersiapkan umpan, tali senar, mata kail, perbekalan, dan keperluan lain. Ia merasa ada raksasa hitam yang selalu meneror dirinya. Raksasa yang hanya memiliki satu mata di sebelah kiri; mata sebelah kanan buta dan bagian putihnya berubah merah menyala-nyala. Lurah Matasan sadar ia sebagai obyek teror tapi secara mental ia bukan orang yang gagah seperti tubuhnya. Bagaimanapun raksasa hitam itu berperan besar mengantarkan dirinya ke kursi kepala desa. Dia penasehat sekaligus penyandang dana segala kebutuhan proses dirinya menjadi seorang kepala desa.

“Belajarlah tersenyum dengan indah,” kata raksasa hitam saat pertama kali timbul keinginan untuk menjadi kepala desa. “Tunjukkan dirimu sebagai seorang pemimpin yang ramah, simpatik, dan terbuka. Gunakan tanganmu untuk menunjukkan bahwa dirimu bukan seorang yang tertutup. Sekali lagi senyum yang indah dan mengesankan. Hanya senyuman yang indah dan bukan tertawa, karena seorang pemimpin yang banyak tertawa sudah kamu ketahui nasibnya.”

Lurah Matasan ke cermin. Ia belajar bagaimana cara tersenyum yang indah dan mengesankan. Kadang ia angkat pipinya tinggi-tinggi dan kadang menarik dagu. Kadang ia lebarkan tulang geraham. Kadang ia turunkan pipi. Setelah berkali-kali mencoba, ia temukan senyum yang benar-benar mempesona. “Saya tidak mau Mas Mat mengumbar senyum di depan wanita,” komentar istrinya cemburu. Dan Lurah Matasan merasakan sendiri betapa besar pengaruh senyum yang indah dan mengesankan.

Raksasa hitam bermata satu itu pula yang menyarankan agar dia bersahabat karib dengan Kiai Rokis, seorang tokoh agama desa Berbeku. Setahun sebelum pemilihan kepala desa, penduduk melihat betapa sering Kiai Rokis jalan bersama dengan Lurah Matasan. Sekali waktu mereka bicara tentang kondisi desa di warung, ziarah bersama ke pemakaman desa menjelang bulan puasa, atau duduk berdampingan dalam acara pernikahan. Meskipun tidak selalu di masjid, tetapi kedekatan mereka cukup membuktikan bahwa Lurah Matasan juga seorang yang agamis.

Semua nasehat itu tidak sia-sia. Pada saat pemilihan kepala desa, Lurah Matasan mendulang suara dan menang telak atas kedua musuhnya. Ia berhasil meraup 75% dari total suara. Raksasa hitam itu juga menyarankan agar dia segera menyorakkan kemenangan bila hitungan suara sudah 30% dan terlihat pulung berpihak padanya, namun ia harus cepat-cepat minta maaf pada saat hitungan suara sudah 75% dan ia tidak mungkin kalah dari musuhnya. Sorak kemenangan akan melemahkan mental calon kepala desa lain, sedangkan permintaan maaf menunjukkan penduduk tidak salah pilih. Kepala desa terpilih adalah seorang yang rendah hati, tidak segan mengaku salah, dan tidak mabuk dengan kemenangan.

Selama enam bulan pertama Lurah Matasan berperilaku wajar. Ke mana-mana ia mengumbar senyum yang indah dan mengesankan. Ia datangi setiap keluarga yang tertimpa kematian dan berusaha menghibur. Ia juga tidak segan-segan mengeluarkan uang dari sakunya untuk membantu Bu Sunami yang mendapat musibah, rumah bambunya roboh karena hujan deras semalaman. Kebaikan Lurah Matasan seperti itu membuat penduduk merasa memiliki seorang pemimpin yang menenteramkan hati.

Pada bulan ke sembilan muncul gelagat kurang baik. Raksasa hitam bermata satu mulai menunjukkan jatidiri dan kepentingannya menjadikan Lurah Matasan sebagai kepala desa. “Masukkan ke dalam penjara orang-orang yang berbahaya bagi kedudukanmu. Kalau mereka terlalu berbahaya jangan segan-segan untuk membunuhnya,” perintah raksasa hitam itu.

Lurah Matasan berusaha menolak, “Itu tidak mungkin!”
Raksasa hitam tidak berkomentar apa-apa.
Beberapa hari kemudian banyak warga desa Berbeku dipanggil ke kantor polisi dan dijebloskan ke dalam penjara. Lurah Matasan tidak berbuat apa-apa. Bahkan, ia hanya mengucapkan turut berbela sungkawa atas kematian Kang Syujak, salah satu guru terbaik di desa berbeku.

Suatu hari Lurah Matasan bertekad untuk protes kepada raksasa hitam bermata satu, tetapi raksasa hitam berhasil membuatnya tidak berkutik dengan pujian. “Bagus! Bagus sekali kerjamu. Kamu berhasil membuat penduduk desa Berbeku tidak percaya terhadap musuh-musuhmu. Tapi, kamu jangan sombong. Berkat tayangan televisi penduduk percaya bahwa penjara itu hanya bagi penjahat. Mereka sudah lupa dengan sejarah bahwa Bung Karno juga pernah dipenjara,” ujar raksasa menyeringai. “Sekarang kamu harus pandai bersandiwara. Buat penduduk desa percaya bahwa desa Berbeku dalam keadaan miskin dan kekurangan. Sementara di luar kamu nyatakan kekayaan desa sangat melimpah dan butuh orang-orang dari luar desa yang mau mengelolanya. Katakan bahwa penduduk desa Berbeku sudah sedemikian miskin dan dibayar berapapun mau asal cukup buat makan. Jangan lupa perintahkan penduduk berhemat. Katakan pada Kiai Rokis agar ia menyuruh penduduk sabar dan ikhlas menerima kenyataan. Katakan tanah desa sudah tidak baik untuk ditanami tanaman dan hanya cocok ditanami beton-beton. Masalah makanan, kalian bisa beli beras dan jagung dari luar negeri.”

Beberapa saat kemudian presiden mengeluarkan kebijakan hemat energi dan disusul harga BBM melambung tinggi. Sebagai kompensasinya pemerintah memberikan sumbangan uang tunai kepada penduduk yang dianggap miskin. Banyak penduduk yang tidak mendapat bagian, termasuk warga desa Berbeku. Mereka beramai-ramai menuntut ke rumah Lurah Matasan.

Penduduk mulai tidak percaya dengan senyum Lurah Matasan yang indah dan mengesankan. Berkali-kali Lurah Matasan menyatakan, “Ini kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama. Saya juga tidak tahu mengapa bisa begini.” Jawaban itu semakin membuat penduduk yakin bahwa Lurah Matasan benar-benar di luar kendali dirinya sendiri.

“Apa kabar, Mat?” tanya raksasa hitam.
Lurah Matasan tidak menjawab. Ia menatap titik hitam mata kiri raksasa yang dilingkari nyala api. Raksasa hitam itu membuka mulut lagi dan berbicara dengan suara rendah. “Kamu harus tahu diri, Mat. Siapa kamu sebelum kutemukan dan kujadikan sebagai kepala desa? Kamu bukan apa-apa dan siapa-siapa. Saat ini aku melihat kamu dalam keadaan tertekan, tapi kuakui kebesaran ambisimu sebagai kepala desa. Kamu masih bisa menunjukkan wajah tidak berdosamu kepada penduduk dan kamu masih percaya dengan senyummu yang indah. Karena itu, aku punya rencana yang luar biasa.”

***
Cahaya redup rembulan tidak mampu menerangi wajah Lurah Matasan. Hanya terlihat badan kekar dan tegap, rambut berminyak kelimis yang memantulkan cahaya rembulan, seperti cahaya rembulan yang terpantulkan oleh riak air telaga, dan tangan kukuh yang sesekali membenarkan posisi tangkai pancing yang terlalu doyong ke air. Hampir lima jam Lurah Matasan duduk menunggu umpan kailnya mendapat ikan. Ia menengok ke tas dari waring yang separuh bagian ditenggelamkan dalam air. Lima ekor mujair, tiga ekor nila, empat bader, dan seekor ikan betok berenang di dalamnya.

Tiba-tiba mata Lurah Matasan tidak berkedip. Ia mengulurkan tangan untuk meraih gagang pancing. Tali senar pancingnya diseret ke tengah. Dengan cepat Lurah Matasan menarik ke atas. Seekor ikan bader selebar tangan orang dewasa menggelepar-gelepar di udara. Ia luruskan gagang pancing ke atas agar ikan hasil pancingan lebih dekat diraih. Tangan kiri sudah bersiap-siap untuk mengambil, tiba-tiba dari belakang muncul raksasa bermata satu.

“Tunggu, Mat! Apakah kamu tidak ingin bermain-main?” tanya teman tidak diundang itu.

Lurah Matasan hendak berkata tidak, tapi mulutnya terkunci. Tubuhnya seperti beku. Tangan kiri masih belum juga berhasil menggapai ikan bader yang menggelepar.

“Turunkan, Mat!” perintah raksasa hitam.
Tangan kanan Lurah Matasan menurunkan gagang pancing. Ia melihat bagaimana ikan bader itu jatuh ke air dan seperti merayakan kebebasan, berenang sekuat tenaga, tapi mata kail telah tertelan ke tenggorokannya. Ikan besar itu hanya bisa berenang sejauh panjang senar pancing.

“Kamu lihat ikan itu masih hidup, kan?! Sekarang angkat ke atas!” perintah raksasa hitam untuk yang kedua kalinya.

Tangan kanan Lurah Matasan lagsung mengangkat gagang pancing. Ia melihat ikan bader itu menggelepar-gelepar di udara. Tubuhnya terayun ke kanan dan ke kiri. Sesekali mulutnya terbuka, seakan menyedot udara sekuat-kuatnya.
“Tenang saja, Mat. Ikan bader termasuk ikan yang kuat. Ia tidak akan mati.”

Ikan bader itu masih terus berusaha untuk menggelepar. Lama kelamaan tenaganya habis. Gerakannya semakin lemah.
“Segera turunkan, Mat!”

Tangan Lurah Matasan segera menurunkan gagang pancing. Nafasnya tersengal karena kaget mendapat perintah mendadak seperti itu. Ia melihat ikan bader masih bisa berenang, tapi tidak seberigas sebelumnya. Seperti seorang perenang pemula, tubuh putihnya sesekali timbul dan menyelam.

“Tenang, Mat. Ia masih hidup. Bukankah kita harus sabar sebagaimana kata Kiai Rokis?”

Setelah ikan bader itu berkali-kali timbul dan tenggelam, mengumpulkan tenaga yang terbuang di udara, akhirnya ia berhasil menyelam lebih lama. Gerakannya lebih keras meskipun tidak sekeras sebelum tersangkut kail. Tangan Lurah Matasan bisa merasakan getarannya. Ia hanya bisa merasakan, namun tidak berdaya untuk menghentikan permainan yang tidak dikehendakinya.

“Angkat, Mat! Ia sudah sehat,” perintah raksasa hitam kesekian kali.
Lurah Matasan mengangkat gagang pancing. Ia menyaksikan ikan berkulit putih itu menggelepar-gelepar di udara sambil membuka dan menutup mulut. Ekornya melambai ke kanan dan ke kiri seiring hentakan tubuhnya. Gerakannya pun perlahan-lahan melemah.

“Turunkan!”
Lurah Matasan menurunkan gagang pancing. Ikan bader itu sudah benar-benar kehabisan tenaga. Tubuhnya timbul di permukaan dan sama sekali tidak tenggelam. Sesekali saja mulutnya terbuka. Ikan bader itu telah mati.

“Rupanya, dia sudah mati. Kasihan sekali. Kamu harus mengucapkan bela sungkawa walaupun dia seekor ikan,” kata raksasa hitam memberi komando.

Lurah Matasan meraih dan melepaskan ikan bader dari mata kail sambil menitikkan air mata. Ia mengusapkan bahu ke pelupuk mata. Tepat saat memasukkan ikan bader mati itu ke dalam tas waring, tangisnya berubah sesenggukan. Ia tancapkan gagang pancing ke tanah kemudian mengambil sapu tangan dari saku baju. Ia mengusap air mata untuk ikan bader yang mati di mata kailnya.

“Cukup, Mat!” seru raksasa hitam. “Seorang kepala desa tidak boleh cengeng menghadapi keadaan, apalagi hanya untuk seekor ikan. Lebih baik kamu memancing lagi dan kita bisa bermain kembali.”

Tubuh kekar itu mengambil dan mencatutkan umpan ke mata kail kemudian ia lemparkan ke tengah telaga. Angin malam bertambah dingin. Pagi semakin dekat. Fajar pertama yang ditandai semburat kuning jingga di ufuk timur telah datang. Lurah Matasan menarik gagang pancing dengan cepat. Seekor ikan nila menggelepar-gelepar di udara. Sisik hitamnya memantulkan cahaya redup rembulan.

“Kamu benar-benar pemancing ulung, Mat!” puji raksasa bermata satu. “Sebentar lagi kamu harus pulang. Sebelum pulang, kita buat permainan yang paling bagus. Tarik ke atas setinggi-tingginya kemudian turunkan gagangmu serendah-rendahnya.”

Lurah Matasan melakukan seperti yang diperintahkan raksasa bermata satu. Ikan nila melayang tinggi ke udara kemudian gagang dihentakkan ke bawah dengan cepat. Bibir ikan nila tidak sekuat besi hingga sowak dan tertinggal di mata kail. Tubuhnya melayang ke atas kemudian jatuh sehasta dari tempat duduk Lurah Matasan. Lelaki setengah baya itu menghampiri hasil tangkapannya. Ia melihat darah dari mulut ikan nila. Ikan hitam itu tidak kuat menggerakkan tubuh dan hanya menggelepar-gelepar ke atas beberapa kali kemudian hanya mulutnya saja yang tertutup dan terbuka.

Lurah Matasan memperhatikan bibir ikan itu dan melihanya seperti menyaksikan bibirnya sendiri ketika menyunggingkan senyuman.
—-

Oktober 2005.
– waring merupakan jaring hitam yang mempunyai lebar mata jaring sepanjang 3 milimeter.
– bothekan adalah seruas bambu yang digunakan sebagai penyimpan air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *