Reposisi Sastra Indonesia

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Posisi sastra Indonesia kini sudah sedemikian terpuruk menjadi barang yang tidak relevan dalam konteks pendidikan. Sastra Indonesia sudah pailit. Anak-anak sekolah Indonesia hampir tak mendapat pelajaran sastra lagi. Dalam sebuah penyidikan informal, sastrawan Taufiq Ismail menemukan bahwa pelajar Indonesia membaca 0 (nol) buku di dalam kurun 3 tahun, sementara pelajar dari berbagai negara mencatat 10 sampai 30 buku. Continue reading “Reposisi Sastra Indonesia”

MENULIS DAN ASMA NADIA

Sutejo
Ponorogo Pos

Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: “Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah.” Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD. Continue reading “MENULIS DAN ASMA NADIA”

Sufisme dan Modernitas

Azyumardi Azra
http://www.republika.co.id

Apakah relevansi sufisme dengan modernitas? Mungkinkah sufisme bisa bertahan di tengah sikap kritis kalangan Muslim sendiri terhadap sufisme? Apakah sufisme dapat bertahan di tengah deru modernitas yang bertumpu pada rasionalitas dan efisiensi serta siap menggilas segala sesuatu dalam kehidupan yang tidak cocok dengan paradigma modernitas ini? Continue reading “Sufisme dan Modernitas”

9 Pertanyaan untuk Binhad Nurrohmat:

“Tubuhku adalah Kebudayaanku”
Sjifa Amori
jurnalnasional.com

KITAB puisi Binhad Nurrohmat, Kuda Ranjang (2004) dan Bau Betina (2007), marak diberitakan dan dipolemikkan di media massa. Penyair muda ini punya argumen logis dan menarik untuk menjelaskan karyanya yang berakar dari konsepsi trilogi tubuh. Setelah berdiskusi mengenai karya-karya penyair Afrizal Malna beberapa waktu lalu, Binhad juga memberikan waktunya untuk berbagi tentang dirinya kepada Jurnal Nasional. Berikut kutipan obrolan dengannya. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Binhad Nurrohmat:”

Propaganda Hitam

Komentar Pentas “Daerah Perbatasan” Teater Gapus

Mashuri

“Daerah Perbatasan” bukan terra incognita yang menyepikan kesadaran; bukan “perang posisi” antara the center dan the margin dalam kerangka pemikiran Gramsci; bukan pula “wilayah hitam nan kosong” tanpa entitas atau ranah-ranah tak terjangkau di bawah alam sadar manusia; “Daerah Perbatasan” berada dalam pergulatan arus kesadaran antara cita-cita dan mati. Sebuah tempat yang bisa menjadi akhir sekaligus awal dari perjalanan manusia dan masa depannya. Continue reading “Propaganda Hitam”

Bahasa ยป