Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 28 Agu 2005
… And what are poet for in a destitute time?
(Friedrich Hölderlin, dalam “Bread and Wine”)
Seorang penyair, suatu hari, dalam senyap perenungan di ambang lengang, bertahan diamuk khayalan tak terbayangkan, diombang-ambingkan waham tentang kefanaan dirinya dan keabadian puisi-puisinya, tentang kenyataan bagaimana dirinya punah dalam rengkuhan peristiwa dan sosokan laksa kata. Continue reading “Dunia Batin Sang Penyair”
