WACANA KEKUASAAN PERWAKILAN KEBENARAN

Haris del Hakim

Pendahuluan
Tulisan ini hanya sketsa ringan untuk mendekonstruksi wacana kita tentang ambisi kekuasaan yang mengatasnama-kan kebenaran (baca: dogma keagamaan) dan bagaimana mewujudkan dan mempertahankan cita-citanya tersebut. Seperti yang kita saksikan, pada saat ini muncul gerakan-gerakan yang mengatasnamakan kebenaran dan dengan itu merasa berhak melakukan berbagai macam tindakan untuk mewujudkan cita-citanya. Dan ternyata fenomena tersebut bukan hal yang baru di panggung sejarah panjang manusia ini.
Continue reading “WACANA KEKUASAAN PERWAKILAN KEBENARAN”

Sastra Tanpa Ideologi Menelanjangi Perselingkuhan Sastra dan Budaya

Mashuri

Pernyataan “Sastra Tanpa Ideologi; Menelanjangi Perselingkuhan Sastra dan Budaya” menyimpan dua hal yang perlu diungkai. Pertama, ‘Sastra Tanpa Ideologi’, yang menyaran pada satu justifikasi bahwa ada sastra berideologi, yang tentu saja bersifat ideologis, sehingga ‘perlu dirumuskan’ sastra tanpa ideologi. Dalam satu sisi, ideologi sebagai sebuah disiplin memang telah merambah berbagai segi kehidupan dan sudah jauh berkembang, juga menyusut, dari penggagas awalnya Destutt de Tracy. Di sisi lain, sastra tanpa ideologi memberikan begitu banyak kemungkinan ancangan gagasan yang bisa menempatkan sastra sebagai sebuah produk kemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanitas.
Continue reading “Sastra Tanpa Ideologi Menelanjangi Perselingkuhan Sastra dan Budaya”

Mataram: Kemenangan Mitos dan Kekalahan Realitas

Haris del Hakim

Mataram dan Sultan Agung
Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lain di Indonesia yang bersifat maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris. Kerajaan ini beribu kota di pedalaman Jawa dan banyak mendapat pengaruh kebudayaan Jawa Hindu, baik pada lingkungan keluarga raja maupun rakyat jelata. Pemerintahan kerajaan ini ditandai perebutan tahta dan perselisihan antara anggota keluarga yang diintervensi oleh Belanda.
Continue reading “Mataram: Kemenangan Mitos dan Kekalahan Realitas”

REVOLUSI DAN SAKIT GIGI

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=499

Saya ibaratkan reformasi dengan sakit perut, pembuangan demi pembersihan, pencucian. Sedangkan revolusi, menyerupai sakit gigi, proses di mana terjadi ketegangan syaraf-syaraf otak yang menyempitkan peredaran udara kebugaran. Sehingga menimbulkan tekanan-tekanan yang menarik rasa nyeri tidak tertahan. Yang berasal dari pengolahan bahan tidak seimbang, tidak bersih penuh kotoran dalam skala peta perpolitikan. Continue reading “REVOLUSI DAN SAKIT GIGI”

LUDRUK; KESENIAN DAN PERLAWANAN KAUM MARGINAL

Gugun El-Guyanie

Kemarin rakyat digemparkan dengan isu “reog Ponorogo” yang diklaim oleh Malasyia. Sekarang kita munculkan wacana seni ludruk yang sama-sama dari Jawa Timur sebagaimana Reog dilahirkan. Ini kita maknai sebagai suatu sikap kultural-apresiatif terhadap kekayaan warisan seni lokal di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekali lagi marilah mengangkat dengan hormat produk seni nenek moyang yang diinjak-injak anak cucunya sendiri. Juga mencintai dan merasa memiliki (sense of belonging) karya-karya tradisional yang dianggap kampungan (subaltern).
Continue reading “LUDRUK; KESENIAN DAN PERLAWANAN KAUM MARGINAL”

Bahasa »