KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (5)

Djoko Saryono *

/1/
Sesudah keterpesonaan Jawa, saya ingin mendedah atau menggali lebih dalam keterhanyutan ala Jawa dalam sastra. Hal ini sangat penting karena nilai keterpesonaan Jawa tidak dapat dipisahkan dengan nilai keterhanyutan. Bahkan dapat dikatakan, nilai keterhanyutan merupakan dimensi yang lebih subtil, sublim, dan spiritual daripada nilai keterpesonaan. Malah ia biasa disebut tahap estetis yang lebih tinggi. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (5)”

Persetujuan Penuh atas Interupsi Fransiscus Budi Hardiman

Yang Menginterupsi Goenawan Mohammad dan A.S Laksana
Imam Nawawi *

Tanpa perlu basabasi lagi, saya, Imam Nawawi, santri dari Madura, menyatakan tertarik dengan tiga persoalan yang ditawarkan oleh F. Budi Hardiman. Pernyataan “agama dan sains kerap dihadap-hadapkan. Itu tidak realistis” itu benar adanya, dan secara historis, sejarah perkembangan agama saya, Islam, adalah kolaborasi penuh antara agama dan sains. Siapa yang mau menolak aliran teologi Asy’arian, pengikut Abul Hasan al-Asy’ari, sangat lengket dengan atomisme? Continue reading “Persetujuan Penuh atas Interupsi Fransiscus Budi Hardiman”

Saintisme dan Momok-momok Lain:

Interupsi untuk Goenawan Mohammad dan A.S. Laksana

F. Budi Hardiman

Goenawan Mohamad (selanjutnya GM) dan A.S. Laksana (selanjutnya ASL) berdebat di Facebook. Dibanding perdebatan politis di TV yang kerap tidak lebih dari hembus angin, perdebatan tertulis mereka punya mutu yang merangsang nalar. Belum banyak yang mereka gali. Mereka berselisih sikap atas sains. Tapi sayang sekali, mereka bertarung tanpa membedakan kancah mereka. Kedua penulis berdebat dalam area-area yang berbeda dalam diskusi sains. Continue reading “Saintisme dan Momok-momok Lain:”

KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (4)

Djoko Saryono *

/1/
Saya ingin mengeksplorasi lebih jauh perihal keterpesonaan sebagai koordinat nilai normatif estetika Jawa yang notabene merupakan estetika keselarasan-keseimbangan. Nilai keterpesonaan manusia Jawa di sini berkenaan ketertarikan, keterpikatan, dan bahkan keterpanaan rasa manusia Jawa tatkala berhubungan dan bertemu dengan sesuatu yang distilisasi dan diidealisasi yang disebut kesenian Jawa sehingga dirinya mengalami keadaan luluh atau lebur ke dalam keindahan dan keelokan. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (4)”

Bahasa »