Sastra Jungkir Balik

Bandung Mawardi *
Koran Sindo, 3/9/2017

Sejak puluhan tahun silam, Budi Darma lazim menganggap sastra itu jungkir balik. Segala anutan gampang berubah, dan berkebalikan saat tersaji di cerita.

Imajinasi memungkinkan peruntuhan ketetapan atau kebakuan, mengajak pembaca bergerak di batas ragu, kejutan, dan keliaran. Sastra menghindari keabsolutan, bermaksud memungkinkan pengarang dan pembaca bergerak ke situasi, dan hal terjauh. Buku kumpulan cerita berjudul Kritikus Adinan sejenak mengundang pembaca berkenan masuk ke jagat jungkir balik gubahan Budi Darma. Continue reading “Sastra Jungkir Balik”

Kritik Puisi “Tebak Siapa Saya” karya Sainul Hermawan

Anugrah Gio Pratama

Puisi berjudul “Tebak Siapa Saya” karya Sainul Hermawan, terhimpun dalam buku kumpulan puisi, dan cerpen berlabel “Mata untuk Mama.” Buku tersebut diterbitkan tahun 2009, oleh salah satu penerbit di Banjarbaru, Scripta Cendikia. Dalam buku ini memuat kurang-lebih 21 puisi, dan 14 judul cerpen. Prolog bukunya, ditulis Aprinus Salam, seorang sastrawan sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), sedang epilognya M. Faizi, penyair yang berasal dari pulau Madura. Continue reading “Kritik Puisi “Tebak Siapa Saya” karya Sainul Hermawan”

Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini

Wiratmo Soekito

Dengan pemikiran sastra bukan puisi, novel ataupun sudah tentu yang kita maksud cerpen, tetapi lebih berkenaan dengan kritik dalam berbagai bentuknya, atau dengan sendirinya tidak masuk dalam kategori seni. Sebab seni itu tidak menguraikan, melainkan menyatakan, sehingga seni itu tidak memerlukan argumen atau alasan. Seorang seniman menurut hemat kita boleh tidak logis, malahan seorang seniman dalam menyatakan seninya boleh “sinting” atau “gila”. Continue reading “Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini”