BAYANGAN DAN KENYATAAN BEDAH BUKU DI PDS H.B. JASSIN

I. Membayangkan Bedah Buku MMKI di PDS H.B. Jassin
Nurel Javissyarqi (i)

Saya tak menyangka kalau buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” bakal dibedah di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Jangan-jangan ini lamunan saja, karena kebetulan tengah baca ulang buku susunannya Paus Sastra Indonesia tersebut yang bertitel “Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi” (Grafiti, 1995), tentunya lagi berseberangan. Bayangan ini menjulur pada peristiwa lampau “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta,” karena lupa tanggal bulan tahun kejadiannya, saya telusuri di google, dimulai Jam 20.00 tanggal 28 Mei 2003 di Auditorium IAIN SuKa (UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta. Baca selengkapnya “BAYANGAN DAN KENYATAAN BEDAH BUKU DI PDS H.B. JASSIN”

Membaca Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia:


Membaca Subyektivitas (Nurel) atas Subyektivitas (Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri)
Siwi Dwi Saputro *

Telah hadir buku Esai (mungkin kritik juga) yg berjudul Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia yang ditulis oleh Nurel Javissyarqi. Buku setebal 500 halaman ini semakin mengukuhkan pandangan bahwa kritik sastra itu merupakan karya kreatif juga.

Sastrawan menafsirkan hidup dan lalu menuliskan ke dalam karya sastra. Kritikus sastra menafsirkan karya sastra dan lalu menuliskannya dalam bentuk kritik sastra.
Jadilah kritik sastra sebagai karya re-kreasi. Kreasi atas kreasi, tafsir atas tafsir. Baca selengkapnya “Membaca Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia:”

Ketika Sastra Indonesia Diijon

Ahda Imran
pikiran-rakyat.com 13 Mar 2018

DALAM catatannya Facebook-nya (4 Februari 2018), Soni Farid Maulana ada menyebut ihwal kagaduhan setelah terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh (2014). Buku yang salah satu pangkal kegaduhannya adalah munculnya nama Denny JA (DJA) sebagai salah seorang tokoh, karena puisi esai ”temuannya” yang dianggap jadi fenomena sastra. Baca selengkapnya “Ketika Sastra Indonesia Diijon”

Membaca Sebuah Usaha Kilas Baca “Usaha Mencintai Hujan” Karya R. Giryadi

Anjrah Lelono Broto *

Adalah sebuah keberkahan tiada terkira ketika seorang Andhi Setyo Wibowo (CEO Boenga Ketjil) mengontak saya untuk menjadi pengulas buku kumpulan puisi “Usaha Mencintai Hujan” karya R. Giryadi. Keberkahan tersebut tentu saja mengarah pada sang pengarangnya. Bagi insan seni kebudayaan di Jawa Timur, nama R. Giryadi tentu saja bukanlah nama yang asing. Penyair, dramawan, penulis lakon, cerpenis, jurnalis, dan sederet atribut ciamik lainnya melekat pada diri pria kelahiran Blitar yang sekarang bermukim di Sidoarjo dan akrab dengan panggilan “Lik Gir” ini. Sungguh, adalah sebuah keberkahan karena apalah artinya apa yang saya miliki dibandingkan dengan ilmu serta pengalaman beliau yang telah malang melintang di blantika perkesenian-perkebudayaan di Jawa Timur, Indonesia. Baca selengkapnya “Membaca Sebuah Usaha Kilas Baca “Usaha Mencintai Hujan” Karya R. Giryadi”

Membaca Pulau Tanpa Cinta Karya Jasni Matlani

Sunu Wasono *
sman1bojong-tegal.sch.id

Sebuah novel ditulis sastrawan untuk tujuan tertentu: mengekspresikan diri (penulis), menghibur pembaca, mempropagandakan (program, ideologi), mengkritik lembaga, mengkritik (tingkah laku) penguasa (yang korup, tamak, bengis, otoriter). Dengan tujuan apa pun, karya sastra pada dasarnya membutuhkan pembaca. Oleh karena itu, hampir tidak ada seorang sastrawan yang menulis hanya untuk diri-sendiri. Baca selengkapnya “Membaca Pulau Tanpa Cinta Karya Jasni Matlani”

Guru Tanpa Literasi?

Sutejo

Suatu hari, datanglah 4 orang guru ke rumah (tiga orang dari Bojonegoro dan seorang lagi dari Magetan), kemudian bercerita tentang pengalamannya berliterasi. Pertama, seorang guru Fisika ketika “meminjam” tulisan Yohanes Surya langsung diganti nama dirinya, kemudian menimbulkan masalah, bahkan harus “mempertanggungjawabkan” kesilapan akademiknya itu. Beliau dengan jujur mengakui kalau mengambil tulisan itu dan mengganti nama dirinya, tanpa mengerti bagaimana akibatnya. Ketika di Surabaya, sampai diminta untuk menandatangani pernyataan bermaterai untuk tidak mengulangi. Baca selengkapnya “Guru Tanpa Literasi?”

USAHA MENCINTAI HUJAN RAHMAT GIRYADI

; refleksi SelaSastra #11
Khoshshol Fairuz *

Tidak banyak orang mengerti tentang dunia perpuisian, termasuk saya yang waktu itu secara sepihak ditugasi menjadi moderator dalam bincang buku terbaru Rakhmat Giryadi atau lebih akrab dipanggil Lik Gir: Usaha Mencintai Hujan. Hanya karena rasa pengin tahu yang besar, saya manut saja dan berangkat menuju Boenga Ketjil milik Mas Andhi Kepix. Sesuai namanya, SelaSastra juga dilaksanakan pada hari selasa (6/12/2016). Hadir dalam bincang sastra sang pengulas Mas Anjrah Lelono Broto yang sudah dahulu menempati lesehan, para pegiat sastra Jombang dan penyair-penyair Mojokerto. Acara dimulai pukul 20:00 diawali dengan engkel-engkelan soal siapa dulu yang membuka, dan secara simbolik Mas Andhi Kepix menyampaikan pembukaan dengan mengucapkan salam dilanjutkan dengan penyatuan persepsi ala saya. Baca selengkapnya “USAHA MENCINTAI HUJAN RAHMAT GIRYADI”