Afrizal dan Puisi Peristiwa

Geger Riyanto *
Kompas,10 Mar 2013

Artikel Bandung Mawardi di Kompas (3/2) menarik untuk memicu diskusi tentang puisi Afrizal Malna. Sayangnya, tulisan itu sendiri berhenti setelah meraba bahwa ada recik gambaran kenyataan urban dalam karyanya, tak membawa kita lebih jauh dari pembacaan yang nyaris sama tuanya dengan usia kepenyairan Afrizal sendiri. Continue reading “Afrizal dan Puisi Peristiwa”

Menulislah untuk Mengubah Diri

Sutejo

“Tulisan itu cermin hati. Kata-kata adalah telaga. Karya itu mahkota rasa” (Sutejo)
Perahu kepenulisan tak pernah akan melawan samudera kehidupan tetapi hanyut lembut untuk menyadarkannya. (Kang Supi)
***

Usai presentasi Rabu lalu (19/2) di Mojokerto (tepatnya di XOA Resto), ada sejumlah pertanyaan dari peserta workshop begini: (i) Kala berlatih bersama para guru untuk menuliskan pengalaman, dia mampu menyelesaikan, tetapi saat di rumah mengapa kemudian macet; (ii) Apakah menulis itu membutuhkan reseach; (iii) Bagaimana cara menulis yang “kuat”; (iv) Bagaimana menulis karya yang “awet”; (v) Continue reading “Menulislah untuk Mengubah Diri”

Merayakan Ruang Perjumpaan

Adhi Pandoyo

“Ketika saya melihat seni patung India, saya amat takjub dan kagum sebab hasil seninya langsung berkesan pada saya. Tapi bila saya melihat sesuatu hasil Eropa yang baik, kesan yang pertama saya terima ialah tehniknya. Ambillah sebagai contoh seni pahat Rodin. Kesan saya ialah betapa pintarnya ia, betapa reel dan naturalistisnya ia menguasai bentuk. Tapi bila semua hal-hal tersebut saya lupakan, barulah terlihat oleh saya isi seninya. Jadi untuk mengerti ketinggian nilai seni Rodin sangat lama makan waktu, sedang pada seni India, impresi itu demikian besarnya, hingga bagi saya tak ada waktu untuk melihat kepintaran dalam soal-soal bentuk atau hal-hal lain.” (Ceramah Affandi di Sorbonne, Perancis, 1953). Continue reading “Merayakan Ruang Perjumpaan”

Koreografi dari Ambang Batas Tari

Afrizal Malna

Sebuah percakapan kecil, gerak-gerak kecil, terputus, ragu, gerak diulang kembali, merupakan adegan-adegan pembuka pertunjukan tari Ruang Abu-Abu karya Sekar Alit dari Surabaya. Lalu seorang penari perempuan, yang dimainkan sendiri oleh Sekar Alit, menyanyikan sebuah lagu cinta yang juga penuh keraguan. Sebuah koreografi yang mulai ditempatkan di atas ambang batas tari dengan yang bukan tari. Tari tidak lagi melulu diperlakukan sebagai sebuah kesatuan gerak, tetapi juga sebagai instalasi gerak dengan struktur yang tidak saling mengikat. Continue reading “Koreografi dari Ambang Batas Tari”