LINGKUNGAN HIDUP DALAM SASTRA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Konon, lapisan ozon kini makin menipis. Tanpa lapisan itu, manusia segera akan tertimpa penyakit kanker kulit, katarak mata, dan berbagai penyakit lain. Panas bumi juga akan meningkat. Jika itu terjadi maka Singapura, akan tinggal sebagai negara yang pernah ada dan kini berada di dasar laut. Sebagian besar Jakarta tenggelam karena mencairnya es di kutub Utara dan Selatan. Jagat raya tinggal menunggu kehancurannya. Pemanfaatan, eksplorasi, dan eksploitasi alam secara tak terkendali mempercepat proses penghancuran planet bumi ini. Continue reading “LINGKUNGAN HIDUP DALAM SASTRA”

Puisi Indonesia dalam Tiga Ihwal

Riki Dhamparan Putra *
cetak.kompas.com

“…musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair.”
Pablo Neruda, 1971

Tiga ihwal telah mendominasi panggung wacana dan memengaruhi perilaku bersastra kita sejak lama. Pertama: ajeg lokal, kedua: pornografi, dan ketiga: akrobat bahasa. Ajeg lokal adalah istilah yang saya lokalkan dari istilah yang sekarang sedang populer: lokalitas. Continue reading “Puisi Indonesia dalam Tiga Ihwal”

Penyair dan Puisi Sufi

H. Usep Romli H.M.
http://www.pikiran-rakyat.com/

Penyair sufi dan puisi sufistik, merupakan bagian tak terpisahkan dari khasanah kekayaan literatur Islam, sejak abad pertama Hijrah, hingga masa sekarang ini. Walaupun sufisme (paham sufi), masih tetap merupakan kontradiksi dan khilaf (pertentangan) di kalangan para pemikir Islam itu sendiri. Nama-nama ulama besar seperti Abdurahman al Jauzi (abad ke-9 M), Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim al Jauziyah (abad ke-13 M), dan banyak lagi pengikutnya, berada di garis terdepan dalam menentang sufisme, yang mereka anggap pantheistik yang merusak sendi-sendi tauhid. Serta pengabaian tata cara ibadah ritual (hablum minallahi), baik waktu maupun cara. Continue reading “Penyair dan Puisi Sufi”

Sudah Saatnya Ada : Mubes Masyarakat Sastra di Minang

Fadlillah Malin Sutan Kayo*
http://www.padangekspres.co.id/

Pemerintah Sumatera Barat jelas memempunyai peran besar di dalam politik kebudayaan dan politik pendidikan. Selayaknya pemerintah mengubah blue print, atau paradigma, mind set, bahasa Minangnya ?aleh bakua? (istilah Wisran Hadi), yakni ale bakua yang mementingkan benda dari pada jiwa, mementingkan eksak dan teknologi daripada sastrabudaya, mementingkan tubuh daripada roh, bahasa ustadnya; mementingkan dunia daripada akhirat. Sudah selayaknya aleh bakua ini dirubah yakni sama-sama dipentingkan jiwa dengan tubuh. Perubahan ale bakua ini selayaknya dilakukan di segala bidang. Jangan anak tirikan juga sastra budaya. Continue reading “Sudah Saatnya Ada : Mubes Masyarakat Sastra di Minang”

PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN

Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi

Maman S. Mahayana *

Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu. Continue reading “PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN”

Bahasa ยป