Ziarah Budaya Itu Bernama Mudik

Nur Faizah*
Tempo, 1 Okto 2008

Fenomena mudik adalah budaya khas setiap tahun masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri, yang populer dengan sebutan Lebaran. Secara sosiologis, mudik merupakan ajang tamasya budaya dan dalam berbagai sisi memunculkan sirkulasi tata kehidupan. Dalam pelbagai bentuknya, migrasi besar-besaran yang ditimbulkan akibat mudik selalu melahirkan dilema dan problema sosial yang silang sengkarut. Kebiasaan rehat dari kesibukan keseharian bagi orang-orang kota dengan cara menikmati suasana kampung halaman amat membantu mereka mempersegar etos kerja. Continue reading “Ziarah Budaya Itu Bernama Mudik”

Blok-Blok Dalam Kepenyairan: Pengkhianatan Terhadap Humanisme

Zelfeni Wimra
padangekspres.co.id

Penyair Muda Versus Penyair Tua

Pada kisaran tahun 2005, sekumpulan penyair muda dari Jawa Barat dan Bali berembuk soal bagaimana menciptakan wadah berhimpun dan berdialektika dalam proses kreatif kepenyairan di Indonesia. Latar pemberangkatan mereka adalah kondisi ruang komunikasi dan kreasi penyair “muda” tidak memiliki ruang yang menggembirakan. Para penyair “tua” dipandang masih memerankan hegemoni, cenderung sentralistik dan memainkan standarisasi yang mengekang ruang ekspresi bagi yang muda. Continue reading “Blok-Blok Dalam Kepenyairan: Pengkhianatan Terhadap Humanisme”

Meneropong Perpuisian Indonesia

(Dengan Kaca Pembesar)

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

?Tidak ada lagi penyair, kecuali yang ikut dalam event ini,? ungkap seorang penyair di tengah sebuah ajang biennale sastra internasional di Indonesia, beberapa tahun silam. Ungkapan yang mengagetkan di tengah ingar-bingar pesta sastra, khususnya puisi. Benarkah, setiap ajang lantas mencetak penyair dan menggagalkan proses kreatif plus karya penyair lainnya yang tidak ikut. Alias penyair yang berada di daerah, alias pinggiran, kemudian tak pantas terdaftar di dalam sejarah itu? Continue reading “Meneropong Perpuisian Indonesia”

Gaya Barok pada Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Pada dasa warsa akhir abad XX dan hingga kini, kiranya terjadi perubahan konsepsi dalam perwujudan puisi-puisi Indonesia. Kekangan spirit eksistensial yang mengambil bentuk Simbolis bukan lagi menjadi pilihan yang menarik. Model-model semacam puisi Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Taufik Ismail serasa ketinggalan zaman. Maka muncullah nama-nama penyair seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Sitok Srengenge, HU Mardi Luhung, Arief B. Prasetyo, W. Haryanto, Adi Wicaksono, Oka Rusmini. Puisi-puisi merekalah yang menciptakan masa silam bagi kepenyairan terdahulu. Continue reading “Gaya Barok pada Puisi Indonesia”

Bahasa ยป