Menelisik Jejak Kesusastraan Indonesia

Judul : Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca sebelum Dikuburkan
Penulis : An. Ismanto dkk.
Penerbit: I : Boekoe, Yogyakarta
Cetakan : 1, 2009
Tebal : 1001 hlm
Peresensi : Halimatus Sa’diyah*
http://www.lampungpost.com/

TIDAK mudah menelisik jejak kesusastraan Indonesia, dari era pra-kemerdekaan, kolonial, hingga sekarang era sastra kontemporer. Inilah yang dirasakan oleh An. Ismanto dkk. dalam upaya pengumpulan berbagai buku sastra yang patut disajikan untuk khalayak. Continue reading “Menelisik Jejak Kesusastraan Indonesia”

Sakaw

Marniati Murtaba
kendaripos.co.id

Alam pikiranku dipenuhi kabut. Aku pun tak sanggup memastikan asal-muasal kehadirannya. Ia memenuhi ruang bawah sadarku. Kucoba menerjemahkan setiap kata yang terbesit dalam alam pikiranku. Coba-coba, ya? kata itulah yang selalu hadir di ruang hatiku.

Berita dari televisi tentang penangkapan korban sabu-sabu kemarin begitu menyita pikiranku. Setiap detik yang kulalui adalah gelisah dan penasaran yang meletup-letup. Kutatap dinding loteng yang juga dinding kamarku, kamar tempatku berbagi suka dan duka. Continue reading “Sakaw”

Merah Hujan Senja

La Ode Gusman Nasiru
kendaripos.co.id

Siang ini hujan kembali mencuci kulit bumi tanah Wolio. Deru jarumnya lentik mencucuk remah-remah tanah yang pecah menganga menunggu air mengaliri labirin pada tiap lekuk. Di cucur atap, kuhayati tiap tumpah air mata langit tempias melubangi tanah dan menciptakan genangan. Sesekali, di pekat mendung itu terpecah konfigurasi petir sambar-menyambar membunga merobek langit. Dan guruh seolah hendak meruntuhkan pekat gulali awan di punggung bumi. Continue reading “Merah Hujan Senja”

Seperti Matahari…

Nita Gracia Dars Hats
kendaripos.co.id

Seperti biasa, sore ini aku duduk-duduk santai di teras rumahku, sambil mendengarkan lagu dari radio kecilku ditemani secangkir teh hangat. Ya, inilah yang sering kulakukan di hari-hari tuaku. Aku tersenyum tatkala melihat beberapa anak kecil dengan riang bermain di halaman rumahku. Wajah-wajah polos itu terlihat sangat bahagia bermain bersama, walau hanya dengan mainan sederhana seperti kelereng. Perlahan tanganku yang mulai keriput meraih cangkir teh di meja, lalu menyodorkannya ke bibirku. Aku meneguk teh itu dengan penuh nikmat dan damai. Kemudian, mataku terpejam menghayati bait-bait lagu populer masa kini dari radio kecilku yang mulai ketinggalan zaman, sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu. Continue reading “Seperti Matahari…”

Simfoni Jingga

Nini Maryana R. Sari Dewi
kendaripos.co.id

Aku tak ingin disalahkan atas segala peristiwa yang menimpaku ini. Ya Tuhan, apa aku tengah sekarat? Di mana sebenarnya aku tengah berpijak kini? Surgakah? Nerakakah? Ataukah mungkin bukan keduanya? Ya Tuhan, betapa tersiksanya rasa ini. Ya Tuhan, apakah sekarang Engkau tengah tersenyum melihat deritaku? Ataukah Engkau tengah mencaci maki karena segala kebodohanku di masa lalu? Ya Tuhan, aku yakin Engkau tengah mengawasiku. Saat ini, hanya Engkau yang kuandalkan untuk menolongku. Continue reading “Simfoni Jingga”

Bahasa ยป