Omar Khayyam, Sang Jenius dari Iran

Vien Dimyati
http://www.jurnalnasional.com/

SOSOK Omar Khayyam dalam khazanah sastra Timur Tengah merupakan satu nama dari sekian banyak sastrawan klasik yang paling banyak dikenal. Ia memiliki keahlian dalam menuliskan bait-bait puisi. Bahkan, ia memiliki karya monumental: Rubaiyat.

Nama lengkapnya: Ghiyath al-Din Abu’l-Fath Umar ibn Ibrahim Al-Nisaburi al-Khayyami. Ia lahir di Khorassan, Iran, pada pertengahan abad ke-11. Keadaanlah yang membuatnya mampu mendayagunakan segala potensinya. Peristiwa-peristiwa politik pada masa itu memainkan peran penting dalam kehidupannya. Continue reading “Omar Khayyam, Sang Jenius dari Iran”

Sengatan Pemikiran Fazlur Rahman

Budi Winarno
http://www.jurnalnasional.com/

DALAM sejarah pemikiran Islam, Pakistan merupakan sebuah kawah yang melahirkan banyak pemikir hebat. Pengertian Pakistan di sini adalah termasuk India karena sebelum merdeka pada 15 Agustus 1947, negara ini menjadi bagian dari India. Pengertian “hebat” di sini adalah respons dan publikasinya yang luar biasa luas.

Muhammad Iqbal adalah salah satu contoh. Pemikiran Iqbal dinilai orisinal namun juga kontroversial karena sarat kritik. Iqbal banyak menyoroti eksistensi kemusliman. Continue reading “Sengatan Pemikiran Fazlur Rahman”

Pertemuan di Garis Pembatas

F. Moses
http://www.lampungpost.com/

Ia dan Aku, Suatu Ketika

AKU ingin kau tahu, sebab ini kali pertama aku mengetahuinya. Pertama ketika pernah tersergap oleh pesonanya. Tak apa. Meski demikian, toh, aku tak beringkar dalam pikir karena gelagatnya yang ingin selalu mengubah apa yang diinginkannya.

Sebab, sesekali pula selalu terpikir hingga terasa olehku: betapa kepesonaannya itu masih membekas kemudian selalu menempel menjadi ingatan. Terlebih karena merdu suaranya pada tiap kali dirinya ingin mengubah apa yang diinginkannya untuk dijadikan segala sesuatunya berubah. Apakah itu? Continue reading “Pertemuan di Garis Pembatas”

Buah Api

Syahreza Faisal
http://www.lampungpost.com/

MALAM itu, entah angin apa yang membuat dingin menjalar kengerian lagi. Rumahku terasa begitu sepi. Sebelum akhirnya aku lihat ibu keluar dari kamar. Rupanya bapak baru pulang, ia menggedor pintu begitu keras. Tubuh bapak begitu melangkahkan kakinya masuk meruapkan bau keringat. Disusul alkohol membubung ke segala penjuru ruang. Juga masuk ke kamarku. Aku lihat mengintip dari sebilah pintu, kubuka sedikit perlahan. Mata bapak merah. Wajahnya legam kusam. Perut buncit dan kedua tangan kasar, mendorong tubuh ibu. Hingga mundur beberapa langkah. Ibu masih mengenakan mukena pada saat itu, beres ngaos. Tapi ibu malah diam. Pasrah. Bapak menggelengkan kepalanya, pusing karena mabuk berat. Kalah judi dan pasti, ditipu teman-temannya. Continue reading “Buah Api”

Bahasa ยป