Zelfeni Wimra
http://www.jawapos.com/
Datanglah bermalam sesekali. Di sebelah tempat tidurku, bersisian dengan jendela, ada dipan bambu. Kau boleh tidur di situ. Maafkan, kapas kasurnya sudah tipis dan dingin. Biasanya, bapak yang tidur di sana. Tapi sejak tiga hari yang lalu bapak tidak lagi di sini. Ia kuminta pergi mencarikan obat untukku.
Kau juga boleh mengeping kayu dan membakarnya di tungku. Memasak nasi atau merebus air. Bikinlah kopi, baca buku, atau mendengarkan radio. Kalau tengah malam, ketika uir-uir berhenti bernyanyi dan udara seperti letih menggendong cuaca, jangan tercengang, kau mungkin akan dikejutkan oleh gaduh suara dari tengah rimba. Continue reading “Di Atas Dipan Penantian”
