Di Atas Dipan Penantian

Zelfeni Wimra
http://www.jawapos.com/

Datanglah bermalam sesekali. Di sebelah tempat tidurku, bersisian dengan jendela, ada dipan bambu. Kau boleh tidur di situ. Maafkan, kapas kasurnya sudah tipis dan dingin. Biasanya, bapak yang tidur di sana. Tapi sejak tiga hari yang lalu bapak tidak lagi di sini. Ia kuminta pergi mencarikan obat untukku.

Kau juga boleh mengeping kayu dan membakarnya di tungku. Memasak nasi atau merebus air. Bikinlah kopi, baca buku, atau mendengarkan radio. Kalau tengah malam, ketika uir-uir berhenti bernyanyi dan udara seperti letih menggendong cuaca, jangan tercengang, kau mungkin akan dikejutkan oleh gaduh suara dari tengah rimba.

Seperti suara aneka satwa yang bersengketa; gelegar pohon tumbang disertai deru anak sungai menuruni lembah. Akan ada saja pekik aneh yang melengking tinggi. Berulang-ulang hingga yang terdengar hanya desis angin meningkahi malam beranjak jadi pagi. Siul daun-daun pinus dan gemericik air pematang di pinggir sawah. Sesekali, mungkin ada juga beruang menyalak, kepakan sayap burung-burung malam.

Ketika bapak masih di sini, aku justru lebih suka mendengar dengkurannya yang berpacu lirih dengan sesuara dari tengah rimba itu. Seakan mengajariku sebuah pemahaman, bahwa laki-laki tampak tangguh ketika ia tidur dalam kelelahan.

Jadi, jangan tercengang. Apalagi merasa pilu. Lewatilah malam sambil mengakrabi suara-suara aneh dari tengah rimba itu. Sebab, setelah ufuk timur memijar merah, seperti ada yang tersembur dari perut bumi, pendengaranmu akan dimanjakan oleh dendang burung-burung. Lalu, sentuhan hangat matahari akan menuntunmu mencari mata air untuk berkumur dan mencuci muka.

Berjalanlah terus ke ceruk lembah. Rasakan tusukan dingin dari sisa embun di ujung rumputan. Percayalah, nyanyian burung-burung mungil di pelepah salak bisa membuatmu lupa pada peluit kereta yang memberangkatkanmu dari kota. Lupa pada sirene patroli, hiruk-pikuk kendaraan bermotor; pada dentum karung-karung di pelabuhan atau pada gemerlap kembang api dalam pesta dansa yang meriah.

Kalau kau ke sini lima tahun lalu, sebelum para tetanggaku memutuskan untuk angkat kaki dari sini, kau masih bisa bertemu dengan suasana pagi yang dimeriahkan tangis bayi dan anak-anak yang berkelahi. Juga cengkrama para ibu di tepian mandi dan gelegar tawa bapak-bapak menjelang pergi memanen kopi.

Sekarang tidak begitu lagi keadaannya. Tinggal di sini benar-benar masuk ke dalam kesendirian. Hanya kadang-kadang, pada waktu yang tidak bisa ditentukan, kelompok pecinta alam datang ke sini. Tapi, hanya untuk singgah, menangkap satwa, memungut tumbuhan langka, makan-makan, dan bercinta dalam tenda. Biasanya begitu. Mereka ke sini bersama pasangan masing-masing. Semakin jelas saja bahwa setiap orang takut sendiri. Takut pada sunyi.

Aduh. Lagi-lagi kesunyian. Sesuatu yang tak mampu kutuntaskan. Terutama sejak bapak pergi menggiring kerbau yang biasa digunakannya untuk membajak sawah ke pasar ternak. Kerbau itu dijual bapak untuk membeli obat yang kuminta. O, iya, bapakku dulu seorang tukang bajak. Menerima upah dari pekerjaannnya. Kalau kau pernah main-main ke sawah dan melihat seorang menggelandang kerbau dengan pasangan bajak di kuduknya, kau tentu tahu seperti apa pekerjaan bapakku.

Tapi, aku belum percaya kau pernah melihat seperti apa kaki seorang tukang bajak. Baik, aku beri tahu. Sepasang kaki itu kurus, kukunya kecokelatan dan bulu-bulu yang tumbuh di betisnya sangat jarang, karena sering dibalut lumpur. Bagiku, kaki seperti itu sungguh agung. Setiap kali melihatnya, aku bagai diseret dan dipukul oleh sebuah tenaga yang mengajakku berlari membelah belantara. Sayangnya, itu yang tidak bisa lagi kulakukan.

Aku beri tahukan pula, tempatku ini dahulu adalah perkampungan puluhan petani. Ada sekitar lima rumah beratap seng. Tiga atau empat gubuk beratap ilalang dan ijuk. Di sebelah barat, tepatnya di tumpuan pohon kubang yang selalu bermata air, berdiri kokoh sebuah surau. Di sana aku dan kawan-kawan belajar membaca kitab suci dan anak bujang berlatih jurus-jurus silat dari seorang guru yang biasa kami panggil dengan sebutan Mak Misa. Sekarang, semuanya telah membangkai.

Sejak hasil tani, seperti cengkeh, kulit manis, gula aren, kopi, bahkan padi tidak lagi mampu melunasi tuntutan lambung anak istri, para petani itu memilih jalan lain: tinggalkan lembah ini. Satu per satu mereka pergi. Betapa pun sakitnya ditinggalkan, tanah ini atau siapa saja yang hidup di sini, semestinya memang harus tahu diri. Tanah di sini hanya menyuburkan kacang-kacangan, ketela atau keladi. Selebihnya jagung dan padi. Tanah ini tak berminyak. Bebatuan yang bergelimpangan di bukit-bukitnya tidak mengandung batu bara, kapur, biji besi, atau emas. Tanah ini hanya ceruk segunduk bukit yang di tengah-tengahnya terdapat sedikit cekungan dan di cekungan itu dibuat sawah-sawah lalu di tepinya berdiri rumah-rumah. Itu saja. Atau bila ada yang ingin punya ladang, ia mesti membabat hutan terlebih dahulu.

Sekarang, rumah yang ada penghuninya cuma satu. Tepatnya bukan rumah. tapi gubuk. Ya, gubuk tempat aku menulis surat ini. Terakhir, penghuninya adalah aku dan bapak. Sudah merupakan hal yang biasa bagi yang menetap di sini, sekali seminggu berjalan kaki menuju pasar yang terletak di balik bukit. Apalagi bapak, hampir setiap hari ia harus berjalan kaki mengiringi kerbau ke sawah tempat ia menerima upah dari membajak. Jalan kaki berjam-jam sepertinya bukan masalah terberat bagi kami.

Cuma saja, sejak penyakit ini menjangkitiku, pekerjaan yang seharusnya kami kerjakan berdua terpaksa diambil alih oleh bapak sendiri, seperti belanja ke pasar seminggu sekali.

Inilah sebenarnya yang hendak kukabarkan melalui surat ini. Aku adalah orang yang tidak tega melihat bapak berjalan kaki sekitar sembilan kilometer hanya untuk membeli peralatan dapur. Sekarang ditambah pula dengan kesibukan baru: mencarikan obat untukku. Aku benar-benar orang yang tidak tega melihat bapaknya dibelit tugas-tugas itu.

Wahai, aku kini terbaring pasrah sejak enam bulan lalu. Bapak sudah mendatangkan dukun ke sini –sudah banyak malahan. Tapi, para dukun itu ternyata belum diizinkan Tuhan sebagai perantara kesembuhanku.

Terakhir, dia datangkan dukun Ellebaba dari pasar tempat kami belanja sekali seminggu itu. Dukun Ellebaba sedikit lebih keramat dari dukun-dukun lainnya. Katanya, ia memelihara beberapa jin dan tuyul. Melalui jin dan tuyul-tuyul itulah dukun Ellebaba menentukan jenis penyakit sekaligus obat bagi pasiennya. Bila ada orang ingin berobat dengannya, dukun Ellebaba tidak perlu menjenguk atau mendengar keluhan orang itu. Ia cukup memenggil para jin dan tuyulnya lalu memberikan ramuam obatnya.

Lain halnya dengan Bindan Bur, teman esdeku dulu. Saat ini ia kuliah kedokteran di kota. Ia juga tinggal sekampung dengan dukun Ellebaba dekat pasar. Karena perhubungan ke kota dari kampung itu lumayan lancar, maka Bindan Bur berkesempatan melanjutkan sekolahnya. Tentunya juga didukung oleh kemampuan orang tua Bindan yang mempunyai kedai kelontong di pasar mingguan itu.

Suatu ketika Bindan pulang kampung dan bertemu dengan bapak. Tentu saja ia menanyakan keadaanku. Mendengar penjelasan bapak, ia langsung memutuskan untuk menjengukku. Setelah memeriksaku, ia memberi tahu nama penyakitku: hepatitis B kronis. Aku monyong waktu Bindan Bur menjelaskan gejala-gejalanya. Tidak lupa ia terangkan diet yang harus kujalankan. Katanya, aku tidak boleh makan garam.

Kebetulan pula waktu itu kuku ibu jari kaki bapak pecah karena terinjak kerbau saat membajak. Bindan Bur menyarankan kepada bapak untuk membalut luka itu dengan plastik bila akan membajak. Gunanya agar luka bapak tidak terinfeksi virus tetanus. Bapak mengikuti anjuran Bindan Bur. Sayangnya, Bindan Bur cuma sekali sempat menjengukku. Mungkin ia sibuk dengan sekolahnya di kota.

Obat yang diberikan Bindan Bur lebih manjur dibanding ramuan dukun Ellebaba. Sejak memakan obat yang ia berikan, aku merasakan ada perubahan yang baik pada penyakitku meskipun perutku masih gembung seperti punggung sendok. Karena obat itu sudah habis, bapak bermaksud menyambung obatku dengan ramuan dukun Ellebaba. Tapi, dukun itu tidak menyanggupinya. Bapak pulang dengan kecewa.

”Ellebaba tidak mau mengobati orang yang sudah berobat dengan Bindan Bur,” bapak terlihat sangat kesal.

”Kenapa begitu, Pak?”

”Jin dan tuyul Ellebaba tidak bersedia memberikan keterangan tentang penyakit seseorang yang telah diobati dengan ramuan yang diramu dengan besi. Tuyul dan jin Ellebaba takut dengan besi. Kamu kan tahu, Bindan Bur memeriksamu dengan peralatan dari besi. Obat yang diberikannya tentu juga dibuat dengan mesin dari besi. Hah! Dasar induk penyakit. Tapi Ellebaba mengatakan kamu termakan sesuatu yang tidak baik. Apa betul ya? Kalau ya, berarti Bapak harus mencari dukun lain yang lebih pandai. Atau kamu Bapak bawa ke rumah sakit…..”

Bapak ragu-ragu. Barangkali ia teringat pada seorang pemburu babi yang beberapa waktu lalu singgah di gubuk ini. Melihat keadaanku, pemburu itu menyuruh bapak untuk membawaku ke rumah sakit. Dan, bapak berencana menjual kerbaunya untuk biaya perawatanku di rumah sakit. Mungkin karena bapak tahu bahwa gubuk kami jauh dari mesin beroda, maka bapak mengurungkan niatnya. Siapa pula yang akan menggendong dan mencarikan kendaraan untuk mengantarku ke rumah sakit?

Wahai, maafkanlah. Surat ini sudah mengalir ke mana-mana. Aku tidak bermaksud untuk itu. Sekali lagi aku minta maaf. Yang hendak kukabarkan bukan perihal Bindan Bur, bukan Ellebaba, tidak pula perihal rumah sakit. Semua itu harus aku lupakan, karena hanya akan membuat aku dan bapak bertengkar. Aku pun sudah meminta bapak untuk memahami maksudku.

Aku sudah jelaskan kepada bapak bahwa Bindan Bur, Ellebaba atau rumah sakit tidak bakal mampu menyembuhkanku. Bindan Bur dan Ellebaba hanya bisa memberi nama pada penyakitku dengan sebutan yang aneh-aneh. Menurut Bindan Bur aku menderita hepatitis B kronis. Menurut Ellebaba aku termakan sesuatu yang tidak baik, pemberian orang yang ingin aku mati secepatnya. Mereka tidak satu pun yang benar. Lalu kalau bapak membawaku ke rumah sakit, ingat, ”Pak, kita di lembah terpencil. Apalagi bila Bapak harus menjual kerbau untuk segala keperluan rumah sakit. Kalau Bapak harus menjual kerbau, lebih baik uangnya kita belikan pada sesuatu yang benar-benar bisa menyembuhkanku.”

Aku tiba-tiba teringat ibu yang sudah tiada dan menginginkannya kembali ada di dekatku waktu itu? Paling tidak, seorang seperti ibu yang mau duduk berjenak menemaniku tidur?

Jika surat ini sampai di tanganmu dan kau ingin menjawab, kenang saja bahwa pertanyaan itu muncul dari hati seorang gadis sunyi di tengah rimba yang tinggal tubuh pasrah karena sakit yang dideritanya. Seorang gadis yang hanya dia sendiri yang tahu obat yang bisa menyembuhkannya. Bapak sudah tahu itu. Yang aku yakini dapat menyembuhkanku cuma satu: perempuan yang sedang hamil tua.

Aku tahu bapak sangat heran mendengar permintaanku. Tapi sepertinya bapak sudah mengerti, ini bukan permintaan sembarangan. Ini permintaan anak gadis pesakitan yang tidak lama lagi mungkin akan berangkat menghadap penciptanya.

”Mengapa perempuan hamil tua yang kamu inginkan?” Bapak bertanya sambil mengupil ulat yang terselip pada belahan jengkol dengan kukunya yang sengaja di panjangkan. Bapak sangat suka makan berulam jengkol. Bahkan, kisah bapak pula, sewaktu mendiang ibuku mengidam dulu, ia meminta bapak mencarikan sekeranjang jengkol tengah malam.

”Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan Bapak!” Bapak terus bertanya. Kali ini dengan nada berat. Ada yang bergetar sendat dalam kerongkongannya. Mungkin, itulah ngilu yang ditabungnya sejak ibu berpulang.

Cericit burung-burung pagi mengajakku untuk tetap diam. Aku sibak papan jendela. Di luar kusaksikan sepasang pipit memilih daun-daun tua yang terdampar di pematang sawah. Begitu lincah pipit itu. Tak lama berselang, daun tua itu sudah tergantung di paruhnya dan segera terbang ke sebatang cengkeh. Di cabang paling ujung di cengkeh itu sudah ada serajut rumput kering yang sebentar lagi menjadi sarang tempat mereka bercinta bersama anak-anak yang akan segera menetas. Atau hanya untuk sekadar mengistirahatkan pundi-pundi dari lelah dan kicau yang risau.

Bapak mendekatiku. Ia rebahkan tangannya di keningku.

”Katakan pada Bapak, Nak.”

”Aku ingin perempuan yang sedang hamil tua, karena ingin sepertinya, Pak,” tegasku pada bapak. Bapak bangkit dari duduknya. Ia terperangah.

”Kamu ingin Bapak menbawa perempuan itu ke sini?”

”Ya!”

”Lantas?”

”Aku akan memintanya berbaring di sisiku. Aku akan masuk ke dalam jiwa bayinya yang segera lahir itu, menitipkan sejumlah keinginan. Dengan begitu aku akan merasa lega sekali. Saat itu juga, aku akan sembuh. Percayalah, Pak…”

Bapak mengangguk-angguk. Pagi itu juga, sehabis sarapan, bapak menggiring kerbaunya ke pasar ternak dan setelah terjual bapak katanya langsung pergi berkeliling kampung dan kalau perlu ke kota mencari perempuan yang sedang hamil tua, seperti pesananku. Bapak berjanji tidak akan pulang sebelum berhasil mendatangkan perempuan itu. Di sekitar tempatku, tidak ada perempuan yang sedang hamil tua. Aku tidak tahu apa sebabnya. Apakah di negerimu ada perempuan yang kudambakan itu? Sekiranya ada, aku mohon, kirim pulalah surat kepadaku. Bantu aku mendatangkannya ke sini.

Aku kabarkan semua ini karena aku masih berharap untuk dapat seperti dulu lagi, menyelamatkan lembah terpencil ini dari kegersangan, lahan-lahan tidur dan rumah-rumah tua yang ditinggalkan penghuninya. Aku masih ingin menelusuri jalan setapak menuju telaga di punggung bukit, bermain dengan satwa-satwa mungil dan lucu, menggembalakan kerbau di padang yang membentang hijau.

Sesuatu yang tak kunjung sampai. Sementara umurku terasa makin tipis. Maka kutulis surat ini. Kepada siapa mesti kukatakan sebuah rahasia: tentang impian yang sering kutelan. Aku pernah mengidam-idamkan seorang bujang datang menyatakan cintanya padaku dan kami menikah di lembah ini. Lalu bujang itu menghamiliku. Lalu kami punya anak yang banyak hingga lembah ini kembali riuh dan ramai.

Atau begini saja. Berhubung sudah tiga hari bapakku pergi ke kota dan belum juga pulang. Satu termos nasi, dua termos air dan semangkuk goreng cabe tanpa garam yang sengaja disediakan bapak untukku sebelum ia berangkat, sudah hampir habis. Maka, jika di negerimu kau melihat seorang lelaki tua memakai peci hitam, baju gunting Cina, dan ibu jari kakinya sebelah kiri dibalut dengan sobekan kain, ia tidak lain adalah bapakku. Katakan padanya bahwa anak gadis yang menunggunya di lembah sudah pergi. Tengah malam kemarin, sekumpulan serigala menyeret-nyeret bangkainya ke tengah hutan.

Atau bila kau jadi berkenan datang bermalam ke sini, tidurlah di dipan bambu berkasur tipis dan dingin itu. Bila kau mau, kau juga boleh berbaring di tempat tidur yang sudah kutinggalkan. Jangan tercengang, kalau tengah malam ada pekik aneh yang melengking tinggi, jauh di tengah rimba. Itu barangkali jelmaan suaraku, merintihkan sejumlah keinginan yang tak sampai.
***

Buat Atikami Lababua, 2002-2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *