Puisi-Puisi Acep Syahril

http://www.kompas.com/
negeri yatim
:wiji thukul wijaya

di rumahmu yang sumpek itu tanpa basa basi
kita saling mentertawakan diri sendiri
kau tertawa melihat telapak kakiku yang lebar
aku juga tertawa melihat mata dan gigimu
yang maju nanar leak karib yang mempertemukan
kita cuma tertawa lalu kau perkenalkan sipon
istrimu padaku aku serius menyambut
uluran tangannya tanpa tawa karena aku tau
kau terus mengawasi hatiku yang menggoda Continue reading “Puisi-Puisi Acep Syahril”

kritikus adinan bams; petai cina, kaki lima

Hudan Hidayat

bait pertama puisi mangga dua iwan gunawan, mungkin bagi pembaca yang menghendaki suatu bahasa indah dari cara menyusun kata, dan terutama perburuan dan kombinasi atas kata kata baru dalam bentukkannya yang baru, akan tiba pada suatu kesimpulan, bahwa puisi ini biasa saja. tak ada yang istimewa dari sebuah deskripsi yang dilakukan oleh penyair itu. tapi tidak bagi saya. sebab saya meletakkan pengucapan puisi ini ke dalam suatu konteks mistik sebuah kota besar – jakarta, yang selalu penuh cerita pedih atas tiap orang miskin, setidaknya orang yang hidupnya pas pasan seperti dalam puisi iwan gunawan ini. Continue reading “kritikus adinan bams; petai cina, kaki lima”

Jangan Kau Tanya, di Mana Ayah Kita

Rihad Wiranto
http://jurnalnasional.com/

Puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus penonton di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Selasa Malam, 16/6, nampak hanyut, terbawa arus, melintas waktu kembali ke Tahun 1998, saat puluhan aktivis hilang diculik sekelompok “oknum” militer. Sebagian selamat dan kembali ke keluarganya, sebagian lagi hilang ditelan bumi, tak jelas, apakah masih hidup ataukah sudah kembali ke pangkuan Illahi. Continue reading “Jangan Kau Tanya, di Mana Ayah Kita”

Bahasa ยป