kritikus adinan bams; petai cina, kaki lima

Hudan Hidayat

bait pertama puisi mangga dua iwan gunawan, mungkin bagi pembaca yang menghendaki suatu bahasa indah dari cara menyusun kata, dan terutama perburuan dan kombinasi atas kata kata baru dalam bentukkannya yang baru, akan tiba pada suatu kesimpulan, bahwa puisi ini biasa saja. tak ada yang istimewa dari sebuah deskripsi yang dilakukan oleh penyair itu. tapi tidak bagi saya. sebab saya meletakkan pengucapan puisi ini ke dalam suatu konteks mistik sebuah kota besar – jakarta, yang selalu penuh cerita pedih atas tiap orang miskin, setidaknya orang yang hidupnya pas pasan seperti dalam puisi iwan gunawan ini. cerita pedih yang kita kontraskan dari orang yang berpunya yang juga menjadi warga kota jakarta ini. kontras yang dalam puisi ini mengambil atau dibentukkan ke dalam judul puisi: mangga besar, sebagai pusat perbelanjaan itu. mangga besar yang mengasumsikan orang datang dengan uang untuk mencari barang barang yang dikehendakinya. uang ada, barang pun ada. lalu apalagi?

di sinilah muncul pembacaan puisi melalui empati. suatu sikap menerobos jiwa jiwa orang yang tak punya. suatu sikap menyerap atas apa yang digambarkan oleh baris baris puisi. tentang sebuah suasana di dalam bus kota, tempat di mana penduduk yang pendapatannya pas pasan atau bahkan miskin itu bergelantungan pagi dan sore, sore dan malam dan pagi lagi dan begitulah seterusnya sepanjang hidup mereka, orang yang tak punya atau orang miskin itu.

konteks yang akhirnya membawa kita pada suatu empati. seakan kita masuk menjadi orang yang tak punya atau miskin itu. di sanalah baru kita tahu, betapa kota telah menjadi sebuah tempat pemukul bagi jiwa. bahwa pukulan atas jiwa menjadi suasana mistik karena, pada akhirnya, semua cerita ini kelak akan berakhir dengan kematian akibat nyawa kita terputus. mati, dan sebelum mati kita ingin mereguk suasana kehidupan. betapapun kehidupan itu adalah wajah dari keserba kurangan. wajah dari penderitaan tiap penduduk yang tak punya. dan tempat itu sendiri, walau keras dan tak berperasaan, tetaplah sebuah daerah di mana kita hidup. yang segala jerit dan indah atau tidak indahnya, akan pula membawa suasana mesra sendiri atas kehidupan.

pikiran kita bisa berkelebat ke mana mana dengan suasana seperti itu. berkelebat dengan orang miskin itu sendiri. dengan suasana kota yang kita akrabi. dengan pemerintahan yang orang orangnya entah di mana, tapi jelas ada di sebuah tempat, yang kita bisa bayangkan apa yang sedang mereka lakukan, sementara warga dari tanggung jawab yang mereka harus selenggarakan dengan baik hajat hidupnya, sedang berjuang bergelantungan di atas angkutan umum bernama bus kota. di mana sebagian warganya sedang menjual suaranya di dalam bus kota itu – ngamen. kita, pembaca, akhirnya jadi mengerti bahwa hidup memang adalah sebuah sandiwara. sandiwara yang terlihat pada orang orang kalah, sandiwara yang kita bayangkan pada orang orang yang semestinya berbuat pada orang orang kalah, tapi tak hadir. yang kehadirannya hanya muncul dalam bayangan kita. yang akhirnya kita mungkin menggerutu. sebelum akhirnya menjadi penuh pengertian juga. bahwa begitulah kita manusia ini. dan atas pengertian seperti itu, akhirnya kita pun menerima baik yang kalah atau pun yang membuat tak seharusnya kalah, masuk ke dalam diri kita sebagai manusia yang memiliki nasib dan tradeginya sendiri sendiri. nampak bayangan lucu dari situasi seperti itu. lucu yang kalau diungkapkan dengan kata kata: beginilah kita manusia ini. ada yang berjuang dengan kekurangan hidup. ada yang berjuang dengan mungkin kepedihan jiwanya di tempat lain.

“Bis kota serasa sedang kelilingi dunia
pinggir dan pusat tiada berbeda
ramai selang-seling orang bernyanyi dendang nada
sendiri berdua, kadang sampai berlima.”

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *