Pusat Legitimasi Karya Sastra, Stigma, dan Perayaan Lokalitas*

Satmoko Budi Santoso
Suara Merdeka

PERBINCANGAN hangat yang sekian waktu berlangsung dalam arena “analisis rumpian sastra” di harian Suara Merdeka ini menurut saya ada beberapa hal yang sebenarnya mubazir karena sesungguhnya rasionalisasi karya sastra kita sudah melampaui apa yang “dirumpikan”.

Dalam konteks perbincangan sebagaimana tendangan bola wacana yang ditulis Redyanto Noor dengan judul Kiat Merobohkan Menara Gading (Harian Suara Merdeka/23/72006), misalnya. Continue reading “Pusat Legitimasi Karya Sastra, Stigma, dan Perayaan Lokalitas*”

Perempuan di Lambung Kota

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

PEREMPUAN itu sudah lenyap ditelan Jakarta, justru di depan mataku pula. Padahal tengah kubangun bulan di wajahnya, agar kami dapat mandi cahaya purnama di suatu kota yang serba tidak tergesa-gesa. Dan bercakap-cakap berdua dengan suara rendah tentang hidup sehari-hari, anak-anak, para sahabat, tetangga ataupun sanak-famili. Continue reading “Perempuan di Lambung Kota”

Nasabah

Nyoman Tusthi Eddy*
http://www.suarakarya-online.com/

Kupandang baik-baik wanita yang duduk di depanku. Ia adalah mantan siswaku yang gagal sepuluh tahun lalu. Orang lalu lalang keluar masuk pintu. Kursi tunggu penuh dengan nasabah yang menunggu panggilan. Aku duduk di kursi pojok berhadapan dengan wanita itu, sehingga agak luput dari perhatian orang. Continue reading “Nasabah”

Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?

I Nyoman Tingkat

Beranda

Perhimpunan sastrawan Bali tampaknya mendesak direalisasikan karena memang penting dan perlu. Penting untuk menjaga gawang budaya Bali yang sudah banyak kemasukan bola nyasar lewat tembakan spekulasi jarak jauh “pemain asing”. Perlu untuk semakin mengairahkan semangat berapresiasi dalam rangka memperhalus budi dan mencerdaskan atau mencerahkan masyarakat Bali. Namun, menghimpun sastrawan Bali dalam satu wadah, mungkinkah? Continue reading “Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?”

Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali

Putu Fajar Arcana
kompas.com

SAMPAI kini mungkin tak banyak yang tahu kalau penulis lagu daerah Bali berjudul Merah Putih bernama I Gde Dharna (69). Padahal hampir setiap anak Bali yang pernah mencicipi sekolahan pasti bisa menyanyikannya. Lagu yang dimaksudkan untuk membangkitkan heroisme para pejuang pada tahun 50-an itu, hingga kini sering ditembangkan dalam pementasan kesenian tradisi di Bali. Para anak muda juga suka mengumandangkan lagu itu di pos-pos keamanan lingkungan. Lagu ini secara resmi pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Bali. Continue reading “Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali”

Bahasa »