Teater Kontemporer

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.

Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni dikampling menjadi dua pulau. Tradisional dan modern. Pertunjukan tradisional dan pertunjukan kontemporer. Continue reading “Teater Kontemporer”

PETA SASTRA TAMADUN MELAYU

Maman S. Mahayana *

Edi Sedyawati, dkk., Sastra Melayu Lintas Daerah, Jakarta: Pusat Bahasa, 2006, xii + 419 halaman.

“Tak kenal maka tak sayang.” Itulah yang terjadi pada dunia Melayu, khasnya yang menyangkut selok-belok ketamadunannya (peradaban). Dunia Melayu yang pernah dicitrakan para orientalis sebagai bangsa Timur -pribumi- yang serbaterbelakang, sesungguhnya menyimpan kekayaan tamadun yang agung. Sejak lama ketamadunannya itu wujud dan mendapat apresiasi yang tinggi dari bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Bangsa-bangsa besar Asia, seperti Mesir, Tiongkok, India, Parsi, dan bangsa Eropa, mengenal dunia Melayu melalui hubungan perdagangan, penyebaran agama, dan pertukaran kebudayaan. Bahkan, dilihat dari penyebarannya, jejaknya hingga kini masih tampak dalam wilayah yang begitu luas. Continue reading “PETA SASTRA TAMADUN MELAYU”

Pentingnya Metafor

Catatan pendek penghantar diskusi being community

Bernando J. Sujibto *

“metaphor intrinsically transcendental.”
Frase di atas saya temukan dari buku History and Tropology: The Rise and Fall of Metaphor karya Ankersmit, F. R. Kalimat ini semakin menambah kurang paham saya ketika metafor dibaca dalam perspektif filsafat -seperti teman-teman Being mau- lengkap dengan sejarah, tokoh dan cabang ranah pemikirannya. Sejauh ini, sebagai penulis dan penyuka sastra (puisi), saya memperlakukan metafor sebagai alat untuk membebaskan dan menghadirkan imajinasi dalam puisi-puisi saya. Soal perspektif filsafatnya, biar Being nanti membingkainya dan teman-teman sendiri yang bertanggung jawab mempersoalkannya. Continue reading “Pentingnya Metafor”

BERTEMU SHINTA FEBRIANY

Budhi Setyawan
budhisetyawan.wordpress.com

Kalau tidak salah pada tahun 2007 (tanggal dan bulannya lupa) saya jalan ke sebuah toko buku kecil di daerah Sumurbatu, Jakarta Pusat. Secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku puisi berjudul AKU BUKAN MASA DEPAN karya Shinta Febriany, yang diterbitkan oleh Bentang Budaya. Penyair ini masih begitu muda, namun tulisan-tulisannya telah menarik kekaguman saya. Memang ada semacam pengantar dari Afrizal Malna di buku itu, namun bukan dari situ saya memulai membaca. Kebiasaan saya membaca buku dari belakang seperti menemukan sesuatu yang mengalir, meski berkelok dan berliku. Continue reading “BERTEMU SHINTA FEBRIANY”

SENI, DUNIA IDE, DAN REALITAS SOSIAL

Bonari Nabonenar
http://terpelanting.wordpress.com/

Tulisan Budi Palopo di halaman Humaniora (Kompas, 22 Maret 2005) bertajuk Seni Getah Karet mengandung simpulan yang menyesatkan, berkaitan dengan penerbitan buku kumpulan puisi Duka Atjeh Duka Bersama (Dewan Kesenian Jatim dan Logung Pustaka, 2005). Duka Atjeh Duka Bersama adalah juga nama acara keprihatinan atas musibah tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

?Di Surabaya, misalnya, ada buku puisi berjudul Duka Atjeh Duka Bersama yang terkemas cantik, tapi -menurut saya?justru menunjukkan kebebalan kolektif yang terjadi dalam dunia kepenyairan,? demikian tulis Budi. Lalu, Continue reading “SENI, DUNIA IDE, DAN REALITAS SOSIAL”

Bahasa ยป