Nasabah

Nyoman Tusthi Eddy*
http://www.suarakarya-online.com/

Kupandang baik-baik wanita yang duduk di depanku. Ia adalah mantan siswaku yang gagal sepuluh tahun lalu. Orang lalu lalang keluar masuk pintu. Kursi tunggu penuh dengan nasabah yang menunggu panggilan. Aku duduk di kursi pojok berhadapan dengan wanita itu, sehingga agak luput dari perhatian orang.

Sewaktu ia menjadi muridku di Sekolah Menengah Agama, ia adalah gadis manis. Meski tak begitu cantik, ia adalah gadis serba pantas. Ia siswa yang rajin dan disiplin. Tapi keluarganya tak memberi kesempatan baik untuk belajar. Pada tahun kedua ia gagal. Ia tidak berhasil naik ke kelas tiga. Dengan bercucuran air mata ia meninggalkan sekolah. Itulah hari terakhir ia menginjak halaman sekolah. Panggilan untuk mengulang kembali sekolahnya tak pernah dijawabnya.

Sesungguhnya cita-citanya sangat luhur. Ia adalah siswa yang memiliki cita-cita jelas. Mukanya berbinar-binar jika ia sedang membicarakan masa depan pekerjaannya sebagai guru. Lebih-lebih guru agama yang dibanggakan oleh desanya.

“Pak, lama sekali saya tak jumpa Bapak”, ia menyentakkan aku dari kenangan masa laluku.
“Ya, memang lama sudah sepuluh tahun lebih. Berapa anakmu? Saya sendiri sudah punya dua cucu”.

“Anak saya tiga orang, semuanya perempuan”. Ia mendesah seperti menahan kekecewaan. Pandangannya menerawang. Tampaknya ia ingin merengkuh kembali masa lalunya.

“Murni, kau tampaknya kecewa dengan anak perempuan. Kini dan kelak anak perempuan diberi tempat layak di semua sektor. Itu lihat, sebagian besar karyawan bank ini wanita. Anak buahnya laki-laki”.

“Bukan itu soalnya. Selama ini saya hidup seperti dalam mimpi. Saya hanya bekerja demi hidup, demi perut. Bekerja demi cita-cita sudah lama tertutup.”

Aku terkejut. Anak lugu ini sudah banyak berubah dalam kurun waktu sepuluh tahun. Kupandangi kembali ia baik-baik. Kini ia wanita matang yang siap menantang kehidupan. Fisiknya sangat berubah. Bukan saja bertambah tua, tapi gurat-gurat mukanya menandakan kekerasan pergulatannya dengan kehidupan. Kulihat matanya lembab. Ia berusaha menahan air mata agar tidak tergelincir jatuh.
“Apa maksudmu dengan kiasan filosofimu tadi?” Aku mengalihkan perhatiannya sambil tersenyum.

“Saya bercita-cita menjadi guru. Sejak saya masih menjadi siswa sudah sering saya berdiri di depan kelas. Sering membayangkan saya menjadi guru bagi keluarga saya yang sebagian besar buta huruf. Saat itu saya merasakan diri saya penuh makna”.

“Itu angan-angan masa lalumu Murni. Kamu masih berhak punya angan-angan dan mimpi. Tapi kini sebaiknya kamu menerima kenyataan dirimu. Apa sih enaknya menjadi guru?”

“Ini bukan soal enak tak enak. Ini soal cita-cita. Saya merasakan hidup saya sudah kandas. Meski masih berdiri dan berbuat, tak ada jalan lain lagi untuk meraih cita-cita yang pernah saya banggakan.”

“Ah, kau sok filosofis. Hidup ya hidup. Tak ada embel-embelnya. Berdiri dan berbuat itulah hidup”. Tak terasa aku ikut-ikutan filosofis.

Ia menyeka keringat dan air matanya yang meleleh di pipinya. Aku kini tahu, cita-citanya untuk menjadi guru tak pernah padam. Aku jadi menyesal dan malu dengan kata-kataku yang bernada melecehkan cita-citanya. Padahal aku sendiri seorang guru.
“Kau bekerja di mana sekarang Murni?”
“Yang jelas bukan menjadi guru”.
“Ya, tentu saja, tapi di mana? Apa pekerjaanmu kamu anggap lebih rendah dari pekerjaan guru?”

“Bukan begitu. Saya bekerja hanya untuk makan. Selebihnya tak ada. Saya menjadi peternak babi. Saat-saat sendiri, ketika melihat anak-anak desa bermain, cita-cita menjadi guru datang kembali menyeruak. Saya sering merasa menjadi sedih dan tak berguna.

Setelah menoleh ke kotak nomor panggilan, ia mengeluarkan buku rekeningnya. Ia membuka-buka lembarannya, memandangnya sesaat, lalu menutupnya kembali. “Wah, kau pasti banyak uang sekarang. Boleh aku melihat rekeningmu?” Aku menggodanya.

Tanpa berkata ia menyodorkan buku rekeningnya. Aku sedikit terkejut, tetapi berusaha menyembunyikan dari pandangannya. Aku melihat angka 15 juta pada saldo rekeningnya.
“Sudah kuduga, rekeningmu pasti padat. rekening guru tak pernah sepadat itu. Itulah guru Murni”.

“Jika ada jalan buat menukar, demi apapun saya bersedia menukarnya, sekalian dengan rekeningnya. Saldo rekening tak akan bisa menghibur cita-cita saya yang kandas.”
Kulihat ia sungguh-sungguh. Tampaknya ia kurang bergairah dengan uang. Untuk saat ini ia manusia langka.

“Apapun pekerjaanmu kini tak perlu kau risaukan. Untuk meraih cita-citamu menjadi guru, jadi guru peternak di kampungmu. Baca buku-buku, dan ajarkan ilmu beternak kepada tetanggamu. Saya akan membantumu. Kau akan menjadi guru, peternak, dan nasabah yang kaya. Saya sendiri hanya seorang guru dan nasabah miskin. Bukankah kamu lebih hebat dari saya?”

“Benar Pak? Bantulah saya dengan buku. Anggap saja masih siswa Bapak”. Ia tampak berbinar-binar kembali, seperti ketika ia menjadi siswaku sepuluh tahun lalu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.***

*) Penerima hadiah sastra Rancage ke-21 Tahun 2009 melalui karya roman berbahasa Bali “Somah”. Sekarang sastrawan Bali ini berdomisili di Jalan Ngurai Rai, Gang Merpati 7 A, Amlapura 80811, Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *