Realisme Dalam Puisi Kita Kini

Indra Tjahyadi *
sinarharapan.co.id

Beberapa tahun belakangan ini kita disuguhi pemadangan terlalu banyaknya realisme dalam puisi kita. Hampir setiap bulan, bahkan minggu, pemandangan puisi yang muncul dihadapan kita sesak benar dengan realisme. Hal ini jelas berbeda apabila kita bandingkan dengan keadaan pemandangan puisi yang merebak pada kisaran era pertengahan tahun 1980-an sampai dengan awal 2000an. Continue reading “Realisme Dalam Puisi Kita Kini”

Kegelisahan Metafisik Ibnu Wahyudi

Asep Sambodja
oase.kompas.com

Sebelum membicarakan puisi-puisi Ibnu Wahyudi dalam kumpulan puisi keduanya, Haikuku (Jakarta: Artiseni, 2009), saya ingin mengutip artikel Matsumoto Yoshiyuki yang berjudul Kalong Taman Firdaus: Catatan Perjalanan Kaneko Mitsuharu ke Malaya dan Hindia Belanda yang dimuat dalam buku Dari Botchan sampai Kalong Taman Firdaus yang disunting Jonnie Rasmada Hutabarat (Depok: FIBUI, 2007), untuk ?merasakan? sastra Jepang, mengingat haiku berasal dari negeri sakura itu. Continue reading “Kegelisahan Metafisik Ibnu Wahyudi”

Diksi yang Genit dari Joko Pinurbo

Alex R. Nainggolan
http://www.lampungpost.com/

PRODUKTIVITAS penyair Joko Pinurbo memang tinggi. Setidaknya, sudah lima kumpulan puisinya terbit, yakni Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacar Kecilku (2002), Trouser Doll (2002), Telepon Genggam (2003). Yang teranyar ialah Kekasihku (2004).

Pun ternyata Joko menjaga diksi-diksinya senantiasa penuh gurauan, cibiran terhadap tingkah asmara dan kelakuan manusia. Cibiran yang penuh dengan guyon, kesedihan yang dibalut dalam rangkaian kalimat sederhana, membuat puisi-puisi yang dilahirkan, meminjam Nirwan Dewanto: mengasah otak dan perut. Continue reading “Diksi yang Genit dari Joko Pinurbo”

Pinurbo dan Dinar

Nirwan Dewanto *
majalah.tempointeraktif.com

SETIAP akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilkan penulis unggul? Continue reading “Pinurbo dan Dinar”

Menggagas Estetika di Ruang Diskusi

Rahmat Sudirman
lampungpost.com

Sastra Indonesia tak bisa lepas dari “mitos” kebaruan. Namun, eksplorasi karya yang muncul pasca-1998, seiring tumbangnya Orde Baru, belum memperlihatkan mainstream yang kuat.

HARRIS Effendi Thahar dengan jelas melontarkan simpulan tersebut dalam diskusi Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 1. Namun, lontaran sastrawan Sumatera Barat itu lepas begitu saja. Puluhan sastrawan yang mengikuti diskusi membahas capaian estetik puisi di Grand Hotel, Jambi, tanggal 8 Juli lalu seperti tak menganggap simpulan Harris itu sesuatu yang penting. Continue reading “Menggagas Estetika di Ruang Diskusi”

Bahasa ยป