Antologi Sastra dan Lembaga Produksi

Abdul Aziz Rasjid
Koran Merapi. 25 Sep 2011

Antologi sastra, sebagaimana dijelaskan oleh Hary Aveling dalam buku bertajuk Secrets Need Words, Indonesian Poetry, 1966-1998 (2001) adalah bentuk khusus dari genre sastra. Antologi biasanya disusun menurut prinsip yang dipilih atau ditemukan oleh sang antologis dimana dasar seleksi teks bisa sangat beragam.

Dasar penyeleksian teks itu, bisa diniatkan untuk menandai penelitian sejarah perkembangan satu atau beberapa karya sastra, atau diseleksi berdasar karya dari dalam wilayah tertentu yang dibatasi oleh kriteria sastra yang lebih spesifik semisal era atau genrenya; kriteria di luar sastra semisal sastra oleh perempuan atau minoritas etnik; dan kriteria berupa tema tertentu semacam agama, humor bahkan protes sosial.

Empat tahun terakhir ini, OBSESI sebagai lembaga pers mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto konsisten memproduksi antologi sastra. Antologi yang diproduksi oleh OBSESI seringkali disusun dari latar belakang lomba penulisan beberapa genre sastra khususnya cerpen dan puisi. Dasar penyeleksian teks lalu dipilih berdasar tema yang telah ditentukan, dan dibatasi hanya untuk mahasiswa se-Indonesia yang karyanya dipilih oleh beberapa dewan juri dari kalangan sastrawan yang sekaligus redaktur sastra sebuah media, semisal Ahmadun Yosi Herfanda dan Joni Ariadinata.

Dari kriteria penyusunan antologi sastra berdasar lomba itu, OBSESI telah menerbitkan tiga antologi cerpen bertajuk Rendevous di Tepi Serayu (2009), Bukan Perempuan (2010) dan Lelaki yang Dibeli (2011); dan satu antologi puisi bertajuk Puisi Menolak Lupa (2010). Empat buku antologi di atas, secara komunal menceritakan perbedaan lingkungan kebudayaan suatu daerah, kepercayaan suatu masyarakat serta konflik tersendiri di berbagai lingkungan di Indonesia yang secara kuantitatif selalu memuat lebih dari tiga puluh karya mahasiswa dari berbagai daerah-daerah di Indonesia.

Sebagai contoh misalnya, dalam antologi cerpen Lelaki yang Dibeli (2011) kita akan mendapati kisah tentang lapisan masyarakat adat yang hendak dipecundangi lewat iming-iming pinjaman uang dan pelayanan perkreditan lewat cerpen ”Desa Tomatoae” karya Imran Makmur (Mahasiswa Universitas Hasanuddin/Unhas Makassar), kisah keluarga di Lembah Baliem yang mengejar imaji kemakmuran dengan upaya mistik menjadi babi jadi-jadian lewat cerpen ”Noken Baliem” karya Anggo Aryo Wiwaha (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto), kisah eksploitasi industri di kampung Sendang lewat cerpen “Cerita-cerita dari Kampung Seberang” karya Musyafak Timur Banua ( mahasiswa IAIN Walisongo Semarang). kisah biografis tokoh peranakan cina yang diceritakan secara berbingkai lewat peristiwa pengguratan tungkai kembang yang membusuk lewat cerpen “Bunga Delapan Dewa” karya Sunlie Thomas Alexander (Mahasiswa Senirupa di Institut Seni Indonesia (ISI) dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

Dari kesan beragamnya isi karya sastra yang dimuat dalam antologi sastra produksi OBSESI itu, dalam tataran teks sastra dan struktur lembaga yang memproduksinya sebenarnya nampak pula bahwa pembuatan antologi memang tidak bisa lepas dari bingkai kriteria general ideology. Kriteria general ideology ini nampak pada kecenderungan tak bisa lepasnya produksi antologi dari bingkai STAIN Purwokerto sebagai lembaga pendidikan agama yang mendasarkan eksistensinya pada wacana agama dimana prinsip intelektualitas mahasiswanya mesti ditandakan di bidang keilmuan utamanya pemikiran-pemikiran wacana agama di tengah kehidupan sosial budaya masyarakat.

Kecenderungan ini lalu berdampak pada praktik pengantologian OBSESI yang berjalan sangat mekanis dengan kriteria tekstualnya dimana secara khusus selalu mengikutsertakan lebih dari lima karya mahasasiwa dari lingkungan STAIN purwokerto dan secara umum berdampak pula pada struktur formal karya sastra yang terkesan seragam dalam gaya penceritaan dan tema. Dampak umum itu setidaknya terlihat pada kecenderungan banyaknya gaya penceritaan realis dengan tema yang mempersoalkan problematika sosial semacam adat juga problema kedirian dimana wacana agama menjadi bagian dari alur yang lantas menjadi solusi pemecah masalah atau sebaliknya agama bersitegang dengan keangkuhan sebuah adat sehingga menjadi konflik utama.

Wacana agama dan problematika kedirian misalnya, dapat ditemui dalam cerpen “Istikharah” karya Anggo Arya Wiwaha (mahasiswa STAIN Purwokerto) yang terkumpul dalam Rendevous di Tepi Serayu (2009) dimana pusat cerita bermula dari kebingungan sang tokoh untuk memutuskan menjalani pernikahan di tengah trauma masa kecil rumah tangga orangtuanya sampai akhirnya sang tokoh meyakinkan diri bahwa dia harus menjalani Istikharah, tindakan bertanya pada Tuhan sebab rasa percaya bahwa segala bentuk perkara harus kembali pada pencipta.

Sedang wacana agama dan problematika sosial, dapat ditemui dalam cerpen “Lelaki yang Dibeli” karya Gusrianto (mahasiswa Universitas Terbuka /UPBJJ Padang) yang terkumpul dalam Lelaki yang Dibeli (2011) dimana fenemona daerah Padang yang mempertahankan tradisi uang jemputan untuk membeli lelaki (calon suami) yang mesti dilakukan oleh pihak perempuan (calon istri) menjadi konflik utama sebab dinilai telah mengingkari filosofi Minangkabau bahwa seharusnya aturan adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitabullah/Alquran.

Tapi, di bulan Maret tahun 2011, OBSESI menerbitkan pula antologi puisi bertajuk Pilar Penyair yang sepenuhnya berbeda dengan empat antologi yang telah saya sebut di atas. Antologi puisi Pilar Penyair tidak lahir dari sayembara melainkan disusun berdasar pengamatan menurut prinsip yang hendak menandai bahwa ada bakat-bakat kepenyairan dalam kreativitas mahasiswa-mahasiwa STAIN Purwokerto yang perlu ditandai kekhasan perambahan ucap dan perambahan wawasannya.

Sebab prinsip itu, dasar penyeleksian teks dikhususkan menghimpun puisi-puisi mahasiswa STAIN Purwokerto dengan berpihak pada aesthetic ideology sehingga keberagaman gaya dan tema lebih dirayakan. Puisi-puisi mereka pun langsung diberi tanggapan berupa catatan pembacaan yang dibedah oleh Arif Hidayat (penyair asal Purbalingga) yang sekaligus dapat ditanggapi tidak diabaikannya praktik kritik sastra dalam antologi puisi ini. Pada catatan pembacaan itu Arif Hidayat berkesimpulan bahwa model puisi di antologi Pilar Penyair telah berhasil berhasil melakukan eksplorasi dan pengungkapan peristiwa dramatik yang disusun dengan bahasa terindah sehingga menandai sisi-sisi spiritualitas.

Tentu saja kesimpulan Arif Hidayat di atas sangat terbuka untuk diperdebatkan. Tapi yang tak dapat dipungkiri, lembaga pers mahasiswa semacam OBSESI STAIN Purwokerto dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah konsisten untuk terus memproduksi antologi sastra di tengah penerbitan, publikasi, atau pendokumentasian sastra di Purwokerto yang seringkali dianggap kian lesu. Setidaknya, buku-buku antologi sastra yang diproduksi OBSESI lahir dari perjuangan untuk mendekatkan karya sastra pada pembaca (masyarakat), dan tentu suatu hari berpotensi menjadi berguna bagi masa depan perkembangan sastra Indonesia. Semoga.