Sejarah Nusantara Model Gus Dur

Judul buku : Membaca Sejarah Nusantara
Penulis : Abdurrahman Wahid
Pengantar : KH A Mustofa Bisri
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal buku: 133 halaman
Peresensi : Danuji Ahmad
oase.kompas.com

Diskursus sejarah Nusantara memang mengasyikkan. Kehadirannya terbuka untuk kita telaah dan diperbincangkan dengan ragam tafsir dan versi. Ragam tafsir itu tentu tidak sekonyong-konyong hadir begitu saja. Continue reading “Sejarah Nusantara Model Gus Dur”

Pesantren, yang unik yang benar

Abdurahman Wahid
http://majalah.tempointeraktif.com/

TRADISI PESANTREN
Penulis: Zamakhsyari Dhofier,
Diterbitkan: LP3ES, Jakarta, 1982,
192 halaman, indeks, tabel-tabel dan ilustrasi.

BUKU ini ditulis dalam bahasa Indonesia, dari disertasi yang diajukan penulisnya kepada Australian National University. Sebagai hasil penelitian lebih sepuluh bulan di dua pesantren di Jawa, ia mencoba memperlihatkan ‘wajah sebenarnya’ pesantren tradisional — lebih tepat lagi yang masih mampu mempertahankan sisa-sisa tradisionalismenya — di hadapan perubahan yang dibawakan proses modernisasi. Continue reading “Pesantren, yang unik yang benar”

Lembaga Gus Dur

A. Mustofa Bisri *
http://majalah.tempointeraktif.com/

Tidak seperti umumnya organisasi lain, Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) boleh dikatakan lahir hanyalah mewadahi yang sudah ada. Sebelum jam’iyah NU lahir pada 1926, sudah ada komunitas atau jama’ah yang terdiri atas ulama dan para pengikut mereka. Itulah masyarakat pesantren. Struktur organisasi NU pun-berbeda dengan struktur umumnya organisasi-lebih mirip dengan pesantren. Sementara di pesantren ada kiai sebagai pemimpin, pengendali, pengarah, dan seterusnya, di NU ada Syuriah. Continue reading “Lembaga Gus Dur”

Gus Dur Mencapai Cita-Citanya

Syubah Asa *
gusdurian.net

SUATU kali Abdurrahman Wahid marah-marah kepada seorang tokoh Islam. Masalahnya, seorang wartawan TEMPO mengadu kepadanya. Ia dimarahi tokoh itu, karena datang ke rumahnya dengan cara melompat pagar pekarangan yang terkunci setelah tidak mendapat cara lain untuk masuk. Ini terjadi pada akhir 1970-an, zaman ketika telepon belum populer, sedangkan si wartawan memang punya janji dengan si tokoh. Mendengar pengaduan itu malah Gus Dur yang tersinggung dan membela si wartawan. “Sok kenes! Kebarat-baratan!” katanya, ditujukan kepada tokoh yang tidak mendengar kemarahannya itu. Continue reading “Gus Dur Mencapai Cita-Citanya”

Bahasa ยป