Matahari Telah Berpulang: Merenungkan Sufisme Gus Dur

Husein Muhammad
gusdurian.net

LANGIT DESEMBER YANG MURUNG

Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik N, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat”, katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Continue reading “Matahari Telah Berpulang: Merenungkan Sufisme Gus Dur”

Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam

Majalah Horison, 7/1984

Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin) Continue reading “Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam”

In Memoriam “Gitu Aja Kok Repot…”

Agus Fathuddin Yusuf, Ainur Rohim
suaramerdeka.com

BAGI Gus Dur urusan di dunia ini seolah-olah tidak ada masalah berat. Semuanya dianggap enteng dan simpel meski buat orang lain dirasa kiamat.

Kalimat “gitu aja kok repot” yang sering kali dilontarkannya menegaskan hal itu. Begitu populernya “gitu aja kok repot” menjadi trade mark seorang Abdurrahman Wahid. Lihatlah bagaimana Gus Pur (dr Handoyo) dalam Republik Mimpi menirukan kalimat itu sambil sekali-sekali tangan kanannya menepuk-nepuk sesuatu. Continue reading “In Memoriam “Gitu Aja Kok Repot…””

Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur

Dian Sukarno *
radarmojokerto.co.id

Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Continue reading “Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur”

Menemurupakan Gus Dur

Wahyudin *
jawapos.co.id

TAHUN 2009 ditutup dengan Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat. Itu tentu saja merupakan sebuah tutup tahun yang mengagetkan, menusuk kalbu, dan menerbitkan dukacita.

Gus Dur mengembuskan napas terakhir dalam umur 69 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, 30 Desember 2009, sekitar pukul 18.45. Berjuta orang percaya bahwa jika ajal menjelang, tak ada sesiapa pun yang kuasa menunda atau memajukannya walau sesaat. Namun, tetap saja kematian cucu Kiai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama, itu terasa mengejutkan. Continue reading “Menemurupakan Gus Dur”

Bahasa »