Alam yang tak Mencemaskan

Ahda Imran
pr.qiandra.net.id

DALAM hampir semua novel Indonesia yang mencoba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai masalah yang diangkatnya. Alam bukankah ancaman yang mencemaskan dan menakutkan. Alam tidaklah diperlakukan sebagai problem yang serius. Bahkan, dalam banyak puisi penyair Indonesia, alam (laut, gubung, hutan, sawah) justru menjadi objek yang penuh pesona, inspirasi. Maka yang muncul adalah kekaguman mereka pada alam. Jejak alam dalam novel Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahabatan dan persaudaraan dengan alam. Continue reading “Alam yang tak Mencemaskan”

Sutardji, Bakrie Award, dan Lapindo

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 16 Agu 2008

SEBAGAI penyair, Sutardji Calzoem Bachri telah melakukan eksplorasi kata dalam puisi sehingga kata bergerak mencari kemungkinan arah dan tujuannya, saling membentur demi membentuk keseluruhan yang tak teramalkan. Sutardji menemukan kembali mantra, memulihkan kembali tenaga bahasa yang terlanjur dimelaratkan oleh komunikasi massa. Demikian salah satu alasan mengapa Freedom Institute memilih Sutardji sebagai penerima anugerah Bakrie Award 2008 Bidang Kesusastraan, seperti termaktub dalam website mereka www. freedom-instute.org. Continue reading “Sutardji, Bakrie Award, dan Lapindo”

Bandung, Sastra, dan Perayaan

Ahda Imran
pikiran-rakyat.com 27 Des 2008

BAIK lupakan Komunitas Utan Kayu (KUK) dan newsletter Boemi Poetra dengan “perang” politik sastra mereka; begitu juga Sutarji Calzoem Bachri yang bersedia menerima Bakrie Award 2008 dengan tanggapan pro-kontra yang menyertainya; atau kumpulan “Jantung Lebah Ratu” karya Nirwan Dewanto dan novel Ayu Utami “Bilangan Fu” yang memenangi Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008, atau Anugerah Pena Kencana Continue reading “Bandung, Sastra, dan Perayaan”

Sastra Indonesia di Mata Dunia

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

DALAM pergaulan sastra dunia, sastra Indonesia adalah sebuah terra in cognita, ruang gelap yang tak diketahui dan tidak dikenal. Jika pun ada karya sastra Indonesia yang dikenal dan sempat disebut-sebut dalam pergaulan sastra dunia, semuanya selalu serbaparsial, tidak utuh dan menyeluruh. Karya sastrawan Indonesia di mata dunia selalu pada akhirnya hanya berhenti pada nama itu-itu saja, Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, W.S. Rendra, atau Y.B. Mangunwijaya. Continue reading “Sastra Indonesia di Mata Dunia”

Bahasa ยป