Membaca Aceh Dalam Sastra

Ahda Imran
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM sejarahnya, Aceh tak pernah sepi dari perbincangan. Mulai dari kekayaan alamnya, masa lalu yang gemilang dengan sejumlah kerajaan besar, perlawanan rakyatnya terhadap kolonialisme, masa suram di tengah berbagai konflik, hingga bencana tsunami. Seluruhnya terekam dalam perkembangan karya sastra di Aceh, mulai sejak Hamzah Fanzuri, Nuruddin Ar-Raniry, Chik Pante Kulu, hingga generasi terkini, karya sastra Aceh merepresentasikan perkembangan sejarah yang menarik, baik sejarah ihwal Aceh dan kekayaan budayanya ataupun sejarah dalam kesusastraan itu sendiri. Continue reading “Membaca Aceh Dalam Sastra”

Sastra Sunda Minus Kritik

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SASTRA Sunda hari ini berada dalam perkembangan tradisi kritik yang menye-dihkan. Karya-karya terus lahir tapi kritik seolah jauh tertinggal di belakang. Hadiah sastra Rancage, Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), dan sejumlah hadiah sastra dari berbagai lembaga seperti Paguyuban Pasundan atau juga majalah Mangle juga sayembara-sayembara, agaknya bisa dibaca sebagai bagian dari infrastruktur kritik. Akan tetapi berbagai hadiah dan sayembara itu sampai hari ini tidak (atau mungkin belum) melahirkan wacana pemikiran atas sastra Sunda. Continue reading “Sastra Sunda Minus Kritik”

Sastra 2009: Sastra Pertumbuhan

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SULIT sekali mengelak untuk tidak mengatakan bahwa pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 2009 sesungguhnya berutang kepada Mark Zuckerberg. Paling tidak, sepanjang 2009 jejaring sosial Facebook telah memberi corak tersendiri dalam peta pertumbuhan dan pergaulan sastra Indonesia. Sebuah corak yang menyediakan berbagai sudut pandang pertumbuhan dan pergaulan sastra; baik sebagai mediasi karya, isu, akses, interaksi antarpersonal dan komunitas, hingga yang menyangkut perkara identitas dan eksistensi. Continue reading “Sastra 2009: Sastra Pertumbuhan”

Sastra, Kebangsaan, Konferensi

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

HUBUNGAN antara sastra dan proses terbentuknya kesadaran suatu bangsa adalah hubungan yang niscaya. Sejarah kesusastraan, di mana pun, senantiasa memiliki korelasi dengan proses berlangsungnya karakteristik suatu bangsa, bagaimana kesadaaran itu tumbuh dan berproses dalam berbagai perdebatan, bahkan pertentangan. Dengan kata lain, berbagai perdebatan dalam kesusastraan dan kebudayaan umumnya senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan soal pembangunan kesadaran karakter bangsa dan kebangsaan. Terlebih lagi, nasionalisme senantiasa menghendaki bentuk-bentuk pengertian yang bergerak demi menjawab waktu dan ruangnya yang menjadi konteksnya. Continue reading “Sastra, Kebangsaan, Konferensi”

Sastra dari Temu Sastrawan Indonesia

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

KARYA sastra dan fenomena sastra sebagai perbincangan niscaya menghendaki adanya sebuah desain dari dan ke arah mana perbincangan itu hendak difokuskan, untuk sekaligus juga mengandaikan bahwa perbincangan itu akan menawarkan berbagai pemikiran serta berbagai sudut pandang atas fenomena tersebut. Artinya, sastra sebagai peristiwa perbincangan mensyaratkan betapa peristiwa itu harus berhulu dari desain pembacaan atas fenomena yang tengah terjadi, sebelum kemudian penetapan sebuah fokus terhadap fenomena itu melahirkan semacam frame tematik. Continue reading “Sastra dari Temu Sastrawan Indonesia”

Bahasa ยป