Kisah Melarut di Secangkir Kopi

Akhiriyati Sundari

15:11 WIB. Kukayuh sepeda kumbangku melintasi Kotabaru. Jalan I Dewa Nyoman Oka. Lalu lurus menyisir ke arah Jalan Cik Di Tiro. Bablas. Sebuah kampus besar arah utara bundaran, kini pintu masuknya telah latah dipasangi portal. Terlihat begitu jelek di mataku. Begitu angkuh (seperti Kampus Oranye, calon almamaterku). Kutembus begitu saja. Rasanya seperti memasuki areal parkir utama waralaba terbesar negeri ini. Continue reading “Kisah Melarut di Secangkir Kopi”

Dari Jogja – Jepara, ke Blora

Akhiriyati Sundari

Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya minal Jogja – Jepara – Kudus – Pati – Rembang wa akhirihi ilal Blora.

Seorang penyair yang diam-diam saya kagumi pernah menuliskan; salah satu rahasia terpenting dalam hidup adalah pertemuan. Ya, karena pertemuan rupanya menyimpan kemungkinan-kemungkinan, dan kemungkinan itu tertera menjadi dan kadang terjadi di dalam sebuah ruang bernama rahasia. Begitu juga dengan ragam pertemuan dalam hidup ini. Continue reading “Dari Jogja – Jepara, ke Blora”

N Y E K A R

Akhiriyati Sundari

Ibu ingin nyekar. Keinginan itu disampaikannya berulang-ulang. Ibu ingin seperti umumnya warga di kampung kami. Bersiap jelang bulan suci Ramadhan dengan nyekar. Tradisi yang biasanya dirangkai dengan besik atau bersih-bersih makam itu diakhiri dengan berdoa, mendoakan arwah yang dikubur. Berikut moyang-moyang terdahulu. Ibu juga ingin kembali nyekar, lusa, usai sembahyang Ied di masjid kampung. Kebetulan, sarean atau pemakaman umum utama kampung kami terletak persis di samping masjid. Continue reading “N Y E K A R”