Sastra dan Tanda

Alex R Nainggolan
Riau Pos, 24 Agu 2014

Perlukah sastra sebuah tanda? Perlukah sastra sebuah identitas, semacam layaknya kartu tanda penduduk, yang dilengkapi dengan jenis kelamin atau agama? Saya rasa tidak. Seperti yang pernah diungkap H.B. Jassin—berpuluh tahun lampau—bahwa sastra itu universal. Sastra itu melingkupi kemanusiaan itu sendiri, menyeluruh, tanpa perlu diberikan benteng ataupun palang yang melingkupinya. Ia bisa bertindak bodoh, kemayu, wangi, amoral, religius, dsb. Sastra dengan kekayaan kata-kata yang diberkahinya melingkupi kehidupan itu sendiri.

Sastra hadir si setiap sisi kehidupan. Ia semacam cermin—sebagaimana yang pernah diungkap pemikir Yunani klasik—sebagai mimesis (tiruan) dari alam. Sastra melebur pada pencapaian estetika, yang hanya bisa dinikmati dengan pembacaan cerdas dan dalam. Sastra, dengan demikian, tak perlu dikotak-kotakan—sebagaimana yang kerap dilakukan oleh kalangan sastra(wan) itu sendiri—sebagai sastra(wan) Islami, sastra(wan) Utan Kayu, sastra(wan) eksil, sastra(wan) feminis, dsb..

Sastra, sebagai teks, sesungguhnya akan bergerak dengan sendirinya, tanpa peduli siapa penulisnya. Dengan kekayaan khazanah bahasa yang dimilikinya: bisa liar atau subversif dan bisa juga tenang tanpa kegalauan, sastra semacam media yang tak berhenti membuka tafsir yang luas dengan kekayaan khazanah bahasa yang dimilikinya. Kandungan kata-katanya bisa saja liar, subversif, atau mungkin tenang tanpa kegalauan. Namun, ia pada hakikatnya memang bebas. Sebagaimana kredo yang dilontarkan Tardji, kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Tanpa ada sekat yang menghalanginya.

Celakanya, kita kerapkali terjebak pada dikotomi (pengotakan) semacam itu. Kita yang menciptakan batasan itu sendiri dengan memberikan sebuah tanda yang baru. Meskipun diperlukan, seharusnya tanda yang baru itu tidak menisbikan keberagaman karena sesungguhnya mula dari karya sastra ialah pencarian dari batin si pengarang. Oleh karena itu, tak mengherankan jika kita akan selalu menemukan gaya penulisan baru, baik dalam puisi, prosa, maupun drama yang menggetarkan dan menakjubkan. Setiap kali berhadapan dengan karya sastra, kita seperti dihadapkan pada sejumlah identitas baru yang mengisyaratkan bahwa begitu majemuknya sebuah peristiwa, tabiat, ataupun karakter manusia.

Apabila dijabarkan lebih jauh, tentu yang diharapkan tumbuh dari karya sastra adalah sebuah keberagaman—yang bisa menciptakan kemahfuman atas sebuah karakter yang dibentuknya. Melalui karya sastra, sebuah perbedaan akan terus ditawarkan untuk diarifi. Dalam puisi, misalnya, kita bisa bertemu dengan gaya Acep Zam-zam Noor—yang begitu sabar dan sedikit nyeleneh, tetapi “kena” dalam sajak-sajaknya. Kita pun dapat bertemu dengan Joko Pinurbo melalui filsafat celananya, pun dengan Marhalim Zaini dengan segala hal-ihwal kemelayuannya. Semuanya itu bermula dari pencarian sastrawan yang digali dari kehidupannya. Jika kehidupan adalah sebuah puisi, dengan demikian, sesungguhnya puisi adalah hasil penyulingan yang abadi dari seluruh babak kehidupan (peristiwa) manusia.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan George Lukacs, fungsi narasi sastra (puisi) merupakan refleksi (pantulan) kembali masyarakatnya. Setiap kehidupan yang dipilih dan dipilah itu diramu ulang oleh sastrawan dalam bahasa yang segar, tak terkecuali kilatan peristiwa yang paling tragis sekalipun. Pada umumnya, karena penjabaran tepi-tepi kehidupan manusia itu dilakukan dengan cara yang tak biasa (seluruh proses bertemu dan kemudian dihidupkan kembali dalam temali kata dan kalimat), penilaian karya sastra sangat bergantung pada bagaimana dan dengan cara apa seseorang menikmatinya.

Celakanya, sastra pula yang mendapatkan tempat paling tragis dalam kehidupan masyarakat. Tidak setiap karya sastra yang lahir mendapatkan tempat di hati masyarakat. Jika pun ada, tidak banyak masyarakat yang dengan sungguh-sungguh menggali makna sebuah karya sastra. Masyarakat cenderung apatis dan tetap membiarkan sastra itu bergerak sendiri di dalam lingkarannya sendiri.

Beberapa puisi memang sempat ada yang dikenang, bahkan menjadi slogan abadi dalam kehidupan: dibacakan tak putus-putus, seolah tak pernah lekang oleh zaman. Di samping puisi-puisi yang merupa jejak-jejak zaman itu tetap hidup, kita pun mendapati pelbagai cerita (baik yang berisi teka-teki, keganjilan hidup, maupun berbagai upaya manusia mempertahankan kehidupan) hidup subur di masyarakat. Bahkan, “Cerita 1001 Malam”, misalnya, telah pula menjelma jadi legenda, membekas di dalam pikiran, meskipun hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Namun, itu terjadi pada masa lalu. Belakangan ini hal itu mulai pudar.

Dalam tatanan masyarakat yang besar dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan mimpi yang melingkar penuh pijar harap yang berbinar, mungkin masyarakat tidak lagi mau mengalami berbagai peristiwa tragis dalam menjalani kehidupannya. Pada umumnya, mereka ingin hidup enak tanpa proses (bekerja). Segala hal dianggapnya dapat instan: bim salabim, jadilah.

Lalu, apakah membaca karya sastra merupakan peristiwa tragis? Pembacalah yang harus menjawab.
***

https://rubrikbahasa.wordpress.com/2014/08/24/sastra-dan-tanda/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*