
Fatah Anshori * Continue reading “Cinta Semanis Racun, Penerjemah Anton Kurnia”
Kematian Kedua
Anton Kurnia *
Koran Tempo, 12 Okt 2014
BUKAN kematian mengejutkan si Pak Guru John Keating dalam Dead Poets Society yang pernah memukaumu dengan mantra “Carpe diem!” yang membuatku menuliskan kisah ini. Bukan pula “Smells Like Teen Spirit” yang kudengar lagi setelah bertahun-tahun dan membuatku terbayang sosok urakan Kurt Cobain yang pernah membuatmu tergila-gila sebelum dia menarik pelatuk maut untuk mengakhiri hidupnya yang muda dan murung. Continue reading “Kematian Kedua”
Penerjemah
Anton Kurnia *
Majalah Tempo, 17 Nov 2014
Dalam penutup tulisannya, “Terjemahan” (Tempo, 11-17 Agustus 2014), Goenawan Mohamad mengutip Sapardi Djoko Damono: “Tak ada penerjemahan yang salah; yang ada adalah karya (yang disebut ’terjemahan’) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita.” Continue reading “Penerjemah”
Merah yang Bukan Kirmizi
Anton Kurnia *
Majalah Tempo, 10 Feb 2014
Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.” Continue reading “Merah yang Bukan Kirmizi”
Sastra Indonesia di Pentas Dunia
Anton Kurnia *
dw.com
Tahun ini kita memperingati 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, masih banyak hal yang harus kita benahi. Dalam bidang sastra, misalnya, sejujurnya karya sastra Indonesia masih menjadi terra incognita—negeri tak dikenal—dalam pentas sastra dunia. Salah satu sebabnya, meski kita cukup banyak menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Indonesia, adalah tak banyak karya sastra kita yang diterjemahkan ke bahasa asing, terutama bahasa utama dunia seperti Inggris, Jerman, dan Prancis. Continue reading “Sastra Indonesia di Pentas Dunia”
