Cinta Semanis Racun, Penerjemah Anton Kurnia


Fatah Anshori *

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang menuntut saya untuk menyelesaikan buku kumpulan cerpen, Cinta Semanis Racun yang dikumpulkan dan diterjemahkan oleh Anton Kurnia.

Salah satunya adalah apa alasan suatu cerpen dapat dimuat dan dibaca oleh pembaca dalam skala internasional. Namun sejauh saya membaca hingga habis, saya masih belum tahu jawaban yang tepat atas pertanyaan saya sendiri. Hanya saja ada sedikit bagian-bagian tentang cerpen yang saya mengerti.  Seperti teknik menulis atau membuat cerita, gambaran sosial tentang masyarakat dunia, dan masih banyak kepingan-kepingan lain tentang cerpen yang tidak bisa saya katakan semuanya disini.

Cerpen-cerpen yang ada dalam buku kumpulan Cerpen Cinta Semanis Racun. Sebagian besar dari cerpen-cerpen yang terkumpul di buku tersebut memang pernah dimuat di koran nasional, Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan kawan-kawannya tentu saja. Memang seperti yang telah dituliskan di daftar pustaka, cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini didapatkan dari beberapa kumpulan buku cerpen dunia, koran, majalah, jurnal dan terakhir adalah situs Words Without Borders. Itu adalah sebuah situs yang ternyata telah memuat dan menerjemahkan cerpen-cerpen dunia ke dalam bahasa Inggris.

Saya sebenarnya tidak begitu banyak mengerti tentang cerpen hanya saja saya suka dan barangkali terobsesi dengan cita-cita naif saya untuk menjadi penulis sekelas mereka yang karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Dan tentu saja saya suka membaca, meski harus saya akui, tidak semua apa yang saya baca dapat saya pahami dan benar-benar masuk di kepala saya. Entah memang kepala saya yang bermasalah atau memang karya-karya mereka yang menuntut untuk dibaca berulang-ulang agar pembaca yang tolol seperti saya, tahu diri. Tapi entahlah, sebelum saya melipir kemana-mana. Izinkan saya berusaha berbicara sedikit tentang cerpen-cerpen dunia ini.

Kita mulai dengan Cerpen-Cerpen Asia Timur, tentu saja kita akan bertemu dengan Haruki Murakami, ia kembali membawa cerita yang plotnya kerap membuat saya merasa percaya diri, bahwa plot itu seperti seni, tidak usah direncanakan sejak awal dan akan terbentuk sendiri seiring kita menuliskan cerita tersebut. Baru saya sadari ternyata itu yang bisa saya ambil darinya. Kemudian,Yokomitsu Riichi, Ryunosuke Akutagawa, Gao Xingjian, Mo Yan dengan Cerpennya, Obat Mujarab. Sebelumnya saya pernah membaca cerpen ini di sebuah situs lakonhidup. Cerpen ini menceritakan tentang usaha seorang anak dan ayah mencuri empedu dari mayat seseorang yang baru saja di eksekusi di dekat jembatan yang dilakukan oleh pemerintah pada sekelompok orang. Cara menturkan masalah serius dengan setting yang tidak lazim, membuat saya harus menandai namanya sebagai penulis yang kelak harus saya baca bukunya.

Selanjutnya kita beranjak ke Asia Selatan dan Timur Tengah. Kita akan bertemu Etgar Keret, Parwin Faiz Zadah Malal, Saadat Hasan Manto, R.K. Narayan, Taslima Nasrin, Ibrahim Samu’il, Khushwant Singh, Zakaria Tamer. Diantara nama-nama itu mungkin yang kerap jadi perbincangan adalah Etgar Keret. Beberapa cerpennya pernah saya baca dari blognya Bernard Batubara. Efektivitas bercerita Keret yang tidak berlarut-larut adalah salah satu cirinya. Namun diantara nama-nama itu yang paling berkesan dan saya suka adalah R.K Narayan, seorang penulis India. Cerpennya, Di Bawah Pohon Beringin menceritakan tentang seorang kakek yang selalu bercerita di bawah pohon beringin. Yang saya suka Narayan berhasil membuat rasa penasaran saya terpancing di awal-awal cerita. Entah kenapa saya merasa ia telah menjadi narator yang lincah dengan humor yang juga pas.

Cerpen-cerpen Afrika Utara, kita akan bertemu dengan Nadine Gordimer, dan banyak lainnya. Namun yang berhasil mencuri perhatian saya adalah cerpen, Ular Berbisa dari Tahar Ben Jelloun. Saya suka cara Tahar memainkan plot yang tampak seolah memiliki dua plot dalam satu cerita. Namun pada akhirnya kita akan tahu bahwa dua plot tadi ternyata saling berhubungan.

Di Cerpen-Cerpen Amerika Utara, kita akan bertemu nama-nama besar seperti Ernest Hemingway, O. Henry, Jack Kerouac, Edgar Allan Poe. Di cerpen Amerika Utara ini, Ernest Hemingway dan O. Henry adalah dua orang yang paling membuat saya tertarik, cara menulis mereka menurut saya benar-benar rapi. Kalimat yang mereka pakai adalah kalimat-kalimat yang sederhana. Cara visualisasi yang sangat kuat sehingga pembaca benar-benar mampu untuk memahami apa yang ingin digambarkan penulis. Namun tidak jarang juga penulis hanya melipir saja. Tapi tetap menyenangkan, mereka menunjukkan cara melipir yang tidak membosankan.

Sementara di Cerpen-Cerpen Amerika Latin dan Karibia. Kita akan bertemu dengan Roberto Balano, Jorge Luis Borges, Julio Cortazar, Carlos Fuentes, Gabriel Garcia Marquez, Juan Rulfo, dan masih banyak lagi. Beberapa waktu yang lalu saya sempat berfikir, seiring semakin luas bacaan kita maka akan semakin banyak pula kita terpengaruh. Mungkin semacam itu, seiring waktu kita akan bosan pada hal-hal yang mainstream selanjutnya kita akan mencari jeda dan beralih ke hal-hal baru yang tidak membosankan, mungkin seperti itulah cara sebuah karya menjadi beragam. Begitu juga dengan menulis, semenjak membaca karya-karya cerpen dunia, jujur banyak sekali yang tidak saya mengerti tentang struktur kepenulisan, sudut pandang, plot, atau bagaimana humor-humor yang membuat narator tampak menyenangkan di mata pembaca. Sedikit banyak saya yakin nama-nama besar itulah yang mempengaruhi penulis-penulis setelahnya.

Cerpen-cerpen Eropa Timur. Di kawasan ini ada Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Franz Kafka, Leo Tolstoy, dan beberapa yang lain. Hampir keseluruhan saya suka dengan cerpen mereka, namun disini saya sedikit tertarik dengan Anton Chekov yang mempunyai latar belakang seorang Dokter. Mulanya saya berpikir bahwa profesi paling tidak akan mempengaruhi karya-karyanya, namun di cerpen Varka Hanya Ingin Tidur, Anton Chekov seperti tidak menampakkannya sama sekali. Namun ia hanya mengulas bagaimana psikologi seorang Varka, keseharian seorang pembantu rumah tangga yang tidak diberi kesempatan untuk beristirahat sama sekali dan ending cerita yang membuat saya termenung bahwa Chekov ingin memberi pelajaran pada kaum elit dengan ending yang tragis.

Cerpen-cerpen Eropa Barat dan Skandinavia, kita akan bertemu dengan James Joyce, Guy de Maupassant, Salman Rushdie, Dacia Maraini, Angela Carter, dan masih sangat banyak nama-nama lain yang belum begitu akrab ditelinga saya. Kawasan ini saya tertarik dengan Salman Rushdie. Di cerpennya, Wawancara ia menceritakan tentang seseorang yang tengah berusaha mencari pekerjaan, namun ia selalu gagal dalam tes interview. Setelah kian lama ia baru sadar bahwa orang yang menjadi pewawancara di setiap perusahaan adalah orang yang sama. Sampai disini saya suka cara Salman membuat konflik, bermula dari kejadian-kejadian yang kerap kita temui sehari-hari. Namun ia seolah dengan mudah membuat lompatan, atau konflik yang tidak lazim. Yang mana kita tahu apapun di dunia ini yang berbau tidak lazim, atau anti mainstream sering membuat orang-orang tertarik, entah itu gila, tidak waras, atau semacamnya. Di dalam hati kita pasti mengumpat, mencaci, namun kita tidak sadar telah terseret untuk memperhatikan ketidaklaziman itu. Mungkin itulah yang telah berhasil Salman Rushdie lakukan di cerpennya.

Terakhir Cerpen dari Australia dan Oseania. Hanya ada dua penulis Peter Carey dan Thomas Keneally.
Cerpen-cerpen dunia seperti itulah yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Cinta Semanis Racun, memang tidak seluruh cerpen mampu saya ulas disini. Terakhir saya menyadari bahwa cerita mungkin hanyalah sebuah cerita, tentang untuk apa, kenapa, dan dituliskan dengam cara apa. Jika semua cerita diciptakan atau dituliskan untuk memberi pelajaran moral dan sebagainya yang baik-baik, tentu kita akan membenci cerita yang tidak memiliki pesan moral, terutama jika seluruh tokoh yang hidup didalam cerita tidak memiliki kesadaran berbuat baik alias bajingan seperti yang ada di novel Cantik Itu Luka. Tentu kita akan mengumpat ini cerita buruk bahkan mungkin cerita yang gagal. Namun di dunia ini terlalu banyak sekali cerita entah itu baik ataupun buruk dan terlalu banyak teknik bercerita yang di gunakan setiap penulis. Maka mungkin cerita tetaplah cerita tentang bagaimana kita menikmatinya, dan melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.

Sebenarnya saya membaca cerpen-cerpen dunia tidak lain karena ingin belajar banyak bagaiamana cerpen-cerpen yang bagus itu dituliskan dan tentang apa saja, bagaimana tekniknya,  banyak sekali yang masih belum saya ketahuhi. Terakhir tentang Inses intelektual, yang pernah Eka Kurniawan singgung di Jurnalnya. Ini tentang keluh kesah seseorang karena seluruh cerpen yang ia kirimkan ke media tidak pernah dimuat. Dan dengan sengaja atau tidak sengaja sang editor lantas berkicau di medsos, agar si penulis belajar dari cerpen-cerpen yang telah dimuat di media tersebut. Dan tentu saja itu akan menyebabkan perkawinan sedarah kata Kang Eka, sebagaimana kita tahu perkawinan sedarah akan menimbulkan banyak penyakit dan kelemahan. Oke, mungkin maksudnya seperti ini, Eka menganjurkan agar kita tidak hanya belajar dari cerpen-cerpen lokal, ia mengharuskan agar kita membaca dunia, agar inses yang kita lakukan menghasilkan varietas-varietas baru. Cerpen-cerpen baru yang lebih segar dan berbau sedikit antimainstream. Paling tidak ini sebagai wujud inses saya agar keturunan tidak sering sakit-sakitan dan suka batuk-batuk.

________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Belajar menulis sejak pertengahan 2014, dan novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dll. Website: fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *