Jiwa yang Diberkahi

(Tanggapan atas Puisi Puisi Nancy Meinintha Brahmana)
Beni Setia
Suara Karya, 7 Mei 2011

SEKITAR tiga tahun lalu, saya mendapat satu kumpulan cerpen unik dari seorang kawan. Sebuah Biola Tanda Cinta (tp, Surabaya, Maret, 2008). Antoloji bersama dengan dua belas cerpen dari dua belas penulis, di mana yang dua merupakan cerpen yang ditulis khusus untuk merayakan antoloji itu, sedang sepuluh cerpen lainnya telah dipublikasikan di majalah GAYa NUSANTA. Meskipun begitu: kesemuaan cerpen itu nyaris merupakan representasi rekaan yang bertolak dari pengalaman otentik eksistensialistik sebagai orang yang dimarjinalkan karena ketaknyamanan identitas, jiwa wanita dalam tubuh lelaki. Continue reading “Jiwa yang Diberkahi”

Sastrawan Gelandangan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

TERMIN sastrawan/penulis gelandangan dalam tulisan ini dilansir Linda Sarmili lihat, “Mencermati Halaman Sastra di Media Massa”, Suara Karya 23 April, hal ikonisasi membuat saya termangu. Apa memang ada termin semacam itu? Atau itu hanya ungkapan berlarat-larat gaya Melayu yang di satu sisi mendhaifkan diri sendiri, serta (sekaligus) paradoksal mengunggulkan si sastrawan mapan. Continue reading “Sastrawan Gelandangan”

Reformasi Tanpa Evolusi Mental

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

DI Bukitcermin, Tanjungpinang, Kepri, ketika acara Temu Sastrawan Indonesia III (28-30/11) saya bertemu Nurhidayat Poso (NP)>. Saat itu menjelang di tengah malam, usai malam kesenian di Anjung Cahaya, tepi pantai yang hanya sepelemparan peluru meriam dari P Penyengat yang termasyhur itu. Menyawang lekukan bukit kota Tanjungpinang yang hanya cahaya lampu, merasakan udara basah pantai serta dingin seusai gerimis. Tidak ada bulan, dan kami, S Yoga, NP, Badruddin Emce, dua teman LSM dan saya, menikmati kegelapan langit dengan kerdip lampu ekor pesawat yang melintas dalam nyaris sunyi oleh deru angin laut. Continue reading “Reformasi Tanpa Evolusi Mental”

Labirin Produktivitas

Beni Setia *
lampungpost.com

Jangan hanya mengikuti ilusi syahwat karya terpublikasikan—dan karena itu lebih bersuntuk mencari yang autentik secara orsinal.

Memahami kasus Dadang Ari Murtono, cerpenis Jawa Timur, yang pada catur wulan akhir 2010 dan awal 2011 sangat produktif mempublikasikan karya di beberapa media massa cetak nasional dan lokal, bermakna belajar memahami “sihir psikologi” dari kepuasan melihat karya terpampang di halaman koran dan majalah. Sesuatu yang membuat seorang cerpenis kesohor pun terpukau dibandingkan dengan hanya melihat manuskrip tulis yang belum dipublikasikan, atau hanya terpampang di blog. Continue reading “Labirin Produktivitas”

Sastra “Kebacut”

Beni Setia
cetak.kompas.com

Pada 29 September itu saya seharusnya hadir di forum Temu Sastra Jatim-meski yang bertemu itu ya sastrawan bukan sastra. Lepas tengah malam ada sepak bola dan istri saya sedang ikut forum peningkatan guru kesenian di Surabaya.

Jadi, ketika terjaga oleh ribut anak-anak membuat sarapan sebelum sekolah, saya tak bisa gegas mencegat bus karena sudah terlambat, meski jarak dari Purbaya ke Menanggal cuma seloncatan. Continue reading “Sastra “Kebacut””

Bahasa »