Individual dan Manifes

Beni Setia
Lampung Post, 27 Maret 2010

TONGGAK individualitas sastra Indonesia dipancangkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan Kredo Puisi yang fenomenal. Dengan kredo itu, seluruh parameter penciptaan dan apresiasi puisi yang ditulis SCB bertolak dari konsep yang dirumuskan SCB. Dengan kredo itu, SCB tidak sekadar bilang kata adalah realitas itu sendiri dan bukan sekadar media buat mengomunikasi realitas itu, tapi juga menuntut agar ”tidak menilai puisi yang kutulis dengan ukuran yang tak sesuai.” Continue reading “Individual dan Manifes”

Saat Menjadi (Orang) Tua

Beni Setia
suarakarya-online.com

KESAN sastrawi yang spontan muncul saat membaca 269 puisi Aspar Paturusi (AP) yang dikumpulkan dalam Badik (Garis Warna Indonesia, Jakarta, 2011)-dan 5 puisi antaranya dimuat di Suara Karya (Sabtu, 18/6/ 2011)-adalah pola berkreasi dan berkesenian yang penuh liukan dan lonjakan, yang dirumuskan Taufik Ismail sebagai “menggenggam semuanya … yang tak perlu ditanyakan lagi lakekomaE.” Setidaknya di paruh kedua dekade 1970-an-lebih terpatnya: 1976 dan 1977-, AP menggebrak dan membuat khazanah sastra Indonesia terperangah dengan kehadiran dua novelnya, Arus dan Pulau. Continue reading “Saat Menjadi (Orang) Tua”

Religiositas Kiri Camar Putih

Beni Setia *
http://www.lampungpost.com/

Lalu apa yang akan terjadi kalau cadangan minyak Brunei habis serta hibah kesimakmuran berakhir? Dengan apa dan secara apa mereka akan hidup di masa depan?

TERMIN Camar Putih itu merujuk kepada eksistensi Sheikh Mansor bin Sheikh Mohammad, sastrawan Brunei Darussalam. Termin Camar Putih (selanjutnya: CP) itu sebagai penanda kegemarannya akan pantai—biografi antoloji puisi Titik (selanjutnya: T), Neo Edition, Kuala Lumpur, 2007, bersama Adi Swara dan Z.A. Brunai—, Continue reading “Religiositas Kiri Camar Putih”

Perayaan Kemurungan

Beni Setia *
lampungpost.com

Mitos yang mengeliling Li Tai-Po, seorang penyair liris China klasik, berkaitan dengan arak, bersampan setengah berhanyut di arus sungai, dan menulis puisi dengan kepekaan batin merespons berdasarkan apa yang tampil di kesadarannya—baik akibat rangsangan objektif kesekitaran atau melulu hanya cetusan imajinasi instinktif dalam batin. Continue reading “Perayaan Kemurungan”

Masyarakat Tanpa Orientasi Uang (Polemik Lanjutan)

Beni Setia
Kompas, 2 Mei 2010

BERBEDA dengan Binhad Nurrohmat yang menyatakan telah ada karya sastra dengan tema uang, dan berbeda dengan Edy A Effendi yang menyatakan bahwa tema uang itu tak pernah menjadi tema utama karena insting sastra selalu bergerak dalam keserentakan aneka tema paralogi; saya merasa bila titik terjauh dari tulisan Bandung Mawardi itu justru pertanyaan mendasar: kenapa uang tak pernah jadi obsesi manusia Indonesia dan direfleksikan dalam karya sastra. Continue reading “Masyarakat Tanpa Orientasi Uang (Polemik Lanjutan)”

Bahasa »