Ludruk Karya Budaya, Cermin Yang Hidup

Jabbar Abdullah*
http://id-id.facebook.com/people/Jabbar-Abdullah/1020385855

Marsudyo wong cilik biso gumuyu (Berupayalah membuat orang kecil bisa tersenyum)– Semar —

Segala yang menjadi perhatian sudah barang tentu memiliki ?sesuatu? yang menarik dan patut untuk disimak. Begitu pula ketika membincangkan Ludruk Karya Budaya (LKB) yang menurut saya telah menjadi ?legenda hidup? sebagai salah satu ludruk yang ?mungkin? tertua dan pernah ada di Jawa Timur yang mampu bertahan hidup selama 40 tahun. Berangkat dari hasrat dan adanya ?sesuatu? yang menarik itulah tulisan ini dimunculkan dengan maksud untuk menyelami lebih dalam proses kreatif LKB dalam melangsungkan tugas berkeseniannya untuk menjadikan kesenian ludruk lebih bermartabat dan terhormat serta bukan hanya sekadar hiburan saja. Continue reading “Ludruk Karya Budaya, Cermin Yang Hidup”

BAHASA KAUSALITAS YANG RAHMATAN LIL ALAMIN

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/05/language-of-causality-that-rahmatan-lil-alamin/

Bagian I

Prolog:

Sebelum membahas pokok persoalan, marilah berserah kepada Sang Penyebab segala sebab. Bagaimana dikatakan kegentingan, karena seringkali mengartikan akibat sebagai sebab, atau sebaliknya mengerti sebab padahal itu akibat. Tentu ini menghawatirkan kesehatan iman di alam fikiran. Jika yang terpaparkan nantinya tidak bertepatan dengan ketentuan ayat-ayat-Nya, tinggalkan. Andai ada senyawa tiupan-Nya yang tersirat pun tersurat, bukan dari penulis semata. Continue reading “BAHASA KAUSALITAS YANG RAHMATAN LIL ALAMIN”

Pacitan, Ibukota Prasejarah Dunia

David Kuncara
http://jurnalnasional.com/

Manusia purba dari Sangiran dan Trinil memanfaatkan Pacitan sebagai bengkel peralatan.
PREDIKAT ?ibu kota prasejarah dunia? layak disandang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sebab, kota yang terletak di perbatasan Jatim-Jateng ini menyimpan ratusan lokasi situs prasejarah. Tak kurang dari 261 lokasi situs prasejarah. Baik dalam tahapan eksploitasi maupun yang telah disurvei tim arkeologi.

Situs-situs tersebut berada di jajaran Gunung Sewu (Pegunungan Seribu). Tersebar mulai di Kecamatan Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung hingga Kecamatan Tulakan. Continue reading “Pacitan, Ibukota Prasejarah Dunia”

Kelola Lingkungan, Bercermin pada Masyarakat Bali Kuno

Made Geria*
http://www.balipost.com/

MEMPERHATIKAN sejumlah pembangunan fisik di Bali, tidak sedikit keberadaannya yang kontraproduktif terhadap lingkungan alam. Eksploitasi terhadap alam berlebihan tanpa mempertimbangkan kekhasan alam Bali, bahkan ada pelaku pembangunan yang amnesia terhadap kearifan peradaban Bali yang justru telah teruji ratusan bahkan ribuan tahun dalam menjaga keseimbangan alam Bali.

Ada sejumlah contoh yang perlu menjadi pertimbangan dalam memahami pembangunan alam Bali secara utuh. Masyarakat Bali kuno dalam mewujudkan bangunan fisik selalu mempertimbangkan dan memberi ruang khusus terhadap keseimbangan lingkungan. Continue reading “Kelola Lingkungan, Bercermin pada Masyarakat Bali Kuno”

Islam di Mata Dua Raja Jawa

Asep Sambodja
http://oase.kompas.com/

Bagaimana kita membaca Wedhatama dan Wulangreh dalam konteks kekinian? Mungkin kita akan dengan mudah mengatakan bahwa pengarang Wedhatama, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunegoro IV terasa sinis saat membicarakan agama Islam. Sementara pengarang Wulangreh, yakni Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono IV terasa lebih bisa menerima ajaran agama Islam. Tapi, apakah sesederhana itu? Continue reading “Islam di Mata Dua Raja Jawa”