Geliat Baru Balai Pustaka

Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika23 Sep2007

Balai Pustaka yang selama ini dikesankan hanya menerbitkan buku-buku tua, khususnya sastra, kini mulai berbenah diri. Maklum, selama ini buku-buku yang diterbitkan perusahaan milik pemerintah ini seakan tidak bisa bersaing di pasar. Kemampuannya tak bisa mengimbangi inovasi dan kreativitas perusahaan sejenis milik swasta. Tengoklah di gerai toko-toko buku, amat sulit menemukan buku terbitan Balai Pustaka.

Padahal, sejarah perjalanan penerbitan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Bermula dari dibentuknya Komisi untuk Bacaan Rakyat (Commissie voor de Volkslectuur) oleh Hindia Belanda, 1908. Gerakan ini sampai mendirikan tak kurang dari 3600 Taman Bacaan di seluruh negeri, angka yang kini tak tampak wujudnya lagi.

Komisi ini lalu bersalin rupa, Balai Pustaka pun dibentuk, 22 September 1917 sebagai bagian politik etis Belanda untuk memajukan masyarakat di negara jajahannya. Kenyataannya, kesempatan itu dimanfaatkan oleh para pemikir dan pejuangan Kemerdekaan Indonesia untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan dan semangat perjuangan melalui penerbitan buku, terutama buku-buku sastra dan budaya. Perjalanan waktu membawa Balai Pustaka menjadi pelopor penerbitan buku-buku sastra dan budaya dan pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan.

Kini, 90 tahun usia perusahaan penerbitan ini. Menandai usia tersebut, PT Balai Pustaka (Persero) berkeinginan mengembalikan peran strategis tersebut. Selain tetap mengemban misi pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan, Balai Pustaka siap mengembalikan masa-masa kepeloporannya di kawasan Asia Tenggara dalam penerbitkan buku-buku, khusus sastra Melayu.

Rencana pengembangan tersebut diawali dengan melakukan perombakan dan transformasi organisasi secara mendasar. Jajaran komisaris, misalnya, tidak lagi berada di ruang terpisah sebagaimana sebelumnya, tapi di sebuah ruangan. Terjadi efisiensi. Struktur organisasi dikembangkan dengan lebih memberdayakan aspek pemasaran, budaya korporat dibangun.

Kerja sama pun dijalin dengan berbagai lembaga di dalam dan luar negeri, termasuk dengan Dawana Sdn Bhd, sebagai korporat resmi pendukung Dewan Bahasa, Malaysia. Langkah kerjasama dengan pengembang buku-buku sastra dan budaya tersebut ditandai dengan Nota Kesepahaman antarkedua pihak. ”Melalui kerjasama ini Balai Pustaka dapat memasarkan buku-buku sastra dan budaya ke seluruh wilayah Asia Tenggara, sekaligus dapat mengenalkan buku-buku bagus dari negara-negara tetangga pada masyarakat kita,” kata Dr Zaim Uchrowi, Direktur Utama Balai Pustaka.

Pengembangan usaha di Asia Tenggara ini bukan semata untuk mengembalikan posisi historis Balai Pustaka. Yakni, saat Indonesia menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan bangsa-bangsa di kawasan ini dan Balai Pustaka menjadi wahana utama penggalangan spirit serta format kebangsaan di awal Abad 20.

Lebih dari itu. Pengembangan usaha ini didasarkan pada pertimbangan yang matang bahwa bangsa Indonesia tetap merupakan salah satu pusat kekayaan dan keragaman budaya di dunia. Tak bisa dipungkiri, para pemikir dan pelaku kebudayaan Indonesia juga dipandang tinggi oleh komunitas intelektual Asia Tenggara.

Dengan modal tersebut, Balai Pustaka memungkinkan memainkan perannya kembali dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan yang dalam beberapa tahun terakhir ini dipandang perlu ditingkatkan secara sungguh-sungguh. Selain itu, menurut Zaim, Balai Pustaka akan dapat berperan dalam pengembangan budaya di tingkat regional, khususnya di lingkungan masyarakat yang berbasis bahasa Melayu, termasuk di Singapura, Thailand, hingga komunitas kecil di Myanmar, Kamboja, dan Filipina. Selain, tentu saja, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Visi Baru Langkah besar itu dibangun dengan melakukan penataan internal setelah tim direksi dilantik, 14 Juni 2007. Restrukrisasi dan perumusan kembali visi, misi, hingga budaya korporat yang lebih sesuai dengan kebutuhan pun dilakukan. Seperti dijelaskan Zaim, visi baru Balai Pustaka untuk menjadi korporat pengembang pengetahuan dan budaya di Asia Tenggara, diturunkan dalam lima misi.

Yakni, membangun karakter bangsa character & nation building), mengembankan sumberdaya pembelajaran (learning resourses), mengembangkan budaya nasional berorientasi global yang berbasis kearifan lokal (local wisdom), memberi manfaat ekonomi optimal pada seluruh stakeholder dengan prinsip good corporate governance, dan membantu masyarakat melalui coporate social responsibility (CSR) perbukuan sebagai misi kebangsaan, pendidikan, budaya, ekonomi, dan sosial.

Budaya korporat baru Balai Pustaka dikembangkan mengikuti asas empat kecerdasan: kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan mental (AQ), dan kecerdasan emosional (EQ). Empat asas ini, menurut Zaim, diakronimkan dengan istilah Senyum. Spirit bangsa digunakan sebagai semboyan korporat dimaksudkan untuk menunjukkan kesiapan kembali Balai Pustaka menjalankan peran kebudayaannya yang penting dalam memajukan bangsa Indonesia di peradaban dunia.

Tentu, Balai Pustaka tak bisa jalan sendiri menapaki langkah besar itu. Zaim pun menyadarinya. Untuk itu, Balai Pustaka menjalin kerjasama dengan berbagai pihak di komunitas perbukuan, perpustakaan, percetakan, hingga disitribusi. Kerjasama dijalin dengan banyak penerbit anggota IKAPI dalam mendukung penyediaan buku-buku referensi, bersama PT Pos Indonesia dalam bidang pemasaran dan distribusi buku, dan dengan PT Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) dalam bidang percetakan.

Untuk pengembangan dan pemasaran buku secara elektronik, Balai Pustaka juga bekerjasama dengan Digibook yang memungkinkan buku-buku dan produk budayanya dapat menjangkau masyarakat Indonesia di luar negeri. Hal serupa dijalin dengan Perpustakaan dan Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) dalam pengembangan model perpustakaan dan taman bacaan. Kini, di usia 90 tahun, Balai Pustaka kembali bergeliat, membangun taman-taman bacaan, membangun peradaban dunia, khususnya di Asia Tenggara.