Di Tepi Dua Sungai

Muhammad Yasir

Ada pohon besar yang tumbuh persis di tepi Sungai Elo dan Sungai Progo; dua sungai berair bening dan keruh – semacam simbol kehidupan orang-orang Indonesia Kecil masa lalu dan masa kini – yang bertemu dan mengalir bersamaan dan, aku pastikan, akan membuat engkau lupa tentang persoalan hidup, hingar-bingar kehidupan, dan kekacauan ekonomi dan politik di tanah terjajah ini. Telingamu juga akan mendengar dengan jelas riak dari pertemuan keduanya. Riak ini semacam seorang Agam Wispi tua Continue reading “Di Tepi Dua Sungai”

MORA’ATANA MORA’ABINANGGA

MATRA KOMPLEKSITAS PADA NERACA KEHIDUPAN ORANG KAILI

Hudan Nur *

Sulawesi Tengah khususnya Palu memiliki ragam tersendiri untuk menjaga keseimbangan alam seiring perjalanan bumi yang semakin menua. Diakui atau tidak, Palu (masih) beranjak remaja ke arah Megapolitan. Terlepas dari adat dan keseharian orang kaili, Kota Teluk Palu memiliki eksotitas yang khas dibandingkan daerah lain di Indonesia (umumnya) sebab Palu terlahir dari alam yang membentangkan pantai, lembah, dan gunung. Kecantikan Palu yang adanya mau (tidak mau) lambat laun tercemar oleh peradaban manusia yang semakin berkembang, kini Palu mulai mengenal lipstik dan beberapa jenis kosmetik luar. Kota ini terhunus kemajuan, ditambah lagi manusia yang makin egois dalam memanfaatkan alam. Continue reading “MORA’ATANA MORA’ABINANGGA”

Lembaran-lembaran Lepas Fatah Yasin Noor (II)

Fatah Yasin Noor

Lembaran 11

Kita telah lama melupakan komitmen, kawan. Kita sekarang tidak konsisten dengan cita-cita. Apa yang telah banyak menyita waktu kita sehari-hari? Menangislah untuk sebuah kekalahan ini: sisa hidup yang menipis, dan daya ingat yang juga semakin melemah. Kita malu pada Goenawan Mohamad, Daoed Joesoef, dan YB Mangunwijaya. Pandangan dan nilai-nilai hidup yang bagaimana lagi yang harus kita miliki untuk bisa “bahagia”? Continue reading “Lembaran-lembaran Lepas Fatah Yasin Noor (II)”

Catatan Perjalanan di Bogor dan Bertemu Emil Ola Kleden (IV)

Muhammad Yasir

Setelah menyelesaikan “The Death of Ivan Ilyich” karya Leo Tolstoy dan mempelajari teror negara yang lahir dari kecemasan sekian warga negara Indonesia, aku menyimpulkan bahwa langit Bogor selama perjalananku di sana seperti wajah seorang perempuan tua, tetanggaku, memarahi seorang anak lelaki, anak seorang tukang becak, yang tidak sengaja memecahkan vas bunga miliknya. Dalam hukum akal sehat dan nuraniku, anak lelaki itu tidak bersalah bukan karena ketidaksengajaan, tetapi hembusan angin kencang itulah yang mengarahkan bola ke vas bunga itu. Apa peduli? Continue reading “Catatan Perjalanan di Bogor dan Bertemu Emil Ola Kleden (IV)”

Bahasa »