TERIMA KASIH DRAMA MONAS

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Indonesia laksana memasuki zaman anomali. Maka, ia perlu dilihat dari perspektif yang tak lazim, dari kenyelenehan. Atau dalam bahasa Michel Foucault yang mengutip gagasan Pascal: ?Manusia pastilah demikian gilanya, sehingga ?kalaupun ia tidak gila?tetap dianggap gila dari sudut pandang kegilaan yang lain.? Begitulah pada saat bangsa ini dihadapkan pada anomali dan berbagai kegilaan, harus ada peristiwa yang lebih gila. Setidaknya, harus ditempatkan sebagai kenyelenehan. Hanya dengan itu, stres dan depresi kita ketika menghadapi berbagai himpitan ekonomi, ketidakpercayaan pada pemerintah, dan kemuakan pada partai politik, agak terhibur dan dapat melupakannya sekejap. Continue reading “TERIMA KASIH DRAMA MONAS”

Pembubaran Diskusi Buku: ?Dari yang Terbuang dan Dibungkam?

Astrid Reza
http://www.syarikat.org/

TANGGAL 3 Juli 2010, pukul 6 sore, datang orang-orang bersorban. Mereka hilir mudik di depan kaf?. Jam 7 malam, Polres Bantul menurunkan 50 orang personil. Mereka duduk-duduk di tempat diskusi akan digelar. Setengah jam kemudian, peserta diskusi dicegat massa. Terdengar deru motor yang digas kencang-kencang dari depan tanah lapang seberang kafe. Empat orang, satunya berkopiah, masuk dan duduk-duduk bersama petugas dari Polsek Kasihan dan Intel Kodim. Continue reading “Pembubaran Diskusi Buku: ?Dari yang Terbuang dan Dibungkam?”

FPI dan Penodaan Citra Agama

Gugun El-Guyanie
http://suaramerdeka.com/

Aksi anarkis Front Pembela Islam (FPI) kembali menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila, Minggu (1/6) di Monas, Jakarta.

Tindakan brutal dengan mengibarkan bendera Islam itu justru melukai sejumlah tokoh Islam yang bergabung dalam AKKBB. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI itu adalah untuk kesekian, setelah berulang kali merusak dan menyerang kelompok yang tidak sependapat dengan mereka. Wajar jika banyak tuntutan dari organisasi kemasyarakatan (ormas) lain yang moderat, menuntut pemerintah untuk membubarkan FPI. Beragama dengan gaya premanis ala FPI sangat menodai Pancasila yang telah disepakati sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Continue reading “FPI dan Penodaan Citra Agama”

Menjenguk Marx di Britania

Andari Karina Anom
http://majalah.tempointeraktif.com/

PEKUBURAN Highgate bukanlah tujuan utama mayoritas turis di London, Inggris. Orang lebih suka menengok Istana Buckingham atau lonceng Big Ben, yang jadi ikon wisata negeri itu. Tapi Sigit Susanto bukan kelompok kebanyakan itu. Dia lebih suka menepi ke kawasan pemakaman sepi: di situlah jazad Karl Marx dikebumikan.

Tak cukup berziarah ke makam, Sigit juga meniti jejak tokoh komunis itu di London. Saat berkunjung ke British Museum, ia tak hendak mengisahkan koleksi-koleksi museum yang dahsyat, tapi mengunjungi Reading Room. Di ruangan inilah, pada periode 1860-1867, Marx hampir setiap hari duduk berjam-jam menyelesaikan Das Kapital (hlm. 325-340). Continue reading “Menjenguk Marx di Britania”

Requiem untuk Aceh

Idrus F. Shahab, Mustafa Ismail, Yuswardi A. Suud, Nurdin Kalim, F. Dewi Ria Utari
majalah.tempointeraktif.com

Allah hai do do da idi/ Boh gadong biye boh kaye uteun/ Rayeuk si nyak hana peu ma bri/ Aib ngon keji ureung donya keun. (lirik Do do da idi)

Suara perempuan itu seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan. Di layar kaca, tubuh-tubuh bocah berjajar rapi, mata dan rahangnya terkatup. Tubuh-tubuh kecil yang tak lagi bergerak, beku, tapi suara Cut Aja Rizka Syarfiza, personel kelompok Nyawoung, mendendangkan sebuah lullaby, satu dendang pengantar tidur, Do do da idi. Kita tahu, Do do daidi bukan lagu sedih. Nada-nadanya bergerak lambat dalam skala mayor, tapi pesannya mendalam: jangan pernah takut pada kematian, jika itu merupakan pengorbanan untuk tanah air. Continue reading “Requiem untuk Aceh”

Bahasa ยป