Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca

F Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Chicklit dan teenlit adalah cerita tentang keajaiban di pasar buku. Tentang sebuah novel dengan judul berbahasa Inggris, Nothing But Love?diindonesiakan menjadi Semata Cinta?yang meledak. Novel yang langsung ludes dalam dua minggu setelah dicetak 3000 eksemplar.

Itulah yang terjadi pada Juli 2004. Penyair Sitok Srengenge, pendiri penerbitan KataKita, tertegun, lebih-lebih penulis novel itu adalah putrinya sendiri. Namun, sukses Nothing But Love memantapkan hatinya untuk menerbitkan buku selanjutnya. Teenlit kedua berjudul Conchita, Pembajak Cinta. Bukan karya Laire, putri tunggalnya. Continue reading “Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca”

Kepengurusan Kebudayaan

Nunus Supardi
suaramerdeka.com

Tidak tepat jika lembaga kebudayaan di pemerintahan diusulkan untuk dihapus. Juga tidak tepat apabila keberadaan lembaga kebudayaan di masyarakat dibiarkan atau malahan dimusuhi. Lembaga ini diperlukan karena menjadi wadah aktivitas pemilik kebudayaan. Lembaga itu menjadi kantong yang potensial dan sumber kekuatan dalam memajukan kebudayaan bangsa. Lembaga semi pemerintah juga perlu dipertahankan keberadaannya karena tidak semua lembaga kebudayaan memiliki kemampuan untuk mandiri. Continue reading “Kepengurusan Kebudayaan”

Membicarakan Plus Minus Pramoedya

(Pramoedya Ananta Toer, Perahu yang Setia dalam Badai)
Arwan Tuti Artha
http://www.kr.co.id/

BUKU ini rasanya tidak terlalu istimewa, jika hanya membicarakan soal Pramoedya Ananta Toer. Apalagi, isinya berbagai kumpulan tulisan yang sebelumnya sudah dimuat media massa dan nyaris tak ada yang baru. Judulnya pun tidak simpel. Panjang dan penuh penjelasan. Pram misalnya diibaratkan sebagai perahu yang setia dalam badai. Toh, masih harus dijelaskan lagi sebagai serba-serbi tentang Pram. Tetapi, sebagai buku referensi yang membicarakan plus dan minusnya Pram, tak bisa dianggap enteng upaya yang dilakukan Penerbit Bukulaela ini. Continue reading “Membicarakan Plus Minus Pramoedya”

INE FEBRIYANTI – HAPPY SALMA Terlibat Teater Akbar Nyai Ontosoroh

Laurentius
http://www.suarakarya-online.com/

Setelah absen selama tiga tahun di panggung hiburan, artis dan presenter Ine Febriyanti kembali ke dunia teater. Tak tanggung-tanggung, ia langsung terlibat dalam pementasan teater akbar, Nyai Ontosoroh. Sebuah pementasan teater yang diadaptasi dari sebuah novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, yang telah disadur ke dalam 40 bahasa. Continue reading “INE FEBRIYANTI – HAPPY SALMA Terlibat Teater Akbar Nyai Ontosoroh”

Bahasa ยป