A.D. Pirous, Zikir Visual Pelukis Tak Berbakat

Dipo Handoko, Ida Farida
gatra.com

SETELAH 17 tahun absen berpameran tunggal, Abdul Djalil Pirous, pelukis yang banyak menekuni kaligrafi, kembali menggelar pameran serial bertajuk Restrosepktif 2. Perhelatan yang dihadiri 300 tamu itu diselenggarakan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin pekan lalu. Forum ini sekaligus menandai usia ke-70 tahun lelaki kelahiran Meulaboh, Aceh, itu. Acara juga diisi dengan peluncuran buku perjalanan berkeseniannya berjudul A.D. Pirous: Vision, Faith and a Journey in Indonesian Art, 1955-2002. Continue reading “A.D. Pirous, Zikir Visual Pelukis Tak Berbakat”

Seni Grafis, Bahasa Rupa yang Belum Memasyarakat

Christian Heru Cahyo Saputro*
http://www.lampungpost.com/

KOMITE Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung kerja bareng Taman Budaya Lampung dan Media Arts baru usai menggelar diskusi dan workshop seni grafis yang melibatkan 40-an seniman, mahasiswa, dan pelajar. Kegiatan yang mengusung tajuk Meniti Garis, Menuai Bentuk ini bertujuan memasyakaratkan seni grafis.

Seni grafis sebagai salah satu medium seni rupa memang belum sepopuler seni lukis, patung, dan bahasa rupa lainnya. Bahkan seni grafis yang lebih dikenal dengan desain komunikasi visual baru terindentifikasi ketika bersinggungan dengan ranah pendidikan. Padahal seni grafis sudah dikenal di Indonesia sejak 1940-an. Continue reading “Seni Grafis, Bahasa Rupa yang Belum Memasyarakat”

Penjara Teks Kaum Borjuis dalam Sastra

Agung Poku
http://bahasa.kompasiana.com/

Tidak benar jika dikatakan bahwa kita (Rusia) hanya menghargai seni yang baru dan revolusioner, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut para penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital! (Leon Trotsky; The Social Roots and the Social Function of Literature)

Ungkapan ini muncul ketika wacana perdebatan seni murni dan seni bertendensi masih riang berkicau. Terutama saat itu Stalin berkuasa. Serangan – serangan terhadap konsepsi marxis sampai juga pada ranah seni, lebih kecil lagi sastra. Continue reading “Penjara Teks Kaum Borjuis dalam Sastra”

Danarto Terinspirasi Dunia Pewayangan dan Sufisme

Joanito De Saojoao
http://www.suarapembaruan.com/

Tiada hari tanpa menulis dan menggambar. Itulah sosok sastrawan sekaligus perupa Danarto (69) yang begitu mencintai karya seni. Kreativitasnya selalu saja mengalir tanpa henti meski sudah memasuki usia senja. Tak heran jika ia dikenal sebagai pelukis dan sastrawan yang produktif di Indonesia.

Sosoknya yang ramah dan rendah hati memberikan kontribusi tersendiri dalam perkembangan dunia sastra dan seni rupa di Tanah Air. Pasalnya, perintis seni kreatif ini selalu menciptakan karya-karya yang luar biasa. Continue reading “Danarto Terinspirasi Dunia Pewayangan dan Sufisme”

Jumartono, Pelukis Neo Candi Nominee Indonesian Art Award (IAA) 2010

Zawawi Se

Pergulatannya dalam dunia kepelukisan untuk menemukan jati diri pernah membuatnya merasa putus asa ketika berbagai eksplorasi yang dilakukannya tidak memuaskan hati. Bahkan hasil explorasi-eksplorasi tersebut malah membuatnya merasa seperti menjadi epigon para pelukis terdahulu.

Lalu, bermula dari ketidaksengajaannya berkunjung ke sebuah toko bangunan bersama seorang teman beberapa tahun yang lalu, Jumartono melihat berbagai jenis material batu-batuan dan pelapis lantai/dinding di toko tersebut. Sebagai seorang pelukis, seketika itulah timbul inspirasinya untuk menggunakan salah satu material batu-batuan yaitu batu candi sebagai medianya dalam melukis. Continue reading “Jumartono, Pelukis Neo Candi Nominee Indonesian Art Award (IAA) 2010”

Bahasa ยป