Mencari Identitas Sastra Indonesia

Temu Sastrawan Indonesia II: Sastra Indonesia Pascakolonial, 30 Juli-2 Agustus 2009

Y. Thendra BP

Sastra moderen Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perpanjangan dan politik kolonial Belanda dengan keberadaan Balai Pustaka-nya pasca lingua franca, bahasa Melayu menjadi bahasa administratif pemerintahan lewat pengajaran di sekolah. Keberadaan sastra moderen Indonesia sebagai sastra pascakolonial, tentu berbeda dengan sastra pascakolonial di negara-negara Dunia Ketiga lainnya. Continue reading “Mencari Identitas Sastra Indonesia”

Harga Mahal Untuk Sebuah Kesungguhan

Salman Rusydie Anwar

Beberapa tempo waktu yang lalu, seorang kawan memberitahu saya tentang adanya pemilihan lurah di sebuah tempat. Tetapi dia tidak hanya berhenti pada sebatas pemberitahuan itu, melainkan juga mengajak saya untuk memberikan suara terhadap siapa kira-kira orang yang akan saya dukung pada pemilihan tersebut.

“Saya ini dari sebuah lembaga survei independen yang akan menjamin kerahasiaan suara dukungan Anda,” katanya dalam sebuah ponsel genggam, “Jadi, santai saja, Bro. Semuanya aman dan terjamin,” lanjutnya meyakinkan. Continue reading “Harga Mahal Untuk Sebuah Kesungguhan”

Sri Tanjung dengan Tujuh Nada

Sita Planasari Aquadini
http://majalah.tempointeraktif.com/

Cihnane luwih, yan suganda nelikup, Hyang kala wus prapta….

Secuil doa, itu saja yang sempat didaraskan Sri Tanjung kepada dewata. Dalam simpuhnya, perempuan jelita itu menyadari hidupnya tak akan lama. Saat doa ditutup, Sida Paksa, pria yang baru menikahinya, menghunjamkan keris dengan kemarahan membabi-buta. Gending se-londing pun riuh rentak. Continue reading “Sri Tanjung dengan Tujuh Nada”

KMSWT: Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Musik

KELOMPOK MUSIK SASTRA WARUNG TEGAL (KMSWT)
Michael Gunadi Widjaja
http://hiburan.kompasiana.com/

Kaum marginal adalah mereka yang termarginalkan.Terseret sampai ke batas marginnya.Kaum marginal adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan adakalanya juga dipinggirkan.Bagi kaum marginal,hampir tiada asa bagi suara mereka.Hampir tiada asa bagi seruan memperbaiki nasib.Malahan seringkali tiada asa bagi masa depan.Kaum marginal adalah sebuah realita sosial.Mereka ada dan keberadaannya menyublim dengan tatanan kehidupan sosial kita.Karena itu,agaknya tidak berlebihan jika kaum marginal diberdayakan.Agar keberadaan mereka tidak lagi sekedar ?pelengkap penderita ? dalam tatanan masyarakat. Continue reading “KMSWT: Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Musik”

Bahasa ยป