Generasi Terbaru Novelis Kita: Antara Marrakesh, Moskow, dan Spinoza

Seno Joko Suyono, Heru Nugroho, Imron Rosyid, Bobby Gunawan
majalah.tempointeraktif.com

Perkenalkan Galih….
Ia dosen di Universitas Gadjah Mada. Dahulu tahun 1990-an tinggal di Moskow. Pernah memiliki pacar asli Rusia bernama Krasnaya. Krasnaya bekerja di Kalinin Bookstore di wilayah Kalinin Prospek. Berdua mereka dari Moskow sering ke St. Petersburg menjenguk nenek Krasnaya. Tapi, di era akhir pemerintahan Gorbachev, terjadilah tragedi itu. Suatu hari di depan pintu panti jompo sang nenek, tergeletak dua bungkusan mayat: mayat Krasnaya dan ayahnya-mereka dibunuh…. Continue reading “Generasi Terbaru Novelis Kita: Antara Marrakesh, Moskow, dan Spinoza”

Danarto, “Haji Itu Perlu Dorongan Spiritual Yang Kuat”

Wawancara ini juga dimuat dalam Majalah MataAir edisi 18 “Banyak Jalan Menuju Makkah”
http://www.gusmus.net

Siapa yang tidak kenal Danarto. Budayawan gaek dan penulis buku “Orang Jawa Naik Haji” ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Kali ini, Danarto akan mengisahkan pengalamannya berhaji serta berbagai pendapat dan ungkapannya tentang fenomena unik ibadah haji kepada anda. Continue reading “Danarto, “Haji Itu Perlu Dorongan Spiritual Yang Kuat””

Dongeng-dongeng Perempuan di Dunia Ketiga

Neneng Nurjanah
http://www.infoanda.com/Republika

Berbicara tentang nasib perempuan di dunia ketiga, ingatan kita akan terbawa pada beberapa novel Nawal El Sadawi, seorang sastrawan Mesir yang memotret nasib buram kaum perempuan di tanah airnya. Ingatan sayapun terbidik pada karya-karya Arundhati Roy, seorang sastrawan India pemenang Booker Prize 1997. Tak berbeda, diapun berujar tentang nasib perempuan dan rakyat miskin di tanah airnya. Dalam esai The Cost of Living dengan apik dia menulis tentang pembangunan waduk Narmada yang menelan ratusan ribu warga India. Continue reading “Dongeng-dongeng Perempuan di Dunia Ketiga”

Mengurai Teror Mental Putu Wijaya

Kurniawan, Ahmad Rafiq
majalah.tempointeraktif.com

PENELITI teater dari dalam dan luar negeri yang hadir dalam Mimbar Teater Indonesia di Surakarta pekan lalu umumnya sependapat bahwa drama Putu Wijaya khas dan orisinal. Menurut Michael Bodden, profesor di University of Victoria, British Columbia, Kanada, belum ada penulis naskah lain yang memiliki gaya sama atau sekadar mirip dengannya. Continue reading “Mengurai Teror Mental Putu Wijaya”

Bahasa ยป