Sardono W. Kusumo: Membumikan Kembali Tari Tradisi

Sal Murgiyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pada suatu hari di bulan Mei. France Soir, salah satu harian terkemuka di Prancis, menulis sukses dua orang pemuda Jawa. Penari Sentot dan Sardono, yang sedang berada di Paris, setengah tidak percaya membaca ocehan kritikus Jacqueline Cartier, yang tampak tidak dapat menahan dirinya untuk memuji. Hanya sesudah harian terpercaya yang bernama Le Monde dan kemudian disusul oleh harian Le Figaro meniup balon yang sama, berita itu menjadi kukuh dan merasuk menjadi semacam kebanggaan nasional”
(“Pembaharuan Tanpa Konfrontasi”, laporan utama Tempo, 23 Februari 1974) Continue reading “Sardono W. Kusumo: Membumikan Kembali Tari Tradisi”

Para Perempuan Perkasa

Y. Thendra BP
http://langit-puisi.blogspot.com/

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

(Perempuan-perempuan Perkasa, Hartoyo Andangjaya) Continue reading “Para Perempuan Perkasa”

HARI JADI JOMBANG, RIWAYATMU KINI

Dian Sukarno *

Belum satu bulan saya melakukan penelitian lanjutan atas karya tulis Melacak Jejak Mataram Kuna di Bumi Jombang, naskah ini sempat menduduki peringkat keempat dari enam besar pada ajang lomba penulisan tokoh dan peristiwa sejarah di Jawa Timur tahun 2008. Untuk tujuan itu saya menyempatkan sowan kepada pejabat kecamatan Tembelang, karena obyek penelitian saya di antaranya berada di kecamatan Tembelang. Karena Pak Camat sedang repot akhirnya diarahkan ke Pak Sekcam (Sekretaris Kecamatan) Siswanto. Continue reading “HARI JADI JOMBANG, RIWAYATMU KINI”

Jejak Asketisme Intelektual

Bandung Mawardi *
http://www.korantempo.com/

Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini. Continue reading “Jejak Asketisme Intelektual”

Bahasa ยป