SEBUAH RUMAH BAGI TUAN GRASS

Sri Pudyastuti Baumeister
Koran Tempo, 26 Juli 2009

Pemerintah Kota Labeck menghadiahkan sebuah rumah bagi Gunter Grass untuk memajang karya-karyanya. Apa saja isinya?

Rumah berlantai dua itu berdiri di antara gedung-gedung berarsitektur Renaissance yang terletak di Jalan Glokenengiesser, Labeck, Jerman. Gunter Grass Hauss, demikian namanya, bukanlah rumah sang pengarang terkenal itu, tapi tempat pameran karya-karyanya. Continue reading “SEBUAH RUMAH BAGI TUAN GRASS”

Labirin Impian

Eka Kurniawan

SUATU ketika ia berdiri di depan pondokannya yang oleh tetangga sekitar dikenal dengan nama Padepokan Ngawu-awu Langit. Ia berteriak-teriak, menjerit-jerit, marah, dan tertawa dengan ekspresi aneh. Para tetangga tak mengacuhkannya sama sekali. Itu sudah biasa bagi mereka karena ia aktor yang cukup dikenal, paling tidak bagi para tetangga. Namanya, Nuruddin Asyhadie, dan bersama beberapa seniman lain, seperti Rudi Heru Sutedja dan Ikun Eska, ia mendirikan Pabrik Tontonan, sebuah kelompok seni dan teater di Yogyakarta. Continue reading “Labirin Impian”

Obrolan mengenai Penerjemahan dari Bahasa Spanyol dan Inggris bersama Ronny Agustinus (Bagian II selesai)

: Wawancara ini diambil dari Grup Facebook Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia

(Link ke sebelumnya klik di sini)
Sasti Gotama: Ini adalah salah satu terbitan Marjin Kiri favorit saya: Pemburu Aksara, Ana Maria Shua. Saya berharap, Mas Ronny Agustinus dan Marjin Kiri akan lebih sering menerbitkan terjemahan karya penulis dunia perempuan, hehehe. Saya pernah mendengar bahwa proses penerjemahan kadang bisa menghilangkan kekhasan suatu teks. Seseorang pernah menceritakan kekesalannya kepada saya saat membaca terjemahan Seratus Tahun Kesunyian yang menghilangkan gaya parataksis Gabo. Namun, Continue reading “Obrolan mengenai Penerjemahan dari Bahasa Spanyol dan Inggris bersama Ronny Agustinus (Bagian II selesai)”

Bahasa »