Elik /dari berbagai sumber
tempointeraktif.com
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan Continue reading “Renungan Indah W.S. Rendra”
Elik /dari berbagai sumber
tempointeraktif.com
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan Continue reading “Renungan Indah W.S. Rendra”
Jafar M. Sidik
lampungpost.com
JIKA Ceko mempunyai Vaclav Havel dan Chile memiliki Pablo Neruda, Indonesia juga dihuni para pujangga yang mungkin sekaliber dengan keduanya dalam memotori bangkitnya kesadaran nasional dan mendedikasikan hidup untuk memberi jiwa pada masyarakat kering etik dan senjang nurani.
Seorang yang mungkin terbesar di antara itu adalah penyair dan dramawan besar kelahiran Solo, 7 November 1935, Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal dengan nama W.S. Rendra. Continue reading “‘In Memoriam’ W.S. Rendra”
Ibnu Rusydi
korantempo.com
Sejumlah perupa mengangkat hal perang. Mereka berangkat dari puisi.
Enam hantu prajurit berbaris. Empat hantu membawa genderang dan lainnya membawa bedil. Tak ada tubuh, hanya pakaian prajurit Jawa dengan pengaruh kolonial, seperti topi, enam pasang sepatu lars, dan panji-panji. Tetabuhan genderang terdengar dari barisan hantu itu. Continue reading “Menafsir Perang”
Sutejo
Ponorogo Pos
AL-Jahizh pernah berkata, “Barangsiapa yang ketika membeli buku tidak merasa lebih nikmat daripada saat membelanjakan hartanya untuk membeli hal-hal yang diinginkan; atau tidak melebihi ambisi para hartawan untuk membangun bangunan, maka sesungguhnya ia belum mencintai ilmu. Pembelajaannya tak akan bermanfaat hingga ia lebih mengutamakan membeli buku, seperti seorang Arab Badui yang lebih mengutamakan susu untuk kudanya daripada keluarganya. Hingga ia sangat berharap untuk memperoleh ilmu seperti halnya orang Arab tadi sangat mengharapkan kudanya.” Continue reading “BERGURU MENULIS PADA ZAKIAH DARAJAT”
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Bagaimana perkara sesungguhnya yang terjadi di seputar lahirnya kebangkitan nasional (20 Mei 1908) yang kerap dihubungkan dengan Boedi Oetomo (selanjutnya disingkat: BO), sebuah organisasi yang dibentuk beberapa pemuda Jawa yang seolah-olah mengesankan hendak mengusung semangat primordialisme? Sejauh mana pula signifikansi elan BO?semangat kebangsaan (Jawa?), ditempatkan sebagai organisasi awal yang menandai kebangkitan kebangsaan Indonesia? Bagaimana pula sastrawan Indonesia ketika itu menerjemahkan makna kebangkitan nasional? Continue reading “INSPIRASI KEBANGKITAN NASIONAL”