Maman S. Mahayana
Suatu siang di sebuah gudang di kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) Rawamangun. Seseorang telentang di antara serakan dan tumpukan buku. Asyik-masyuk. Tak peduli pada hiruk-pikuk mahasiswa, karyawan, dan sejumlah dosen. Orang itu bagai tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Buku ukuran kecil yang digenggamnya itu kemudian dilemparkan begitu saja. Segera, tangannya meraih buku jilid berikutnya; sebuah serial silat SH Mintarja, Api di Bukit Menorah. Ia tenggelam lagi. Pastilah serial silat Khoo Ping Ho yang bertumpuk dalam ikatan karet gelang, masih sabar menunggu giliran. Tak ada yang berani mengganggu. Continue reading “SELAMAT JALAN, MANG!”
