Memberi Makna pada Yang Fana

Agus Noor *
jawapos.co.id

Sepertinya, ada yang hilang dalam Euro 2008. Drama! Saya sangat setuju dengan pendapat Robert Coover bahwa ada sifat teater dalam permainan bola. Lapangan adalah panggung dan pertandingan adalah alur dramatik berdurasi 2 x 45 menit plus injury time. Setiap pertandingan menjadi menarik karena menampilkan drama dan suspense berbeda. Sifat teater itulah yang membuat sebuah pertandingan semakin menarik bila memenuhi aspek dramatik di dalamnya. Itulah, yang sampai saat tulisan ini saya buat, terasa hilang di panggung Piala Eropa kali ini. Continue reading “Memberi Makna pada Yang Fana”

Main-Main, tapi kok Serius

Arif Zulkifli
http://majalah.tempointeraktif.com/

Renny merayakan ulang tahunnya dengan mementaskan Tumirah Sang Mucikari. Sebuah naskah kritik sosial dalam teater yang digarap dengan kurang bermain-main.
Tumirah Sang Mucikari
Sutradara : Renny Djajoesman
Skenario : Seno Gumira Ajidarma
Penata Musik: Fariz R.M.
Pemain : Renny Djajoesman, Budi Setiono, Ria Probo, Andi Bersama
Produksi : Teater Yuka Continue reading “Main-Main, tapi kok Serius”

Kuburan Tak Seram Lagi bagi Landung

Saroni Asikin
http://www.suaramerdeka.com/

SEORANG lelaki yang menjalani laku pesugihan suatu malam harus menyempurnakan ritusnya dengan menggigit telinga mayat yang mati pada Selasa Kliwon (Anggara Kasih). Tapi apa lacur, segalanya hampir saja purna dilakukan andai saja tak ada anjing-anjing yang menyerbu ke arah dirinya dan mayat yang telah berhasil dibongkar dari liang lahat. Continue reading “Kuburan Tak Seram Lagi bagi Landung”

Belajar Hidup kepada Sang Begawan

‘Immemorial’ Kuntowijoyo (18-9-1943 – 22-2-2005)

Bernando J. Sujibto *
lampungpost.com

SUDAH 2 tahun lebih khazanah sastra Indonesia ditinggal salah satu putra terbaiknya, yaitu almarhum Bapak Prof. Dr. Kuntowijoyo (18 September 1943–22 Februari 2005), yang telah menyumbangkan paradigma kritis tentang sastra profetik (prophetic literature), sebuah konsep sastra transendental di tengah kegersangan spiritualitas masyarakat dewasa ini. Konsep sastra profetik sejatinya akan menjadi salah satu embrio dalam sastra Indonesia dengan jalannya sendiri. Continue reading “Belajar Hidup kepada Sang Begawan”

Bahasa ยป