KIAT UNIK MENULIS ALA MAMAN S. MAHAYANA

Sutejo
Ponorogo Pos

Tujuh tahun berkenalan dengan seseorang adalah waktu yang pendek jika jarak membentang, tetapi jadi waktu yang panjang kala hati tertali dalam hubungan guru-murid. Begitulah, barangkali hal menarik yang dapat penulis petik ketika mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi, mendorong etos untuk berbuat, dan tak jarang “memberi” pujian. Begitulah selalu. Tetapi tidak jarang, lelaki itu langsung memberikan kritik ketika ada kekurangan yang menurutnya adalah kelemahan. Continue reading “KIAT UNIK MENULIS ALA MAMAN S. MAHAYANA”

Indah Itu Segar

D. Zawawi Imron
jawapos.com

Orang Kristen memuji Tuhan dengan menyanyi. Orang Hindu Bali melakukan upacara ritual dengan menari. Orang Islam memanggil umat untuk menjalankan salat dengan berlagu (azan). Hal itu menunjukkan bahwa berbagai macam agama di dunia ini menghargai keindahan. Bahkan, karya-karya Tuhan sebagai sang Pencipta, kalau kita perhatikan akan menampakkan keindahan. Continue reading “Indah Itu Segar”

Repetisi Tabu

Agung Prihantoro*
http://www.jawapos.com/

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin membaca terjemahan The Kite Runner karya pertama Khaled Hosseini. Namun, baru menyimak paragraf pertama bab ”Satu, Desember 2001” (hlm. 13) buku edisi 2008, saya tak kuasa melanjutkan pembacaan itu. Mengapa? Continue reading “Repetisi Tabu”

Ibnu Zuhr: Dokter Terhebat dari Zaman Keemasan

Heri Ruslan
http://www.republika.co.id/

Bapak ilmu bedah eksperimental?? begitulah Ibnu Zuhr kerap dijuluki. Menurut Abdel-Halim (2005) dalam tulisannya bertajuk Contributions of Ibn Zuhr (Avenzoar) to the progress of surgery: A study and translations from his book Al-Taisir, dokter Muslim kelahiran Seville, Spanyol Islam, itu dianggap telah berjasa memperkenalkan metode eksperimental dalam ilmu bedah. Sang dokter pun tercatat sebagai dokter perintis yang memperkenalkan metode bedah manusia dan autopsi. ??Ibnu Zuhr adalah penemu prosedur bedah tracheotomy (leher),?? papar Abdel-Halim. Continue reading “Ibnu Zuhr: Dokter Terhebat dari Zaman Keemasan”

Bahasa »