Sekarang Ide Multikulturalisme lebih Diterima

Akmal Nasery Basral, Budi Darma
ruangbaca.com

BUDI DARMA selalu dikenal sebagai sosok bersahaja dan rendah hati. Ketika sedang mempersiapkan disertasi doktoralnya yang berjudul Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novels di Universitas Indiana pada 1979-1980, ia menulis novel Olenka yang menorehkan namanya dalam lanskap sastra tanah air. Jauh sebelumnya di tahun 1963 saat usianya baru 26, ia sudah menjabat Dekan Fakultas Sastra dan Seni IKIP Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya/Unesa), kampus yang juga pernah merasakan gaya kepemimpinannya sebagai rektor (1984-1988). Continue reading “Sekarang Ide Multikulturalisme lebih Diterima”

Budi Darma: Lebaran, Bius Primitif untuk Berkorban

Triyanto Triwikromo, Budi Darma
suaramerdeka.com

PROFESOR Dr Budi Darma adalah nama penting dalam kebudayaan Indonesia. Selain telah menghasilkan karya-karya utama semacam novel Olenka, Rafilus, Ny Talis, dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington, sastrawan ini juga telah mendapatkan berbagai penghargaan semacam SEA Write Award (South East Asian Write Award) (1984), Anugerah Seni Pemerintah RI (1993), dan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI (2003). Selain itu pengarang pendiam ini juga pernah mengajar di NTU Australi (Northern Territory University di Darwin), dan NTU di Singapura (Nanyang Technological University), Continue reading “Budi Darma: Lebaran, Bius Primitif untuk Berkorban”

Menggagas Estetika di Ruang Diskusi

Rahmat Sudirman
lampungpost.com

Sastra Indonesia tak bisa lepas dari “mitos” kebaruan. Namun, eksplorasi karya yang muncul pasca-1998, seiring tumbangnya Orde Baru, belum memperlihatkan mainstream yang kuat.

HARRIS Effendi Thahar dengan jelas melontarkan simpulan tersebut dalam diskusi Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 1. Namun, lontaran sastrawan Sumatera Barat itu lepas begitu saja. Puluhan sastrawan yang mengikuti diskusi membahas capaian estetik puisi di Grand Hotel, Jambi, tanggal 8 Juli lalu seperti tak menganggap simpulan Harris itu sesuatu yang penting. Continue reading “Menggagas Estetika di Ruang Diskusi”

Rute Pejalan Jauh (Bagian II)

Tafsir Jalan Daendles & Jalan Hidup

A. Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Seakan menjadi ketakutan memoria passionis manusia dalam mengimajinasikan terma ?jalan?. ?Jalan? pada era kolonialisme menjadi hantu yang amat mengerikan. Mengapa tidak? Era itu adalah masa kekejaman Daendles, era kolonial sistem kerja paksa (cultuur stelsel) pihak penjajah terhadap masyarakat Jawa (baca buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendles, 2005 ). Continue reading “Rute Pejalan Jauh (Bagian II)”

Bahasa ยป