Novel Orang-Orang Bertopeng (15)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Pagi cerah. Salman terus menyusuri jalan kampung sambil sesekali meraba saku celananya yang berisi bungkusan plastik kecil dan amplop warna merah hati. Salman takut jika bungkusan plastik itu jatuh di jalan. Misinya bisa gagal total. Salman ingat betapa susah untuk mendapatkan bungkusan plastik serupa itu yang jika diminum akan membuat si peminum mendadak jatuh cinta, mabuk kepayang, meski sebelumnya benci setengah mati. Teman-temannya sudah banyak yang membuktikannya. Kini giliran Salman ingin membuktikan sendiri. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (15)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (14)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

DELAPAN

MESKI hati Salman diliputi perasaan bahagia, tapi ia masih sering merasa cemas. Terutama jika larut malam ketika ia kesulitan memejamkan mata. Bayang-bayang gerombolan orang bertopeng kerap hadir menghantui. Begitu menakutkan. Begitu mengerikan hingga sering terbawa dalam tidur. Dalam mimpi. Entah sudah berapakali dalam tidurnya Salman berteriak-teriak seperti orang kesakitan disiksa. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (14)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (13)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

FATMA memang mendengar bunyi ketukan pintu di luar, tapi Fatma tidak menduga jika orang yang mengetuk pintu itu adalah Salman. Umi yang memberi tahu. Tapi kenapa Salman? Ada apa? Fatma bertanya-tanya dalam hati sembari menyisir rambut di depan cermin, selesai mandi. Ada berita pentingkah? Atau apa? Fatma jadi ingat kisah beberapa tahun lalu ketika ia menolak cinta Salman. Pemuda itu kemudian tak pernah lagi terlihat lagi batang hidungnya. Tapi, kini, Salman berani datang ke rumahnya. Ada apa? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (13)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (12)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Sementara Salman memasuki ruang pemeriksaan, Hasan mengerang-ngerang kesakitan setelah menenggak minuman dalam gelas. Tubuhnya berkelejotan mirip cacing dipanggang. Dari mulutnya terus mengalir cairan coklat-merah-kehitaman. Entah berapa banyak cairan yang keluar dari mulut Hasan, tubuhnya lemas tak bertenaga. Nafasnya mengerjat, satu-satu… Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (12)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (11)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Salman memang berubah. Terutama sejak dipanggil pimpinan gerombolan orang bertopeng. Hasan bisa membaca perubahan itu. Tapi Hasan tidak cukup tahu bahwa perubahan itu sebenarnya sudah berlangsung lama. Tepatnya sejak Salman melihat foto Fatma. Ya, sejak itu sebenarnya Salman mulai berubah. Caranya bicara, caranya menatap, tidak seperti dulu-dulu lagi. Hasan terlalu lugu untuk mengerti hal itu. Hasan terlalu jujur untuk curiga pada teman sendiri. Hasan berpikir Salman berubah karena panggilan pimpinan gerombolan orang bertopeng. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (11)”

Bahasa ยป