Novel Orang-Orang Bertopeng (20)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Ya, semua orang boleh bahagia. Mengumbar senyum. Mengumbar tawa. Tapi tidak dengan Fatma. Semakin mendekati hari pernikahan Fatma semakin sedih dan cemas. Larut malam Fatma sering terjaga dari tidur dengan tubuh gemetar basah keringat, menggigil ketakutan. Bahwa kini ia bersedia menerima Salman sebagai suami, adalah keterpaksaan yang tak bisa dihindari. Pernyataan cintanya pada Salman, paksaan Umi yang sampai menjatuhkan pilihan sulit; menikah dengan Salman atau pergi dari rumah adalah penjara yang mengurung Fatma. Penjara yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar penjara yang dibatasi tembok tebal atau lonjoran-lonjoran besi tua. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (20)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (19)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Begitulah, malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat diraih. Umi telah menjatuhkan vonis; Fatma harus menikah dengan Salman. Harus! Kecuali Fatma punya nyali besar pergi meninggalkan rumah. Menggagalkan semua rencana Umi. Memudarkan semua ambisi Umi. Semalam pikiran semacam itu memang sempat mengganggu Fatma. Tapi Fatma masih meragukan keberanian yang ia miliki. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (19)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (18)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Fatma menutup pintu dan masuk ke dalam rumah ketika bayangan punggung Cut Hindar lenyap di tikungan jalan. Kini, Fatma baru sadar apa yang sebenarnya terjadi menimpa dirinya. Serta merta ingatan Fatma melayang pada peristiwa beberapa waktu lalu ketika Salman berkunjung ke rumahnya. Ketika itu Salman tidak bawa korek api. Salman meminjam korek api pada dirinya. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (18)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (17)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Beberapa hari lalu Fatma sudah melayangkan sepucuk surat balasan pada Salman yang intinya menerima cinta Salman. Tapi kini tiba-tiba Fatma bingung, tidak mengerti dengan apa yang sudah ia lakukan tempo hari. Kadang Fatma merasa bodoh telah menerima cinta Salman. Saat lain Fatma tak bisa menolak cinta Salman. Tapi yang jelas akhir-akhir ini Fatma sering merasa kepalanya pusing. Berdenyut-denyut seperti disengat ribuan lebah. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (17)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (16)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Malam semakin larut. Beberapa orang pamit pulang. Tapi segera disusul oleh kedatangan beberapa orang lain lagi. Alhasil, warung Cut Hindar tak pernah sepi. Sebagai janda yang boleh dibilang masih lumayan muda, Cut Hindar memang pandai memikat pembeli. Kerling matanya yang aduhai sering membuat anak-anak muda betah tinggal di situ. Bahkan diam-diam banyak laki-laki terutama dari luar kampung yang tergila-gila dan bermaksud meminang Cut Hindar. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (16)”