Novel Orang-Orang Bertopeng (5)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

SIANG terik. Angin menerobos semak belukar. Meliuk di antara daun dan ranting. Hati-hati Fatma melangkah di jalan tanah setapak. Fatma memilih jalan ini agar bisa cepat sampai kampung Pegasing. Tapi jalan ini penuh resiko, jika tidak hati-hati Fatma bisa tergelincir masuk ke dalam jurang. Tubuhnya meluncur ke dalam jurang di sisi kiri jalan, melayang menghantam batu atau tersangkut pepohonan, nun di kedalaman jurang. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (5)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (4)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Cerita-cerita itu sudah begitu melekat di telinga warga seperti melekatnya ingatan mereka pada maut yang setiap saat bisa datang menjemput. Tapi, sekali lagi, kampung Pegasing bukanlah seperti kampung-kampung itu. Paling tidak dahulu, jauh setelah peristiwa yang menewaskan Keucik Ibrahim dan Cut Leiha yang membuat warga kampung Pegasing harus berhati-hati dalam setiap hal. Tapi agaknya sekarang ada yang mulai berubah di kampung Pegasing. Menggelihat perlahan-lahan…. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (4)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (3)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Hasan masih ingat bagaimana empat orang bertopeng tiba-tiba keluar dari balik semak belukar menyergap dirinya dan Salman. Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Begitu singkat. Bahkan ia nyaris kehilangan kesadaran setelah sebuah benda keras menghantam kepalanya. Tahu-tahu ia sudah berada dalam mobil yang kemudian melesat cepat. Tangannya diikat. Matanya ditutup kain hitam. Ia tak berkutik. Ia hanya mendengar gelak tawa orang-orang bertopeng itu. Juga asap rokok dan bau alkohol yang menyentak hidung. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (3)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (2)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Lorong panjang yang mereka lewati mirip lorong tikus; sempit, pengap, kotor, berkelok-kelok. Tembok tebal yang membatasi sisi kiri dan kanan lorong — sebagian semennya mengelupas, penuh corat-coret pilox menulis: nama orang, nama hewan, dan gambar-gambar mesum, jorok. Darah segar terpercik di tembok membentuk semacam lukisan abstrak. Tulang, entah tulang apa, seperti tulang manusia dan pecahan botol berserakan di lorong yang jika terinjak kaki akan menimbulkan suara gemeretak mirip tumpukan kayu terbakar. Lorong apakah ini? Lorong kematian? Ihh, Hasan ngeri jika ingat satu kata itu. Hasan belum ingin mati. Hasan masih ingin hidup. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (2)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (1)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

SATU

MALAM dingin. Kersik angin, ranting patah, daun gugur, tetes embun, menimbulkan irama lain di malam pekat itu. Mengalun merdu. Sesekali meliuk-liuk, menukik-nukik bagai belati terlempar di udara subuh tertimpa cahaya lampu. Lalu sunyi. Sunyi itu mengalirkan kenangan masa lalu. Satu persatu peristiwa kemudian saling berdesakan di kelopak mata seperti ingin minta dibaca dan dikenang kembali. Tapi masih adakah waktu untuk mengenangnya lagi? Adakah sebuah tempat yang nyaman untuk sekadar berbagi rasa kepada seorang sahabat, saudara, anak atau istri sembari minum kopi di warung atau teras rumah tanpa dicurigai? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (1)”

Bahasa »