Novel Orang-Orang Bertopeng (3)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Hasan masih ingat bagaimana empat orang bertopeng tiba-tiba keluar dari balik semak belukar menyergap dirinya dan Salman. Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Begitu singkat. Bahkan ia nyaris kehilangan kesadaran setelah sebuah benda keras menghantam kepalanya. Tahu-tahu ia sudah berada dalam mobil yang kemudian melesat cepat. Tangannya diikat. Matanya ditutup kain hitam. Ia tak berkutik. Ia hanya mendengar gelak tawa orang-orang bertopeng itu. Juga asap rokok dan bau alkohol yang menyentak hidung.

“Ayo, makan!” teriak seseorang menyodorkan bungkusan plastik. Lagi-lagi Hasan kaget, menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. Perutnya sejak tadi memang sudah berkerucuk, melilit-lilit lapar minta diisi. Tapi entah kenapa mendadak ia malas membuka bungkusan itu. Ada keengganan manakala ia ingat Fatma dan Ibu di rumah.

“Kenapa kau, Hasan? Sakit?” Salman setengah berbisik ketika orang-orang bertopeng itu satu persatu berlalu meninggalkan ruangan.

Hasan menggeleng. “Lon hana teuenle’. Aku sudah tidak tahan. Kapan kita bisa pulang? Ibu pasti sedih. Aku mengkawatirkan keadaan Ibu. Hampir setiap malam Ibu batuk-batuk. Kasihan…..” Nyaris tanpa tekanan. Diletakkan lagi bungkusan nasi itu di atas meja.

“Bersabarlah, San. Aku juga sudah muak berada di sini. Nanti aku akan memohon supaya kita dibebaskan. Kalau perlu merengek-rengek. Tak apalah…” Salman menggeleng-gelengkan kepala seperti tak percaya dengan kejadian yang menimpa dirinya. “Aku tak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini. Sungguh nasib buruk. Sial!”

“Kamu kenal mereka?”

“Tidak. Tapi sedikit-sedikit aku tahu cerita tentang mereka. Teuku Malik dan Haji Ahmad pernah menceritakan kelakuan orang-orang bertopeng itu padaku. Konon mereka kejam suka membunuh orang. Bukankah kamu juga pernah mendengarnya, Hasan?”

“Ya, aku pernah dengar dari Ibu. Tapi tidak banyak. Kamu tahu sendiri, hampir separo umurku kuhabiskan di rantau, baru enam bulan ini aku pulang. Dulu, ketika masih kecil, kupikir cerita Keucik Ibrahim yang diseret sepanjang jalan kampung lalu digantung di bawah pohon beringin pojok desa dan Cut Leiha yang diperkosa beramai-ramai di pinggir hutan, hanya isapan jempol belaka. Hanya untuk menakut-nakuti agar aku tidak suka keluar malam. Ternyata tidak. Kini aku benar-benar mengalami sendiri. Tapi bukankah selama ini kampung kita aman-aman saja, Salman? Kenapa jadi begini?”

“Entahlah, San, aku juga bingung….”

“Apakah nanti kita juga akan disiksa? Kaipoh mate? Dibunuh?” Hasan gemetar, suaranya serak. Sesuatu entah apa seperti menyekat tenggorokannya.

Lama Salman tak menjawab pertanyaan Hasan. Sorot matanya mendadak berubah redup. Sayu. “Tidak.” Menggeleng pelan. “Aku akan berusaha agar kita bisa dibebaskan.”

“Harus Salman. Kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kita juga tidak pernah kenal dengan mereka….”

“Lon pike awak nyan ka salah drop. Kukira mereka salah tangkap.”

“Ya, salah tangkap. Kamu harus jelaskan semua ini pada mereka.”

“Nanti akan aku jelaskan. Mudah-mudahan mereka percaya.”

“Kita ini orang kecil, tak mungkin berbuat macam-macam.”

“Yach….” Salman menghela nafas berat.” Tapi sudahlah, sebaiknya kita makan dulu. Nanti orang-orang itu keburu datang kemari. Mampus kita.”

Hasan mengangguk. Membuka bungkusan plastik yang sedari tadi hanya dipandanginya saja.

“Aku minta maaf sudah membuat kamu susah,” ucap Salman disela-sela makannya.

“Sudahlah, Man, semua sudah terjadi. Yang penting sekarang bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Aku kasihan sama Ibu di rumah. Tentu dia bingung mencariku.”

“Hmm… Aku curiga jangan-jangan ini ada hubungannya dengan rapat yang diadakan di rumah Teuku Malik.”

“Apa maksudmu?”

“Tadi kita baru saja mau berangkat ke sana. Tapi tiba-tiba di tengah jalan orang-orang bertopeng menyergap kita.”

Hasan menghentikan kunyahannya. Jidatnya berkerut. Kedua alisnya membentuk satu garis lurus. “Ya. Mungkin, mungkin,” katanya sesaat kemudian. “Orang-orang bertopeng tadi sempat menanyaiku seputar rapat yang diadakan di rumah Teuku Malik. Tapi aku tidak menjawab karena aku memang tidak tahu apa-apa tentang rapat itu. Mereka juga tanya apakah aku kenal dengan Teuku Malik. Tentu saja kujawab tidak. Kamu sendiri apa kenal dekat dengan Teuku Malik?”

Entah apa yang sedang dipikirkan Salman, agaknya ia kurang menangkap pertanyaan Hasan. “Apa?”

“Kamu kenal dekat dengan Teuku Malik?”

“Kenal, tapi belum lama. Baru sekitar dua minggu.”

“Pat? Di mana?”

“Di pasar Dayah Boureuh. Teuku Malik punya kios buku di sana. Kebanyakan buku-buku agama. Kebetulan aku sedang mencari buku untuk adikku.”

“Teuku Malik bilang apa waktu itu?”

“Dia hanya bilang kalau akan ada rapat di rumahnya. Penting. Aku disuruh datang kesana sekalian mengajak seorang atau dua orang lagi.”

“Hanya itu?”

Salman berpikir sebentar. “Tidak. Teuku Malik juga bilang kalau rapat itu penting untuk kelangsungan hidup rakyat kecil seperti kita. Katanya, kalau mau berjuang menegakkan kebenaran, datang saja di rapat itu. Tentu saja aku mau. Makanya aku mengajak kamu.”

“Tapi aku heran, kenapa rapatnya di rumah Teuku Malik? ”

“Entahlah, San. Tapi dari cerita yang kudengar, Teuku Malik termasuk orang berpengaruh di Dayah Boreuh dan sekitarnya. Teuku Malik sering diundang ceramah di mana-mana. Pengikutnya banyak sekali terutama anak-anak muda. Padahal Teuku Malik masih muda, masih seusia kita. Tapi maklumlah dulu dia pernah kuliah di Malaysia meski tidak selesai.”

“Tentu Teuku Malik tidak sedang menjebak kita, bukan?” tanya Hasan ragu. Tatapan matanya kosong. Segumpal mendung kesedihan menggantung di wajahnya.

“Kalau melihat latar belakang Teuku Malik sepertinya tidak mungkin dia menjebak kita. Tapi hati manusia siapa yang tahu? Apalagi cerita tentang kehebatan Teuku Malik juga hanya kudengar dari orang-orang di pasar Dayah Berouh. Tapi mudah-mudahan cerita itu benar. Masak semua orang bohong.”

Hasan mengangguk-angguk lalu kembali meneruskan makannya. Malam kembali sepi. Sunyi. Sesekali terdengar kerik jangkrik di luar. Habis itu sepi lagi. Sunyi lagi. Hasan dan Salman tidak bisa memastikan mereka bisa keluar dari tempat itu. Semuanya masih serba samar-samar, sekadar menduga-duga dan berharap dengan doa. Tapi ketakutan dan kecemasan akan hari esok yang suram terus menyelubungi pikiran keduanya.

Sebenarnya selama ini kampung Pegasing di mana Hasan dan Salman tinggal termasuk kampung yang relatif aman di banding kampung-kampung lain. Tak pernah ada gejolak yang berarti meski berulangkali penduduk yang sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil bertani di sawah dan ladang merasa dirugikan oleh ulah para pengusaha dan pejabat pemerintah yang seenaknya menebang pohon hutan. Bergelondong-gelondong kayu mereka tebang setiap hari untuk dibawa ke kota. Bahkan sebagian telah mengkapling tanah tersebut sebagai milik pribadi. Hutan yang dulu hijau ranum kini mulai gundul dan sering longsor jika turun hujan deras.

Ya. Kampung Pegasing bukanlah kampung Buntul Kemumu, Bernoun, Lampret, Langsa, atau beberapa kampung lain di sekitar Dayah Boureuh yang selama ini rawan konfik. Bukan. Karenanya bukan cerita aneh jika seseorang dari kampung-kampung tersebut tiba-tiba lenyap selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu. Tahu-tahu sudah menjadi mayat membujur kaku di sungai atau jurang. Bukan pula cerita mengejutkan jika suatu malam, ketika semua orang lelap tertidur tiba-tiba terdengar letusan senjata bertubi-tubi di udara dan suara gemeretak rumah terbakar.

(bersambung)

***

2 Replies to “Novel Orang-Orang Bertopeng (3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *