S. Jai
Radar Surabaya, 24 Okt 2010
SETELAH sembilan tahun berlalu, Trisna mengutarakan rasa rindunya yang mendalam pada orang-orang yang pernah dia cintai dan mencintai dirinya. Hal itu diungkapkan pada istrinya di suatu pagi yang cerah, di emperan rumahnya yang hanya terhalang pohon sirsak dari pandang mentari.
“Semalam terbawa dalam mimpi. Aku berjumpa dengan bapak, nenek dan kakek. Aku rindu betul dengan mereka,” ucapnya tanpa mengubah arah pandangnya pada matahari pagi. Continue reading “NURJANAH”
