Ketika Obor Menyala

Liestyo Ambarwati Khohar

Cemloteh ringan tawa anak-anak mengiringi tarian Api diatas obor-obor yang baru saja dinyalakan. Sementara di sudut dan lekuk tiap kampung, gema tabkir terus saja menggema membentuk ritme merasuki jiwa siapa saja pendengarnya.

Lebaran selalu seja melahirkan suasana melankolis dan romantis terhadap Tuhan ataupun kita sesama manusia seperti tahun-tahun sebelumnya aku melewati lebaran di rumah induk. Rumah dimana aku dilahirkan, dibesarkan. Serta ditumbuh dewasakan. Continue reading “Ketika Obor Menyala”

Kalap

Akhmad Fatoni
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Konon katanya, menurut cerita yang saya dengar sejak kecil. Kalap itu sejenis makhluk halus yang tinggal di air. Entah di sungai, di laut atau pun di danau. Bisa juga disebut sebagai makhluk halus yang menunggu tempat itu. Sehingga tempat itu dikeramatkan, bila berada di tempat itu harus berhati-hati dan tidak boleh berucap kotor. Bila tidak, maka akan hilang dan tak kembali. Continue reading “Kalap”

Perjalanan Sakral

Muhammad Al-Mubassyir
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Sayup-sayup angin dingin menelusup masuk ke ruang kalbuku, tapi kubiarkan saja, toh kedinginan itu terasa hangat bagiku. Biarlah mulutku sampai kaku sekali pun, nanti kekakuan itu akan berubah menjadi irama indah yang menghiasi perjalananku. Dan juga kubiarkan tanganku berkeringat darah dan nanah demi mengepal butiran-butiran kayu kecil yang di mata banyak orang tidak memiliki nilai filosofi apa-apa. Continue reading “Perjalanan Sakral”

Menembus Batas (Sebuah Fragmen Novel)

Fathoni Mahsun
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Hari tanpa ketegangan dan beban kembali datang. Ciciricit burung-burung mengiringi mentari pagi terdengar lebih nyaring dari pagi-pagi biasanya. Udara pagi yang segar menyapa siapa saja yang menjumpainya. Nikmat, kesejukan yang disediakan oleh alam. Namun pada hari-hari sibuk, fasilitas alam tersebut tak begitu bisa dirasakan, karena orang-orang segera tenggelam dalam kerigitan hidup sejak pagi buta. Continue reading “Menembus Batas (Sebuah Fragmen Novel)”

Gegelas

Fikri. MS

“Sebenarnya apa yang kau tunggu di sini? Kuperhatikan sejak tadi kau sama sekali tak beranjak pergi hanya berdiri, duduk melipat kaki”

Lelaki itu mendekat.
“Ayolah beritahu aku mungkin ada sesuatu yang dapat kulakukan untukmu!”

Kutinggalkan ia beberapa langkah, mengganti bajuku yang kusam bau keringat, sementara ia masih diam. Continue reading “Gegelas”

Bahasa »